WARTAKOTALIVE.COM -- Analis pertahanan Connie Rahakundini Bakrie menilai konflik antara Amerika Serikat, Israel, dengan Iran bukan sekadar perang militer, tetapi benturan peradaban yang membuat konflik sulit diselesaikan cepat.
Connie juga menilai konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memiliki 'matematika perang' yang kompleks sehingga sulit diprediksi kapan akan berakhir.
Dalam wawancara di podcast akun YouTube Tutur TV, Connie menjelaskan bahwa kekuatan masing-masing pihak memiliki karakter yang berbeda sehingga menghasilkan dinamika perang yang unik.
Baca juga: Beda dengan Pemimpin Eropa Lain, PM Spanyol Pedro Sanchez Blak-blakan Lawan Trump, Tolak Perang Iran
Menurutnya, Iran memiliki kombinasi kekuatan berupa jumlah rudal yang besar serta jaringan proksi regional yang luas.
Sementara Amerika Serikat memiliki dominasi teknologi global, logistik militer, serta kekuatan laut dan udara yang sangat kuat.
Adapun Israel, kata Connie, mengandalkan keunggulan teknologi militer, intelijen, dan kekuatan udara yang sangat efektif.
“Kalau kita ukur, Amerika mungkin punya peluang menang dalam jangka pendek. Tetapi menghadapi Iran itu tidak mudah,” ujarnya.
Iran Disebut Bukan Sekadar Negara, Tapi Peradaban
Connie menekankan bahwa Iran memiliki karakter yang berbeda dibanding negara lain di Timur Tengah.
Ia menyebut Iran sebagai sebuah peradaban yang telah bertahan ribuan tahun, sehingga memiliki ketahanan nasional yang sangat kuat.
Iran, kata dia, pernah menghadapi berbagai kekuatan besar dalam sejarah, mulai dari invasi Yunani, Romawi, hingga konflik modern.
Namun negara tersebut tetap bertahan.
“Ini bukan sekadar negara. Iran adalah sebuah peradaban yang sudah hidup ribuan tahun. Itu membentuk mental tahan banting pada rakyatnya,” katanya.
Menurut Connie, karakter inilah yang membuat Iran sulit ditaklukkan meskipun mengalami tekanan militer, sanksi ekonomi, hingga embargo berkepanjangan.
Perang Dua Peradaban Besar
Dalam pandangan Connie, konflik yang terjadi saat ini juga merupakan benturan dua peradaban besar.
Ia menyebut Iran dan Israel sama-sama memiliki sejarah panjang dan identitas peradaban kuat.
Israel sendiri, menurutnya, merupakan contoh unik dalam sejarah dunia karena mampu membangun kembali negara setelah diaspora bangsa Yahudi selama hampir dua milenium.
“Dua peradaban besar ini sedang berhadapan. Itu sebabnya konflik ini sangat kompleks,” ujarnya.
Baca juga: Perang Timur Tengah: 8 Tentara AS dan 1.255 Warga Iran Tewas, Mojtaba Jadi Pemimpin Tertinggi Baru
Rusia dan China Dinilai Tidak Akan Diam
Connie juga menilai negara besar seperti Rusia dan China kemungkinan tidak benar-benar diam dalam konflik ini, meskipun tidak menunjukkan keterlibatan secara terbuka.
Menurutnya, kedua negara tersebut cenderung mengambil langkah strategis secara senyap.
Ia bahkan menilai konflik ini berpotensi mempercepat perubahan tatanan dunia dari sistem unipolar menuju multipolar.
“Perang ini bisa mempercepat lahirnya dunia multipolar,” kata Connie.
Indonesia Diminta Tetap Pegang Politik Bebas Aktif
Dalam kesempatan itu, Connie juga menyoroti posisi Indonesia di tengah konflik global.
Ia mengingatkan pentingnya mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang pernah digagas Soekarno melalui semangat Konferensi Asia Afrika.
Menurut Connie, Indonesia sebaiknya berhati-hati agar tidak terseret dalam konflik geopolitik antara kekuatan besar.
“Indonesia harus mengukur kekuatan sendiri dan tetap menjaga kemandirian kebijakan luar negeri,” ujarnya.