Polda Sulut Buru Perekrut Warga Sulut di Kamboja, Kerjasama dengan Divisi Internasional Polri
Chintya Rantung March 11, 2026 05:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Direktorat Reserse PPA dan PPO Polda membongkar jaringan TPPO warga Sulut ke Kamboja. 

Setelah menangkap seorang wanita berinisial IAL yang diduga berperan memfasilitasi perekrutan, aparat kini memburu FP dan A. 

Keduanya diduga warga asal Sulut yang tinggal di Kamboja dan menjadi aktor utama perekrutan warga Sulut. 

Direktur Reserse PPA/PPO Polda Sulut Kombes Pol Nonie Sengkey menuturkan, pihaknya tengah melakukan pengejaran terhadap FP dan A. 

"Kami terus berkoordinasi dengan Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri untuk mengejar pelaku perekrutan utama yang berada di luar wilayah," kata dia Rabu (11/3/2026). 

Dikatakannya, berkas perkara IAL tengah dalam penelitian dan pengiriman ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). 

Diketahui, Polda Sulut bongkar jaringan pengirim tenaga kerja ilegal asal Sulut ke Kamboja. 

Seorang wanita berinisial IAL ditahan aparat Direktorat PPA/PPO Polda Sulut.

IAL diduga sebagai perekrut warga Sulut. 

Ia juga diduga kuat sebagai kepanjangan tangan dari F, pria asal Manado yang berada di Kamboja. 

F terindikasi mengotaki perekrutan tenaga kerja asal Sulut. 

Uniknya hubungan IAL dan F tak hanya sebatas kerja. 

Keduanya diduga menjalin hubungan asmara. 

Direktur Reserse PPA/PPO Polda Sulut Kombes Pol Nonie Sengkey dalam konferensi pers di Balai Wartawan Polda Sulut, Selasa (10/3/2026) menuturkan, IAL bersama CAM dan KMP diamankan aparat Polda Sulut dalam sebuah operasi tangkap tangan.

"Kami beroleh informasi masyarakat dan berhasil mengamankan ketiganya di bandara Samratulangi, beberapa waktu lalu," ujar dia. 

Dikatakannya, tiga orang ini akan berangkat dari Bandara Samratulangi ke Medan. 

Daerah tujuannya adalah Poypet Kamboja. 

"Disana mereka akan menjadi admin judi online, modusnya mereka diberi fasilitas gratis, ujung ujungnya ini akan jadi hutang," kata dia. 

Dari pemeriksaan yang dilakukan, beber dia, IAL punya peran sebagai perpanjangan tangan pihak di Kamboja untuk merekrut tenaga kerja dari Sulut. 

Korbannya adalah CAM dan KMP. 

"Ia ternyata sudah dua kali ke Kamboja, dia kami tahan karena berperan dalam perekrutan," katanya. 

Dari IAL, pihaknya menyita babuk berupa ponsel, uang pecahan dolar AS dan dolar singapura serta ringgit. 

Disita pula paspor dan lima kartu provider. 

"Lima kartu ini diduga dipakai untuk merekrut calon pekerja," kata dia. 

Penyelidikan yang digelar kemudian mengungkap peran F. 

Ia adalah pria asal Manado yang sudah lama tinggal di Kamboja. 

Dia diduga merekrut IAL. 

"Modusnya adalah dibentuk tim tim, dimana mereka dipaksa untuk mencari sebanyak mungkin pekerja dari wilayah Sulut," katanya. 

Dia menuturkan, faktor ekonomi menjadi data tarik bagi warga Sulut untuk bekerja di Kamboja. 

Ia meminta warga untuk tidak mudah diiming imingi tawaran kerja dengan gaji menggiurkan di Kamboja. 

"Sudah banyak contoh kasus dimana kenyataan berbeda dengan apa yang dijanjikan," katanya. (Art) 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.