Simon Tahamata Ungkap Masalah Utama Sepakbola Indonesia: Kurang Kompetisi Usia Dini
Hasiolan Eko P Gultom March 19, 2026 07:57 PM

Simon Tahamata Ungkap Masalah Utama Sepakbola Indonesia: Kurang Kompetisi Usia Dini
 
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Pemandu Bakat (Scouting) PSSI, Simon Tahamata, menyoroti pentingnya pembinaan usia dini dalam perkembangan sepakbola Indonesia.

Menurutnya, fondasi sepakbola nasional harus dimulai sejak usia anak-anak dengan sistem yang terstruktur, termasuk kompetisi yang berkelanjutan.

Baca juga: Mees Hilger Tak Penuhi Panggilan Timnas, Simon Tahamata: Jangan Setengah-setengah Bela Indonesia

Simon mengungkapkan bahwa dirinya telah melihat langsung potensi pemain muda Indonesia, khususnya di kelompok usia 9 hingga 10 tahun.

Ia menilai talenta muda di Tanah Air sangat menjanjikan dan menjadi harapan bagi masa depan sepakbola Indonesia.

“Saya sudah melihat anak-anak usia 9 hingga 10 tahun. Itu sangat penting untuk masa depan bangsa Indonesia. Dasar pembinaan usia dini adalah hal yang paling penting,” ujar Simon saat ditemui di Kawasan GBK, Senayan, Jakarta pada Senin lalu.

Simon juga mengaku telah melakukan pemantauan di sejumlah daerah, seperti Papua, serta wilayah lain seperti Tulehu, Ambon yang dikenal sebagai lumbung talenta sepak bola.

“Di Papua banyak pemain bagus. Di Tulehu, Ambon, juga banyak talenta. Bukan karena saya orang Ambon, tetapi memang di sana banyak pemain berbakat,” kata eks pemain Ajax tersebut.

Namun demikian, Simon menilai potensi tersebut belum didukung dengan sistem kompetisi yang memadai.

Ia menyayangkan masih minimnya kompetisi terstruktur bagi pemain usia dini di Indonesia.

“Yang disayangkan, di sana belum ada kompetisi yang terstruktur. Mereka hanya bermain, berlatih tanpa kompetisi. Itu sangat disayangkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Simon menegaskan bahwa dirinya datang ke Indonesia bukan sekadar untuk menjalankan tugas, melainkan membawa misi besar dalam membangun sepak bola nasional, khususnya di sektor pembinaan pemain muda.

“Saya sering mendengar ‘selamat datang di Indonesia’, tetapi saya datang bukan hanya sekadar berkunjung. Saya punya tujuan untuk Indonesia,” ujar pria berusia 69 tahun tersebut,

Ia pun mendorong agar pembinaan usia dini dimulai lebih awal, bahkan sejak usia 7 hingga 8 tahun, sebagaimana yang telah diterapkan di negara-negara maju seperti Belanda.

“Menurut saya, kompetisi usia dini sebaiknya dimulai sejak usia 7 atau 8 tahun. Klub-klub harus mulai membangun itu. Di Belanda, anak di bawah usia 8 tahun saja sudah memiliki kompetisi,” pungkasnya.

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.