Prabowo Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Kesulitan Dampak Konflik Timur Tengah, CELIOS: Cuma Retorika
Tiara Shelavie March 11, 2026 07:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Peneliti ekonomi, politik, dan kebijakan publik CELIOS Gusti Raganata menanggapi pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta masyarakat Indonesia untuk bersiap menghadapi situasi sulit dampak konflik di Timur Tengah.

Sebelumnya, Prabowo telah menyampaikan peringatan, bahwa kondisi dunia tengah mengalami guncangan akibat perang di Timur Tengah, khususnya setelah Amerika Serikat (AS)-Israel mulai melancarkan operasi militer skala besar ke Iran Sabtu (28/2/2026) lalu.

Hal ini disampaikan Prabowo dalam pidato saat meresmikan 218 jembatan di seluruh Indonesia secara daring (dalam jaringan/online) pada Senin (9/3/2026).

Prabowo lantas menyatakan bahwa pemerintah harus berterus terang, bahwa masyarakat Indonesia harus bersiap menghadapi kesulitan di tengah kondisi global yang memanas ini.

Meskipun demikian, Prabowo masih merasa optimis rakyat Indonesia dapat menghadapi kesulitan tersebut, dan bersyukur Indonesia memiliki kekuatan yang besar.

"Kita harus berani mengatasi kesulitan. Kita tidak menutupi kesulitan. Kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan. Akibat perang di Timur Tengah, kita harus siap menghadapi kesulitan," kata Prabowo, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.

"Tapi, sekali lagi kita bersyukur bahwa sebenarnya bangsa Indonesia punya kekuatan. Kita punya kekuatan yang besar."

"Saya juga harus jujur kepada seluruh rakyat dan saya juga akan memberi suatu taklimat kepada seluruh bangsa Indonesia dalam waktu dekat."

Tak Jauh dari Hanya Sekadar Retorika

Gusti Raganata menilai, pernyataan Prabowo yang meminta masyarakat untuk bersiap menghadapi kesulitan buntut konflik di Timur Tengah (Asia Barat) hanyalah retorika.

Baca juga: Prabowo Minta Warga Bersiap Hadapi Kesulitan Dampak Konflik Timur Tengah, Ini Kata Bakom RI

Retorika sendiri merupakan cara berbicara atau keterampilan berbahasa dengan menyusun kata-kata sehingga timbul kesan yang diinginkan pada diri publik sekaligus meyakinkan orang.

"Saya kira apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo kemarin itu tidak jauh hanya sekedar retorika," kata Gusti dalam program Breaking News KompasTV, Rabu (11/3/2026).

Menurut Gusti, masyarakat membutuhkan kejelasan dari pemerintah, mengenai langkah mitigasi maupun solusi dari potensi dampak yang timbul akibat konflik AS-Israel vs Iran, bukan sekadar retorika dari seorang pemimpin.

Terlebih, Selat Hormuz yang vital lantaran dilalui sekitar 20-30 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari kini terancam ditutup imbas konflik tersebut.

Jika Selat Hormuz ditutup, maka salah satu dampak terbesar adalah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

"Karena yang kita butuhkan sebagai masyarakat adalah kejelasan sebetulnya bahwa pemerintah itu memiliki jalan keluar atau memitigasi atas apa yang terjadi di Iran saat ini," tutur Gusti.

"Selat Hormuz utamanya, bagaimana jika terjadi kelangkaan BBM dan sebagainya?"

Lantas, Gusti menyinggung langkah-langkah yang sudah dilakukan negara tetangga guna mengantisipasi potensi terjadinya kelangkaan BBM akibat perang AS-Israel vs Iran.

Misalnya, Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong yang sudah mengumumkan antisipasi dari pihak pemerintah.

Atau negara tetangga lain seperti Thailand, Filipina, dan Vietnam yang sudah mengimbau penerapan work from home (WFH) bagi para pegawai negeri maupun swasta, serta imbauan untuk school from home atau pembelajaran dari rumah.

Sementara, pemerintah RI yang masih belum mengumumkan langkah antisipasi dan mitigasinya, disarankan Gusti untuk meniru tindakan yang sudah dilakukan negeri jiran sebagai tindakan antisipasi jangka pendek.

"Bahkan Singapura dari minggu lalu pemerintahnya, Perdana Menteri, sudah menyampaikan tindakan-tindakan yang akan diambil, dan langkah lebih konkret diambil oleh negara-negara tetangga kita sendiri seperti Thailand, Filipina, Vietnam yang sudah menerapkan WFH bagi para pegawai negeri dan juga menghimbau para swasta untuk WFH juga seperti itu, dan school from home, bersekolah dari rumah," jelas Gusti.

"Nah, kedua tindakan ini adalah langkah yang bisa diambil dalam jangka pendek gitu untuk mengatasi masalah kelangkaan BBM yang mungkin akan terjadi."

"Kita tahu, yang disampaikan oleh Menteri ESDM, kita hanya memiliki cadangan minyak hanya 20 hari."

Menurut Gusti, terkait kondisi global saat ini, baru pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal cadangan minyak 20 hari yang terdengar dari pemerintah.

Ia melanjutkan, belum ada langkah konkret untuk mitigasi atas potensi krisis akibat konflik Timur Tengah ke depannya, selain pernyataan bersifat retorika dari Prabowo.

"Nah, itu saja yang terakhir, teknis yang kita dengar tentang kemungkinan rencana yang akan dilakukan, pemerintah hanya mengetahui 20 hari, lalu bagaimana ke depannya kan belum ada lagi, selain retorika yang disampaikan Presiden Prabowo itu," pungkas Gusti.

(Tribunnews.com/Rizki A.)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.