TRIBUNMATARAMAN.COM, BLITAR - Semarah (59), terlihat sibuk membungkus kerupuk di rumah kontrakannya di Desa Bangle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, Rabu (11/3/2026) pagi.
Ibu empat anak ini sedang menyiapkan barang dagangan sebelum berangkat berjualan kerupuk keliling menggunakan sepeda kayuh.
"Biasanya, saya berangkat jualan di atas pukul 10.00 WIB. Kalau pagi menyiapkan dagangan dulu. Saya goreng kerupuk sendiri," kata Semarah.
Semarah merupakan nenek penjual kerupuk keliling yang sempat viral tertipu uang mainan Rp 200.000 dari pembeli.
Semarah menceritakan, peristiwa itu terjadi di pinggir jalan Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar pada Sabtu (7/3/2026) setelah magrib.
Ketika itu, nenek enam cucu ini, sambil berjualan keliling, hendak kulakan kerupuk sermier di Desa Bangsri.
Desa Bangsri terkenal sebagai sentral produksi kerupuk sermier di Kabupaten Blitar.
Di tengah perjalanan menuju ke pedagang kerupuk sermier, hujan turun. Semarah berteduh di Poskamling pinggir jalan Desa Bangsri.
"Saya berteduh di pos dekat warung makan ingkung di Desa Bangsri. Ketika itu, habis magrib. Saya mau kulakan kerupuk sermier," ujar Semarah.
Baca juga: Jelang Lebaran, Polres Kediri Ingatkan Waspada Uang Palsu di Titik Penukaran Uang
Setelah hujan agak reda, Semarah hendak melanjutkan perjalanan pulang. Ia menunda belanja kerupuk sermier karena cuaca hujan.
Ketika hendak beranjak meninggalkan Poskamling, datang seorang pembeli.
Seorang perempuan dengan anaknya masih kecil naik sepeda motor membeli dua kerupuk blombong dan jajanan habis Rp 20.000.
Setelah mengambil barang, perempuan ini menyodorkan uang mainan Rp 100.000 untuk membayar belanjanya kepada Semarah.
Karena kondisi gelap dan cuaca masih grimis, Semarah tidak mengecek uang dari perempuan itu.
Ia langsung memasukkan uang Rp 100.000 dari pembeli dan mengambilkan uang kembalian Rp 80.000 untuk diserahkan ke pembeli.
Setelah menerima uang kembalian, perempuan pembeli ini tukar uang Rp 100.000 kepada Semarah.
Uang pecahan Rp 100.000 yang ditukarkan uang pecahan itu juga uang mainan.
Lagi-lagi, tanpa curiga, Semarah menukar uang Rp 100.000 dari perempuan itu dengan uang pecahan Rp 10.000 dan Rp 20.000 miliknya.
"Saya tidak curiga sama sekali. Saya juga tidak cek uangnya, karena gelap dan cuaca gerimis," katanya.
Semarah baru sadar uang Rp 200.000 yang diterima dari pembeli itu uang mainan ketika hendak belanja beras dan telur di toko.
Dalam perjalanan pulang itu, Semarah mampir ke toko kelontong di wilayah Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Ia hendak membeli beras 1 kilogram dan telur 0,5 kilogram di toko tersebut.
Semarah membayar barang belanjanya menggunakan uang Rp 100.000 yang diterima dari pembelinya tersebut.
Semarah kaget ketika pemilik toko menolak pembayaran uang Rp 100.000 darinya.
"Uang ini ditolak sama pemilik toko. Katanya, uangnya tidak laku, uang mainan. Pemilik toko sempat menunjukkan uang itu ke anaknya dan anaknya juga bilang itu uang mainan," ujarnya.
Semarah bilang ke pemilik toko, uang Rp 100.000 itu juga uang yang ia terima dari seorang pembeli.
Semarah juga sempat bingung tidak bisa jualan lagi karena dagangannya habis tapi hanya dapat uang mainan.
"Saya bingung, jualan dagangan habis, tapi dapat uang mainan. Waktu itu, uang saya tinggal Rp 35.000. Tapi, saat di jalan ada orang beli, dapat uang lagi untuk kulakan sermier," katanya.
Semarah berjualan kerupuk keliling menggunakan sepeda sudah bertahun-tahun.
Ia menaruh barang dagangannya di atas obrok di bagian belakang sepeda. Sebagian dagangan, ditaruh di setir sepeda.
Ketika berjualan keliling, Semarah tidak menaiki sepedanya, tapi jalan sambil mendorong sepedanya.
Padahal, jarak tempuh Semarah berjualan keliling lumayan jauh. Semarah jualan keliling juga sampai dini hari.
Biasanya, ia berangkat berjualan di atas pukul 10.00 WIB dan pulang ke rumah rata-rata pukul 03.00 WIB.
"Sepedanya saya dorong sambil jalan. Tidak saya naiki. Saya pulang jualan rata-rata pukul 03.00 WIB. Kelilingnya lumayan jauh," katanya.
Rute jualan keliling Semarah ke arah selatan sampai Kecamatan Kademangan. Sedang ke arah utara sampai Kecamatan Nglegok.
Kalau ke arah timur, ia pernah berjualan keliling sampai Desa Mronjo, Kecamatan Selorejo. Ke arah barat, ia biasa berjualan keliling di wilayah Kota Blitar.
Semarah sebenarnya memiliki empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan.
Dua anak perempuannya sudah menikah tinggal di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.
Sedang satu anak laki-lakinya sudah lama kerja di Australia, tapi tidak pernah pulang.
Satu anak laki-lakinya lagi tinggal bersama Semarah di rumah kontrakan di Desa Bangle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.
Anak laki-laki yang tinggal bersamanya kerja di tempat pemotongan ayam.
Semarah sendiri secara kependudukan masih tercatat sebagai warga Jl Pamungkur, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.
Ia tinggal di Desa Bangle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, sudah hampir tiga tahun ini.
"Sebenarnya di rumah ini saya tidak ngontrak. Ini rumahnya kosong, pemiliknya meninggal, terus saya disuruh menempati. Saya cuma disuruh bayar listrik dan membersihkan rumah," ujarnya.
(Samsul Hadi/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik