Tribunlampung.co.id, Amerika Serikat - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump murka terhadap Israel lantaran mereka menyerang kilang minyak milik Iran.
Trump secara terang-terangan meminta Israel untuk menyetop serangan udara ke fasilitas energi dan kilang minyak milik Iran.
Langkah ini diambil Washington setelah jet tempur Israel membombardir sekitar 30 depot bahan bakar di Iran akhir pekan lalu.
Skala serangan tersebut kabarnya membuat pejabat Gedung Putih melongo dan melontarkan reaksi keras.
"Presiden tidak suka serangan ke fasilitas minyak. Beliau ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya," ujar seorang penasihat senior Trump, sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com yang melansir laporan Axios, Rabu (11/3/2026).
Baca juga: Serangan AS-Israel ke Depot Minyak Iran Bisa Picu Lonjakan Harga hingga 200 Dolar per Barel
Ada alasan kuat di balik "teguran" Trump ini.
Selain faktor kemanusiaan karena dampak asap hitam yang menyelimuti warga sipil di Teheran, Trump sangat khawatir serangan ini akan memicu efek domino pada ekonomi global.
Jika kilang minyak Iran terus dihantam, harga minyak dunia diprediksi bisa meroket hingga US$200 per barel — sesuatu yang sangat dihindari Trump demi menjaga stabilitas harga BBM di dalam negerinya.
Bagi Trump, menghancurkan infrastruktur energi Iran adalah "opsi kiamat" yang harus disimpan rapat-rapat.
Tak hanya itu, Trump juga khawatir bila gempuran Israel dapat memicu serangan balasan besar-besaran dari Iran terhadap infrastruktur energi di seluruh negara-negara Teluk.
Menariknya, di balik ketegasan ini, Trump dikabarkan memiliki agenda jangka panjang.
Ia disebut-sebut ingin merangkul sektor minyak Iran setelah konflik mereda, mirip dengan strateginya terhadap Venezuela.
Trump lebih memilih untuk menguasai atau bekerja sama dengan sumber daya energi tersebut daripada membiarkannya hancur menjadi abu.
Komunitas intelijen AS kini resmi meningkatkan status kewaspadaan menyusul adanya potensi serangan balasan dari Teheran.
Berdasarkan laporan terbaru CNN, FBI dan sejumlah lembaga keamanan nasional telah mengeluarkan peringatan rahasia kepada perusahaan-perusahaan besar serta instansi pemerintah di AS.
Mereka diminta untuk segera memperkuat sistem pertahanan, terutama dari ancaman serangan siber yang diprediksi akan menyasar sektor-sektor krusial.
Bukan tanpa alasan, intelijen AS mencium adanya pergerakan masif dari kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran.
Sektor layanan keuangan dan infrastruktur energi nasional disebut-sebut menjadi target utama.
"Seruan untuk melakukan serangan siber terhadap entitas AS terus meningkat."
"Hal ini berpotensi memicu aktivitas berbahaya yang menargetkan sistem perbankan dan jaringan energi kita," bunyi kutipan buletin keamanan tersebut.
Selain ancaman di dunia maya, pihak berwenang juga mewaspadai aksi ekstremisme di lapangan.
Munculnya berbagai fatwa dan retorika keras dari pemerintah Iran di media sosial dianggap sebagai pemicu semangat bagi para simpatisan rezim untuk melakukan aksi balas dendam di tanah Amerika.
Meski hingga saat ini belum ditemukan ancaman fisik yang spesifik, FBI tetap mengambil langkah preventif dengan menetapkan status waspada tinggi di seluruh penjuru negeri.
"Kami tidak mau kecolongan. Fokus saat ini adalah mengamankan perbatasan dan memastikan infrastruktur vital pemerintah tidak bisa ditembus oleh aktor siber Iran yang dikenal canggih," ujar seorang sumber penegak hukum.