TRIBUNNEWS.COM, ARAB SAUDI - Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, memperingatkan bahwa kesabaran negaranya dalam menghadapi eskalasi serangan Iran “tidak tak terbatas.”
Ia menegaskan bahwa Kerajaan tetap membuka kemungkinan untuk mengambil tindakan militer apabila situasi terus memburuk.
Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan darurat para menteri luar negeri negara-negara Arab dan Islam di Riyadh, Kamis (19/3/2026) seperti dilansir dari Arabnews.
Dalam keterangannya kepada media, Faisal menyebut Arab Saudi dan mitra-mitranya memiliki kapasitas yang memadai untuk merespons ancaman yang ada.
“Kesabaran yang kami tunjukkan tidaklah tanpa batas. Bisa satu hari, dua hari, atau satu minggu—saya tidak akan mengatakan,” ujarnya.
Dalam pernyataan yang tergolong paling tegas sejak konflik meningkat, Faisal menegaskan bahwa Arab Saudi “mempertahankan hak untuk mengambil tindakan militer jika dianggap perlu.”
Ia juga mengingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dari Iran akan membawa konsekuensi politik dan moral yang serius.
Baca juga: Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri Hari Jumat, Ini Negara Lainnya yang Sambut Lebaran 20 Maret 2026
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa kepercayaan yang sempat terbangun kembali antara Riyadh dan Teheran setelah pemulihan hubungan diplomatik pada 2023 kini telah hancur sepenuhnya.
Menurutnya, serangan lanjutan berpotensi menghilangkan sisa hubungan yang masih ada.
Dalam pertemuan tersebut, para menteri luar negeri dari sejumlah negara—termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, Mesir, Yordania, Suriah, Turki, Pakistan, Azerbaijan, dan Lebanon—mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan Iran untuk segera menghentikan serangan.
Mereka menegaskan bahwa masa depan hubungan dengan Teheran sangat bergantung pada penghormatan terhadap kedaulatan negara dan prinsip non-intervensi.
Serangan terhadap infrastruktur sipil seperti fasilitas energi, bandara, kawasan permukiman, dan fasilitas diplomatik dinilai tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Para menteri juga menegaskan hak negara-negara yang terdampak untuk membela diri sesuai dengan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta mendesak Iran untuk mematuhi hukum internasional dan menahan diri dari eskalasi lebih lanjut.
Sejak 28 Februari, Iran dilaporkan meluncurkan gelombang serangan berupa rudal dan drone yang menargetkan Arab Saudi serta negara-negara Teluk lainnya, termasuk Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Teheran menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap target di dalam wilayah Iran.
Ketegangan meningkat pada Rabu (18/3) setelah Iran menuduh Israel menyerang fasilitas di ladang gas South Pars dan menyatakan akan menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Pada hari yang sama, otoritas di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab melaporkan adanya serangan terhadap fasilitas minyak dan gas.
Di Riyadh, sistem pertahanan udara Saudi dilaporkan berhasil mencegat empat rudal balistik yang mengarah ke ibu kota.
Puing-puing dari rudal yang dicegat jatuh di sekitar kilang minyak di selatan kota, sementara warga melaporkan suara ledakan serta menerima peringatan darurat.
Menurut pejabat pertahanan Saudi, sejak awal eskalasi, sistem pertahanan udara telah mencegat sedikitnya 457 drone, 40 rudal balistik, dan tujuh rudal jelajah. Uni Emirat Arab disebut menghadapi volume serangan yang lebih tinggi, sementara negara-negara Teluk lainnya juga turut terdampak.
Faisal menilai serangan tersebut telah “dipersiapkan sebelumnya” dan menuduh Iran melakukan tindakan permusuhan secara terencana, baik secara langsung maupun melalui kelompok proksi di kawasan.
Ia juga mengonfirmasi bahwa dua kilang minyak Saudi menjadi sasaran serangan, membantah klaim sebelumnya dari pihak Iran yang menyebut serangan hanya menargetkan aset Amerika Serikat.
Selain itu, Arab Saudi dan negara-negara mitra menyuarakan kekhawatiran terhadap ancaman terhadap jalur pelayaran internasional, khususnya di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, yang merupakan dua jalur strategis perdagangan global.
Iran juga dituduh mendukung kelompok Houthi di Yaman dan Hezbollah di Lebanon, yang dinilai turut memperburuk situasi keamanan regional.
Di Lebanon, serangan Israel sejak awal Maret—yang dipicu oleh konflik dengan Hezbollah—dilaporkan menewaskan ratusan orang dan menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi.
Meski demikian, Faisal menegaskan bahwa Arab Saudi tetap mengutamakan penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut berpotensi menutup peluang bagi deeskalasi konflik.