Kembali Ke Firah
Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
TRIBUNJAKARTA.COM - Kenapa sering disebut Hari Raya Idul Fitri kembali ke fitrah? Sebetulnya tidak salah juga karena pasca Ramadan, seusai melakukan berbagai amaliah Ramadan.
Tuhan akan membersihkan diri seseorang dari berbagai dosa yang telah dilakukan di masa lampau.
Pada saatnya Dia mengembalikannya ke sebuah dunia baru, yang tak lain adalah dunia fithri yang pernah dilewati manusia di masa kecilnya.
Dalam kamus Lisan ‘Arab, kamus bahasa Arab terlengkap (15 jilid), fitrah (fithrah) berasal dari akar kata fathara–fathran, yang berarti membelah, merobek, tumbuh, dan berbuka.
Dari akar kata yang sama lahir kata fithrah, yang berarti sifat pembawaan sejak lahir, seperti dalam ayat: Fithrah Allah al-ladzi fathara al-nasa ‘alaiha (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu).
Sebagaimana dijelaskan dalam ayat:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum/30:30).
Kata Idul Fitri (‘id al-fithr) berarti kembali berbuka setelah sebulan penuh berpuasa di siang hari bulan Ramadan.
Bisa juga berarti ‘id al-fithrah, kembali ke sifat bawaan kita sejak lahir, yaitu bersih dan suci, setelah sebulan penuh ditempa berbagai amalan Ramadan.
Dari pengertian ini dipahami bahwa yang bisa kembali ke fitrah ialah mereka yang telah melakukan berbagai macam upaya pembersihan dan penyucian diri melalui amaliah Ramadan, seperti puasa, zakat, qiyamullail, i’tikaf, dan berbagai amal sosial seperti sedekah, silaturahim, memberi buka puasa, dan lain sebagainya.
Idul Fitri bisa dimaknai sebagai kita mudik ke kampung halaman biologis kita. Kita kembali makan dan minum serta berhubungan suami istri.
Kita juga mudik ke kampung halaman tempat kelahiran kita, tempat di mana orang tua kita dimakamkan, tempat di mana kita pernah belajar pertama kali mengaji dan mengenal huruf, lalu kemudian kita merantau ke kota.
Sedangkan Idul Fitrah bisa dimaknai sebagai kita kembali ke jati diri kita yang paling orisinal dan genuine.
Kita kembali kepada keluhuran hati nurani, kembali ke dalam suasana batin yang paling luhur dan lurus.
Setelah sebulan penuh kita detraining secara spiritual, maka sekarang kita memiliki energi spiritual baru.
Semoga energi baru ini mampu memproteksi kita terhadap berbagai godaan iblis, seperti kembali mengoleksi dosa-dosa lama, kembali ringan tangan, dan bermulut tajam.
Kita berharap selama sebulan penuh melakukan amaliah Ramadan akan menimbulkan dampak positif pada orang-orang terdekat kita.
Bagaimana pembantu, sopir, tukang kebun, satpam, dan karyawan kita merasakan perubahan di dalam diri kita.
Misalnya mereka merasakan bahwa tuan dan nyonyanya tidak lagi gampang marah, tidak lagi pelit, tidak lagi ringan tangan, tidak lagi kasar, serta tidak lagi sombong dan angkuh.
Tetangga juga merasakan adanya perubahan drastis seusai Ramadan.
Demikian pula suasana batin di kantor muncul perubahan yang signifikan pasca Ramadan.
Inilah sesungguhnya yang dinamakan Ramadan Mubarak dan Ramadan Mabrur.
Dalam pandangan tasawuf, fitrah berarti kembali ke jati diri yang paling asli.
Jika seseorang betul-betul bersih dan penyucian dirinya diterima oleh Allah Swt., maka yang bersangkutan bisa membuka berbagai tabir yang selama ini menghijab dirinya berupa dosa dan maksiat.
Ia akan mengalami penyingkapan (mukasyafah).
Dengan demikian ia mempunyai kemampuan untuk mengakses alam gaib, minimal alam barzakh, yaitu perbatasan antara alam syahadah dan alam gaib.
Orang yang diberi kesadaran mukasyafah bisa merasakan kedekatan diri dengan Tuhan dan para sahabat Tuhan seperti Nabi Muhammad dan para salihin lainnya.
Ia akan memiliki sahabat-sahabat spiritual sejati sehingga ia tidak pernah merasa kesepian. Ia selalu hangat dengan cinta Tuhan.
Semoga tahun ini kita betul-betul diberi kesadaran dan keinsafan penuh sehingga kita bisa mencicipi mukasyafah.
Semoga kita tidak jatuh lagi di lumpur dosa dan maksiat.
Baca juga: Pesan Ramadan dari Nasaruddin Umar: Hakikat Silaturahim dalam Kehidupan Umat
Baca juga: Pesan Ramadan Menag Nasaruddin Umar: Kedermawanan sebagai Manifestasi Iman
Baca juga: Pesan Menag Nasaruddin Umar yang Menyentuh Hati: Tersedu-sedu Mengingat Tuhan