Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNTRENDS.COM, KLATEN – Kue semprongan di Desa Sidowayah, Polanharjo, Klaten, kini tergolong langka. Hanya Suharti (92) yang masih memproduksinya, terutama saat musim Lebaran.
Di sebuah dapur kecil, suara api kompor berpadu dengan bunyi cetakan besi yang dibuka-tutup.
Suharti duduk rendah di depan tungku, fokus pada setiap lembar adonan.
Tangan kirinya memegang alat, sementara tangan kanan menggulung kue yang masih panas.
Di sampingnya, kotak berisi semprongan siap jual tersusun rapi. Warna kecokelatan kue menunjukkan proses panggang tradisional yang khas.
Kue ini tidak diproduksi setiap hari. Suharti hanya membuatnya saat ada pesanan atau menjelang Lebaran.
“Kalau ada pesanan saja (buat) kalau hari biasa, bulan puasa bikin setiap hari untuk lebaran,” katanya.
Baca juga: Bupati Hamenang Apresiasi Kreativitas Anak Muda di Sahur Beat Fest Ramadive 2026
Setiap hari produksi, ia mengolah sekitar 3 kilogram adonan.
Bahan yang digunakan meliputi tepung beras, gula, santan, tepung terigu, mentega, dan vanili.
Prosesnya sederhana, namun membutuhkan ketelitian tinggi. Adonan dituangkan ke cetakan panas, lalu dipanggang hingga tipis sebelum digulung.
Yang membuatnya semakin unik, di desa tersebut hanya Suharti yang masih bisa membuat semprongan.
“Mriki tok, mboten do saged kok (sini saja yang buat, yang lain pada tidak bisa),” katanya.
Semprongan dijual Rp75 ribu per kilogram. Meski sederhana, peminatnya datang dari berbagai daerah.
Bahkan, kue ini kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke luar kota, termasuk Jakarta.
Keberadaan semprongan di Sidowayah kini bukan sekadar camilan, tetapi juga jejak tradisi yang nyaris hilang. (*)