Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya menemukan bahan baku terbarukan sebagai sumber energi, untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak impor. Salah satu yang diteliti yaitu nyamplung (), buah yang berbentuk mirip kelengkeng.
Buah nyamplung kurang begitu populer, tetapi termasuk biomassa hutan yang dinilai dapat menjadi sumber bahan bakar nabati (biofuel). Spesies asli Indonesia ini juga disebut sebagai sumber bioenergi terpendam yang ada di hutan.
Maka dari itu, BRIN meneliti berbagai aspek yang mendukung produktivitas pohon nyamplung. Aspek-aspek yang dimaksud meliputi, pembibitan, teknik silvikultur intensif, dan pemuliaan pohon.
Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan benih, meningkatkan produksi minyak, dan mengembakan teknologi pengolahan minyak mentah menjadi biofuel agar dapat memenuhi standar teknis dan ekonomi sebagai alternatif BBM.
"Minyak Nyamplung atau minyak mentah Tamanu (TCO) memiliki potensi besar untuk diolah menjadi biofuel atau bahan bakar ramah lingkungan seperti biokerosin, biodiesel, dan bioavtur/bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF)," ujar Budi Leksono, peneliti di Pusat Penelitian Botani Terapan BRIN, dikutip dari laman resmi BRIN, Selasa (10/3/2026).
Limbahnya Bernilai Ekonomis
BRIN menegaskan, langkah ini bukan untuk mengeksploitasi hasil hutan, tapi lebih tepatnya memanfaatkan biomassa yang ada dengan menggunakan sains. Selain bermanfaat sebagai bahan baku biofuel, buah nyamplung memiliki nilai tambah karena pohonnya berbuah sepanjang tahun dan limbah industrinya dapat diolah kembali.
Limbah berupa kulit buah, bungkil biji, resin/gum, gliseril, dan lainnya, memiliki nilai ekonomis karena dapat diolah menjadi arang aktif, pelet berkalor tinggi, pakan ternak berprotein tinggi, obat herbal, kosmetik, sabun herbal dan masih banyak lagi. BRIN juga mengupayakan hasil dari penelitian ini dapat diaplikasikan pada bidang industri.
"Teknologi konversi biomassa telah dipelajari secara ekstensif dan terbukti layak secara teknis. Tantangannya adalah bagaimana mempercepat proses hilir dan memastikan dukungan kebijakan yang konsisten," jelasnya.
Solusi Bahan Bakar Hijau dalam Negeri
Selain melimpah, Budi juga menyampaikan kelebihan lain dari penggunaan sumberdaya lokal ini seperti nilai ekonomi, menekan emisi gas karbon dengan beralih ke bahan bakar hijau. Riset ini juga sebagai langkah awal untuk menuju ketahanan energi nasional berbasis energi hayati.
Sebagai negara dengan bentang luas hutan tropis, Indonesia berpotensi memiliki cadangan energi terbarukan dalam jumlah besar. Budi mengatakan, kita tidak akan kekurangan bahan baku hayati jika mampu memanfaatkan energi biomassa dari hutan seperti nyamplung.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan biomassa hutan menjadi biofuel, adalah inovasi riset yang dilakukan BRIN di bidang energi baru dan terbarukan. Upaya BRIN dalam proses ini dilakukan hingga ke akar-akarnya untuk menciptakan bahan bakar ekonomis dan ramah lingkungan.
Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar biofuel dari hasil hutan dapat menjadi peta jalan energi di Indonesia. BRIN berupaya melahirkan solusi energi berkelanjutan dengan memanfaatkan keunggulan biologis dalam negeri, lewat kolaborasi dengan berbagai pihak terkait.
"Kemandirian energi adalah hal yang realistis dan tak terelakkan. Kita memiliki sumber daya dan kapasitas ilmiah yang memadai. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dalam penelitian, inovasi, dan sinergi kebijakan. Hal ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk sekali lagi menjadi produsen atau pengekspor minyak, jika di masa lalu merupakan pengekspor bahan bakar fosil, maka di masa depan akan dalam bentuk biofuel," simpul Budi.







