Saling Gertak Trump-Larijani:Iran Ancam Balik AS Bakal Lenyap Jika Nekat Serang Target Vital Teheran
Rustam Aji March 11, 2026 05:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Kepala Dewan Keamanan Iran, Ali Larijani, mengeluarkan peringatan keras yang menyebut Amerika Serikat (AS) bisa "lenyap" jika nekat melancarkan serangan militer terhadap negaranya. 

Pernyataan ini merupakan aksi balas atas ancaman Presiden AS Donald Trump yang bersumpah akan menjatuhkan serangan "dua kali lebih keras" terhadap Teheran.

Larijani menegaskan bahwa rakyat Iran tidak gentar dengan gertakan Trump, merujuk pada keteguhan sejarah bangsa tersebut.

Tanggapan ini disampaikan dalam enam bahasa—Persia, Inggris, Rusia, Arab, Prancis, dan Mandarin—guna memastikan pesan tersebut sampai ke komunitas internasional secara luas.

"Rakyat Iran yang mencintai Ashura tidak takut akan ancaman kosongmu. Jadi waspadalah, jangan sampai kalian yang lenyap," tulis Larijani melalui media sosial X, Rabu (11/3/2026).

Ancaman 'Target yang Mustahil Dibangun Kembali'

Perseteruan ini memuncak setelah Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social pada Senin (9/3/2026).

Trump mengancam akan menyasar titik-titik vital Iran yang diklaimnya hampir mustahil untuk dibangun kembali jika Iran terus menutup Selat Hormuz bagi pelayaran global.

Baca juga: Cerita Ahmad Hukam di Jantung Teheran: Ungkap Detik-Detik Menegangkan Serangan Udara di Iran

"Kematian, api, dan amarah akan menimpa mereka (Iran)," tulis Trump, seraya menambahkan bahwa ia berharap serangan tersebut tidak perlu dilakukan.

Menanggapi hal itu, Larijani menyatakan bahwa Selat Hormuz sebenarnya dimaksudkan sebagai jalur perdamaian.

Namun, ia memperingatkan bahwa wilayah tersebut akan berubah menjadi lokasi "kekalahan dan penderitaan" bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai penghasut perang.

Selat Hormuz: Jantung Energi Dunia yang Terancam

Konflik ini menempatkan pasokan energi dunia dalam bahaya besar. Selat Hormuz merupakan titik hambat (choke point) minyak paling strategis di dunia. Berikut adalah fakta krusial mengenai jalur tersebut:

Volume Harian: Sekitar 20 juta barel minyak (termasuk 14 juta barel minyak mentah) melewati jalur ini setiap hari.

Pasokan Global: Jalur ini dilewati seperlima produksi minyak dunia dan sepertiga pasokan gas alam cair (LNG) global.

Ketergantungan Asia: Jepang mengandalkan 90 persen pasokan minyaknya dari jalur ini, disusul Korea Selatan (70 % ), dan India (50 % ).

Baca juga: Iran Blokir Total Ekspor Minyak Timur Tengah ke Sekutu AS dan Israel

Baca juga: Mencekam, Mahasiswa Banyumas di Iran Lihat Serangan Drone Hingga Internet Diputus

Posisi Iran Terkait Blokade

Larijani menegaskan kembali bahwa posisi Iran tetap tegas: Selat Hormuz akan terus ditutup selama AS dan Israel melanjutkan agresi militer mereka.

Iran memegang kendali atas jalur sempit sepanjang 33 kilometer tersebut karena letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan Semenanjung Musandam.

Situasi ini memicu kekhawatiran global akan terjadinya krisis energi yang lebih parah dibandingkan periode awal invasi Rusia ke Ukraina, mengingat ketergantungan negara-negara besar di Asia terhadap minyak dari Teluk melalui selat tersebut. (ahmad naufal/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.