Reaksi Rocky Gerung Skakmat Pernyataan Menkeu Purbaya Kenaikan Harga Minyak Dunia Belum Mengganggu
pairat March 11, 2026 12:27 PM

 

SRIPOKU.COM - Lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menembus 113 dolar AS per barel memicu perdebatan antara pengamat dan pemerintah mengenai dampaknya terhadap ekonomi nasional.

Pengamat politik Rocky Gerung menilai pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut kenaikan harga minyak belum mengganggu aktivitas ekonomi dalam negeri sebagai bentuk optimisme yang berlebihan.

Ia mengingatkan pemerintah agar lebih jujur kepada publik dalam menyampaikan potensi risiko ekonomi di tengah gejolak energi global akibat ketegangan di Selat Hormuz.

"Tapi itu kan optimisme yang palsu," kata Rocky Gerung dikutip dari akun Youtube Rocky Gerung Official, Selasa (10/3/2026).

Akademisi Rocky Gerung memberikan keterangan saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (4/8/2023). Kini Rocky Gerung kritik tajam soal pernyataan Menkeu Purbaya.
Akademisi Rocky Gerung memberikan keterangan saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (4/8/2023). Kini Rocky Gerung kritik tajam soal pernyataan Menkeu Purbaya. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Baca juga: Sindiran Menkeu Purbaya, Blacklist Alumni LPDP yang Sebut Tak Mau Anaknya Jadi WNI: Pasti Menyesal

Ia mengingatkan bahwa data mikro belum tentu baik meskipun data makro terlihat bagus.

"Tapi kalau mikronya bagus pasti makronya bagus. Kan begitu cara membaca statistik kaitan makro-mikro di dalam upaya melihat daya tahan ekonomi kita," katanya.

Ia lalu menyinggung berbagai pernyataan yang disampaikan sejumlah menteri. Hal itu terkait kepercayaan publik terhadap pemerintah.

"Kita ingin meletakkan ini supaya ada kejujuran dari menteri-menteri yang kadang kala berbohong pada presiden, kadang kala hanya ingin ya asal Prabowo senang itu APS itu," ujar Rocky Gerung.

Rocky Gerung pun mengakui sulitnya mengetahui apakah kabinet saat ini bekerja secara profesional atau berisi 'pasukan pencari nafkah' yang datang dari kebiasaan partai politik.

Menurut Rocky, kesempatan untuk melihat kepercayaan publik tumbuh masih terlihat susah. 

Terlebih, kata Rocky, Presiden Prabowo Subianto saat ini masih ditekan terkait keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump yang salah arah.
 
"Sebetulnya dari awal yang harusnya sekarang direvisi justru karena Indonesia tidak mampu untuk ikut dalam dalam konsep perdamaian dunia karena eskalasi di Timur Tengah itu sudah beyond the call of Indonesia military duty itu melampaui semua hal yang bisa dibebankan pada penugasan TNI," ujar Rocky Gerung.

Rocky Gerung pun meminta Presiden Prabowo Subianto berbicara ke publik untuk menerangkan persoalan yang dialami Indonesia saat ini.

"Terutama secara politik mulai terlihat kasa kusuk di kalangan elite untuk mengambil keuntungan dari potensi krisis ini," katanya.

Selain itu, Rocky juga mengingatkan Prabowo mengenai potensi krisis serta kesulitan ekonomi akibat faktor global. "Karena memang dari awal Indonesia menampung segala macam ketidakberesaan sejak 10 tahun yang lalu. 

Belum Ganggu Aktivitas Ekonomi 

Sementara itu, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, harga minyak mentah dunia yang sempat menembus 113 dolar Amerika Serikat (AS) per barel belum memberi efek terhadap aktivitas ekonomi di dalam negeri.

"Saya belum melihat gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri gara-gara harga (minyak) yang naik tinggi, tapi kan baru sebentar," ucapnya setelah meninjau aktivitas di pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Purbaya pun meminta semua pihak untuk tidak buru-buru menyimpulkan bahwa harga minyak akan terus tinggi hingga memengaruhi tingkat harga di dalam negeri.

"Jadi teman-teman yang lain jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkan harga (minyak) akan 100 (dolar AS) terus. Bahkan ada yang bilang menuju 150 (dolar AS) dan kita anggarannya akan enggak kuat. Tapi hitungan kita akan assess terus dari waktu ke waktu," tutur Purbaya.

Sebagai informasi, krisis di Selat Hormuz telah memicu gejolak pasar energi global. 

Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga minyak mentah Brent melesat 23 persen menjadi 114,36 dollar AS per barel. 

Ini merupakan lonjakan harian terbesar sejak setidaknya tahun 1988. 

Sementara itu, minyak mentah AS juga ikut melonjak 27 persen ke level 115,11 dollar AS per barel.

Lonjakan ekstrem ini terjadi setelah pada pekan sebelumnya Brent sudah mencatatkan kenaikan sekitar 28 persen.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.