Nabilla Zahara Rancang Sulam Usus Lampung Jadi Produk yang Lebih Modern dan Fashionable
Robertus Didik Budiawan Cahyono March 11, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Seorang wanita tampak fokus menyulam pola sulam usus karyanya untuk dijadikan kerah baju, Rabu (11/3/2026) di Galeri Sulam Usus Nabilla, Natar, Lampung Selatan.

Wanita itu adalah Nabilla Zahara (28). Dia memutuskan untuk meneruskan usaha sulam usus yang dirintis ibundanya sejak 2005. 

Ketertarikan Nabilla pada dunia busana membuatnya yakin untuk melanjutkan bisnis tersebut setelah menyelesaikan pendidikan di bidang Teknik Busana di salah satu Universitas di Yogyakarta.

Nabilla mengaku sejak kecil sudah tertarik di bidang fashion dan kerajinan tangan. Ia bahkan menempuh pendidikan di SMK jurusan Tata Busana sebelum melanjutkan kuliah.

“Memang dari awal saya suka membuat kerajinan tangan. Jadi setelah lulus kuliah pada 2019, saya pulang dan langsung melanjutkan usaha orang tua,” ujar Nabilla Rabu (11/3/2026).

Sejak Nabilla mengambil alih usaha pada 2019, dirinya dan sang ibu memutuskan untuk lebih fokus pada sulam usus. 

“Dahulu waktu masih dikelola oleh ibu semuanya ada, namun saat saya pegang kita fokus ke sulam usus. Nantinya kalau orang cari sulam usus langsung ingat Nabilla,” ujarnya.

Keputusan itu diambil karena masih sedikit pelaku usaha yang benar-benar spesialis di bidang tersebut di Lampung.

“Kami ingin sulam usus ini tetap diminati semua umur dan bisa dipakai untuk berbagai kesempatan,” kata Nabilla.

Menurutnya sulam usus sekarang sudah dibuat menjadi produk yang lebih fashionable seperti jaket, tanktop, rok, tas, dress hingga gaun pengantin.

Dalam menjalankan usahanya, Nabilla tidak sendiri. Ia masih bekerja bersama sang ibu yang hingga kini aktif membantu proses desain. 

Keduanya bersama-sama merancang berbagai produk berbasis sulam usus yang diproduksi di galeri mereka.

Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari cardigan, kebaya, jaket, tas, jilbab, hingga berbagai aksesori seperti tempat tisu, bantal kursi dan masih banyak lainnya.

Bahkan, mereka juga membuat perlengkapan adat Lampung untuk pengantin. Salah satu produk yang paling diminati pelanggan adalah cardigan sulam usus yang biasnya digunakan untuk acara formal atau ke pesta adat.

Menurut Nabilla, model tersebut menjadi produk terlaris setiap tahun karena fleksibel digunakan dalam berbagai acara.

“Cardigan masih jadi best seller kami. Bisa dipakai ke pesta, rapat kantor, bahkan untuk kegiatan santai seperti ke mall,” katanya.

Selain itu, Nabilla juga memiliki brand khusus yang ia bedakan dari Nabilla Sulam Usus yaitu bernama Sulam Studio yang fokus pada pembuatan gaun pengantin dan busana eksklusif berbasis sulam usus.

Nabilla menceritakan bahwa proses pembuatan sulam usus membutuhkan waktu yang tidak singkat karena dikerjakan secara manual oleh para pengrajin. 

Untuk produk kecil seperti aksesori biasa pengerjaan bisa selesai dalam beberapa hari. Namun untuk satu busana, waktu pengerjaan standar bisa mencapai satu bulan.

“Untuk satu baju biasanya dikerjakan oleh sekitar enam pengrajin. Kalau dikebut bisa dua minggu, tapi biasanya sekitar satu bulan,” jelasnya.

Harga produk yang ditawarkan juga bervariasi. Produk paling murah berupa kopiah bayi dibanderol sekitar Rp.100 ribu. 

Sementara untuk pakaian dimulai dari Rp.1,5 juta. Cardigan dijual sekitar Rp.2,5 juta, kebaya sekitar Rp.4 juta, sedangkan gaun pengantin bisa mencapai lebih dari Rp.10 juta.

Meski memiliki pasar tersendiri, Nabilla mengakui bahwa menjual produk sulam usus memiliki tantangan tersendiri. 

Salah satu yang paling terasa adalah masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai kerajinan tersebut.

“Bahkan orang Lampung sendiri masih banyak yang belum tahu sulam usus. Jadi kami harus mengedukasi dulu kenapa produk handmade ini harganya lebih tinggi,” katanya.

Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi kendala dalam proses produksi. 

Saat ini sebagian besar pengrajin sulam usus merupakan ibu rumah tangga yang sudah berumur, sementara minat generasi muda untuk menjadi pengrajin masih rendah.

“Anak muda sekarang jarang yang tertarik menyulam. Padahal pasarnya masih ada. Itu juga jadi tantangan bagi kami,” ujarnya.

Untuk memperluas pasar, Nabilla memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok sebagai sarana promosi. 

Melalui platform tersebut, produk mereka telah menjangkau pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga luar negeri seperti Singapura.

Dalam satu bulan, produk terlaris berupa cardigan dapat terjual sekitar 15 hingga 20 potong. Dari penjualan tersebut, usaha ini mampu menghasilkan omzet sekitar Rp.50 juta hingga Rp. 70 juta per bulan.

Untuk sulam usus miliknya saat ini bisa dibeli langsung ke galeri Nabilla sulam

usus di Natar, Kabupaten Lampung Selatan atau juga bisa dibeli di Bandara Raden Intan Lampung.

Galeri sulam usus milik Nabilla buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.