BANGKAPOS.COM -- Warga Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Miswar Maturusi hilang kontak usai tak bisa dihubungi keluarga yang berlayar menggunakan Kapal Musaffah 2.
Keluarga pun berharap nasib Miswar Maturusi ditemukan dalam kondisi selamat.
Diketahui, kapal tugboat Musaffah 2 berbendera Persatuan Emirat Arab (PEA) meledak dan tenggelam di Selat Hormuz pada Kamis (6/3/2026).
Kapal ini tenggelam di antara perairan PEA dan Oman pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat.
Kapal itu milik perusahaan Abu Dhabi Port.
Baca juga: Sosok Miswar Maturusi, Kapten Kapal Musaffah 2 Hilang Kontak di Selat Hormuz, Pesan Centang Biru
Dilaporkan ada sejumlah awak Warga Negara Indonesia (WNI) di kapal itu.
Salah satu di antaranya adalah Miswar Maturusi, kapten kapal asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Miswar Maturusi, kapten kapal Musaffah 2, dilaporkan hilang kontak setelah insiden ledakan di Selat Hormuz.
Ia berangkat berlayar sejak 18 Februari 2026 dan sempat memberi tahu keluarga bahwa perjalanan menuju lokasi kerja diperkirakan memakan waktu sekitar satu hari.
Selama ini, Miswar bertugas di wilayah pelabuhan Abu Dhabi, khususnya memandu kapal-kapal besar yang masuk ke pelabuhan. Namun, pelayaran kali ini berbeda.
“Perjalanan menuju Selat Hormuz kali ini diduga menjadi pelayaran yang cukup jauh, karena biasanya sebagian besar pekerjaannya dilakukan di area pelabuhan,” jelas Sumarlin.
Tangkapan layar video pemantauan lalu lintas pelayaran pada Senin (2/3/2026) menunjukkan jalur yang dilalui kapal Musaffah 2.
Sejak saat itu, kontak dengan Miswar tidak lagi tersambung, menimbulkan kekhawatiran keluarga dan rekan kerjanya.
Komunikasi terakhir dengan keluarga terjadi pada Rabu (4/3/2026), ketika Miswar masih sempat berbicara dengan istrinya.
“Terakhir kali beliau sempat berbicara dengan istrinya pada hari Rabu. Beliau menyampaikan bahwa akan melakukan perjalanan menuju lokasi kerjanya,” kata Sumarlin kepada Kompas.com, Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: Percakapan Terakhir Kapten Miswar, Pelaut Sulsel Hilang di Selat Hormuz, Lihat Sesuatu di Kapal
Pada Kamis (5/3/2026) siang, sekitar pukul 13.00 Wita, korban masih sempat membuka pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan.
Pesan tersebut hanya terbaca dengan tanda “centang biru” tanpa balasan.
“Pesan dari anaknya sempat dibaca, tapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar dari beliau,” imbuhnya.
Sejak saat itu, keluarga tidak lagi menerima kabar hingga muncul informasi bahwa kapal yang dinakhodainya mengalami insiden.
Keluarga berharap pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di luar negeri dapat membantu proses pencarian dan memberikan informasi yang jelas.
“Kami berharap pihak kedutaan bisa membantu menemukan korban dan memberikan informasi yang jelas kepada keluarga,” ujar Sumarlin.
Ia menambahkan, pencarian sebaiknya segera dipercepat agar keluarga mendapat kepastian.
“Kami berharap pencarian bisa segera dipercepat,” katanya.
Meski demikian, keluarga mengaku siap menerima apa pun hasil dari proses pencarian tersebut.
“Walaupun harapan terbesar kami tentu beliau bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” ujar Sumarlin.
Saat ini keluarga di kampung halaman hanya bisa menunggu kabar sambil terus berupaya mencari informasi terbaru.
“Langkah yang kami lakukan sekarang hanya mencari informasi dan menunggu kabar,” kata dia.
Kapal Musaffah 2 mengalami ledakan hingga terbakar dan tenggelam di Selat Hormuz pada Kamis (6/3/2026) pukul 02.00 dini hari waktu setempat, antara perairan PEA dan Oman.
Detik-detik insiden ini pertama kali diterima keluarga pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 10.00 Wita melalui telepon dari Kapten Ismail, rekan korban.
“Informasi awal yang kami terima, kapal yang dinakhodai beliau terkena ranjau laut,” ujar Sumarlin, kerabat Miswar, kapten kapal Musaffah 2.
Baca juga: Jadwal Lengkap WFA ASN Sebelum dan Sesudah Lebaran 2026
Namun, hingga kini keluarga masih menerima berbagai versi informasi mengenai tujuan pelayaran kapal, apakah menuju pelabuhan Abu Dhabi untuk evakuasi atau untuk diperbaiki.
Dalam pelayaran itu, Musaffah 2 berangkat lebih dulu diikuti Musaffah 1.
Kapten Ismail menyebut kapal kedua menghentikan perjalanan setelah hilangnya kontak dengan Musaffah 2.
Sebelum insiden, korban sempat melaporkan gangguan GPS dan meminta bantuan panduan terkait objek yang terlihat di jalur pelayaran.
Musaffah 2 berawak total 7 personel berkewarganegaraan Indonesia, India, dan Filipina.
Dari 4 WNI di kapal, 1 selamat dan tengah menjalani perawatan luka bakar di Rumah Sakit Kota Khasab, Oman, sedangkan 3 WNI lainnya masih dalam proses pencarian oleh otoritas setempat.
Satu WNI lain berada di kapal berbeda dan dalam kondisi selamat.
Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan otoritas PEA, Oman, dan perusahaan Safeen Prestige.
Kementerian Luar Negeri mendorong investigasi menyeluruh serta meminta seluruh WNI di Timur Tengah, khususnya awak kapal, meningkatkan kewaspadaan dan menjaga komunikasi dengan perwakilan RI.
“Kami memastikan proses pencarian 3 awak WNI yang hilang, perawatan 1 WNI selamat, dan menyampaikan perkembangan penanganan kepada pihak keluarga di Indonesia. Kami juga mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden ini,” kata Heni.
Keluarga korban menunggu kepastian resmi dari pihak perusahaan dan pemerintah, sementara informasi yang diterima sebagian masih melalui komunikasi lisan dengan Kapten Ismail yang menjadi perantara.
Lantas seperti apa sosok Miswar Maturusi yang kini masih hilang kontak?
Miswar Maturusi dikenal sebagai sosok kepala keluarga yang menjadi tulang punggung keluarganya.
Baca juga: Kalah di Sidang Gugatan, KIP Perintahkan UGM Buka 20 Dokumen Akademik Jokowi
Pribadi pekerja keras ini telah lama mengabdikan diri di dunia pelayaran, sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap pendidikan anggota keluarga besar.
“Beliau adalah kepala keluarga dengan satu orang istri dan dua orang anak. Selain menafkahi keluarganya, beliau juga membantu menyekolahkan anak-anak dari sepupu dan keponakannya,” ujar Sumarlin Ahmad (21), kerabat Miswar.
Kepedulian Miswar membuatnya menjadi figur yang sangat dihormati.
Ia tak hanya menanggung kebutuhan keluarga inti, tetapi juga kerap membantu pendidikan sepupu dan keponakan.
Istri Miswar bernama Marliani Ahmad, sedangkan kedua anaknya adalah Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.
Anak pertamanya telah mengikuti jejak pengabdian kepada negara sebagai anggota kepolisian di Polda Sulawesi Selatan sejak tahun lalu.
(Tribun-timur.com/Kompas.com/Tribunnews.com/Bangkapos.com)