Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Upaya pemantauan hilal untuk menentukan awal 1 Syawal 1447 Hijriah di Provinsi Bengkulu berakhir tanpa hasil.
Dari lokasi rukyatul hilal di Pantai Pasir Putih, Kamis (19/3/2026), tim pengamat menyatakan hilal tidak terlihat karena tertutup awan tebal yang menyelimuti ufuk barat saat matahari terbenam.
Sejak sore hari, sejumlah petugas dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Bengkulu bersama instansi terkait telah bersiap di lokasi dengan peralatan teleskop dan alat bantu pengamatan lainnya. Namun kondisi cuaca menjadi kendala utama dalam proses rukyat kali ini.
Pengamatan Dimulai Sejak Sore Hari
Kegiatan hisab rukyat di Pantai Pasir Putih dimulai sekitar pukul 17.00 WIB. Langit sempat terlihat cerah, sehingga tim optimistis dapat melakukan pengamatan sesuai jadwal.
Hilal diperkirakan mulai dapat diamati sekitar pukul 18.22 WIB, beberapa menit setelah matahari terbenam.
Seluruh alat pengamatan diarahkan ke ufuk barat untuk menangkap kemungkinan munculnya bulan sabit muda sebagai penanda awal Syawal.
Namun menjelang waktu pengamatan, awan tebal mulai menutupi horizon sehingga visibilitas semakin terbatas.
Tim Menunggu 11 Menit, Hilal Tetap Tak Muncul
Meski kondisi langit tertutup awan, tim pemantau tidak langsung menghentikan pengamatan. Petugas masih menunggu selama sekitar 11 menit dengan harapan awan akan bergeser dan memberikan celah pengamatan.
Suasana di lokasi tampak hening dan penuh harap. Beberapa petugas terus memantau perubahan langit melalui teleskop dan alat optik lainnya.
Sayangnya, hingga waktu tunggu berakhir, awan tebal tetap menutupi ufuk barat dan tidak memberikan kesempatan bagi hilal untuk terlihat.
Dengan kondisi tersebut, tim akhirnya menyimpulkan bahwa hilal tidak dapat diamati dari wilayah Bengkulu.
Hasil Dilaporkan ke Sidang Isbat
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, Saefudin, menyampaikan bahwa hasil rukyat ini akan dilaporkan ke pusat sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal Syawal 1447 Hijriah.
“Hasil pemantauan hilal di Bengkulu akan kami sampaikan sebagai bahan pertimbangan sidang isbat yang digelar malam ini,” ujarnya.
Sidang isbat merupakan forum resmi pemerintah yang menentukan awal bulan Hijriah berdasarkan kombinasi metode hisab dan rukyat dari berbagai wilayah di Indonesia.
Muhammadiyah Sudah Tetapkan Lebaran
Di sisi lain, organisasi Islam Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 berdasarkan metode hisab.
Penetapan tersebut berpotensi menimbulkan perbedaan waktu perayaan Idulfitri antara Muhammadiyah dan pemerintah apabila hasil sidang isbat berbeda.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama akan mengumumkan keputusan resmi setelah sidang isbat selesai dilaksanakan pada malam hari.
Imbauan Saling Menghargai
Menghadapi potensi perbedaan penetapan hari raya, Kakanwil Kemenag Bengkulu mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan.
Ia meminta umat Islam di Bengkulu saling menghormati apabila terdapat perbedaan dalam pelaksanaan Idulfitri.
Menurutnya, perbedaan penentuan awal Syawal merupakan hal yang sudah sering terjadi dan tidak seharusnya menimbulkan perpecahan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap saling menghargai meskipun nanti terdapat perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idulfitri,” katanya.