Ekonomi dan Nafsu: Ramadhan Mengoreksi Mazhab Ekonomi Barat
Safriadi Syahbuddin March 20, 2026 12:03 AM

Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)

Ramadhan telah sampai di penghujungnya—ia segera berlalu. Gema takbir mulai terasa di kejauhan, belum sepenuhnya bersahut-sahutan, seolah memberi isyarat bahwa fitri kian mendekat dan Ramadhan bersiap pergi.

Seperti tamu agung yang datang dalam sunyi, ia pun beranjak tanpa gaduh. Tidak ada perpisahan yang riuh—hanya kesadaran yang pelan menghujam: sesuatu yang tak tergantikan sedang meninggalkan kita.

Namun sebelum benar-benar pergi, Ramadhan meninggalkan pelajaran yang sunyi namun mengguncang: manusia tidak hanya hidup dari dorongan untuk memiliki, tetapi dari kemampuan untuk menahan diri.

Puasa bukan sekadar menunda makan; ia adalah disiplin batin—latihan diam untuk menundukkan self-interest (kepentingan diri) yang selama ini dianggap sebagai mesin utama perilaku manusia.

Di titik ini, fondasi ekonomi modern mulai bergetar. Sejak Adam Smith menulis The Wealth of Nations, dunia menaruh iman pada pasar: bahwa self-interest, melalui invisible hand (tangan tak terlihat), akan bertransformasi menjadi kesejahteraan kolektif.

Mazhab neoklasik memformalkannya—nilai lahir dari preferensi subjektif dan scarcity (kelangkaan), manusia direduksi menjadi homo economicus (manusia rasional ekonomi) yang tak pernah berhenti memaksimalkan utility (kepuasan).

Keynes meragukan pasar, Marx menggugat struktur means of production (alat produksi), namun keduanya tetap bertolak dari asumsi yang sama: manusia adalah agen ekonomi yang rasional. 

Dan di sinilah Ramadhan mematahkan asumsi itu—tanpa debat, tanpa rumus. Ia tidak menolak rasionalitas, tetapi menaklukkannya.

Ia tidak menghapus keinginan, tetapi mengujinya. Karena masalah terbesar ekonomi bukan pada kelangkaan—melainkan pada nafsu yang tak pernah mengenal cukup.

Nilai Direduksi Mengikuti Nafsu

Mazhab neoklasik bertumpu pada asumsi bahwa manusia adalah homo economicus (manusia rasional ekonomi)—kalkulatif dan mengejar self-interest (kepentingan diri).

Nilai lahir dari subjective preferences (preferensi subjektif): apa yang diinginkan dan dibayar, itulah yang bernilai; pasar dianggap netral, moralitas dikeluarkan dari kurva permintaan. 

Namun di sinilah problem bermula—ketika nilai diserahkan pada selera, ekonomi kehilangan arah normatifnya.

Ia tidak lagi bertanya apa yang baik, hanya apa yang diinginkan. Islam mengoreksi secara mendasar: “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu” (QS. Al-Baqarah: 216).

Preferensi tidak selalu selaras dengan kebaikan. Jika nilai ditentukan oleh willingness to pay (kesediaan untuk membayar), pasar mudah menjadi cermin nafsu kolektif—apa pun yang laku seolah sah. Islam menolak reduksi ini. 

Manusia tidak berhenti pada homo economicus (manusia rasional ekonomi), tetapi menuju homo Islamicus (manusia berkesadaran nilai): tidak hanya menghitung, tetapi menimbang dan mempertanggungjawabkan.

Di sinilah relevansi Ramadhan—puasa melatih takwa sebagai mekanisme pengendalian diri, sehingga nilai tidak semata lahir dari permintaan, tetapi juga dari batas etika wahyu.

Tidak semua yang laku boleh diperdagangkan, tidak semua yang menguntungkan boleh dibenarkan.

Tanpa takwa, pasar menjadi mesin yang mengubah nafsu menjadi angka; dengan takwa, ia kembali menjadi ruang keseimbangan antara kepentingan dan tanggung jawab.

Rasionalitas Tanpa Takwa

Kapitalisme memuliakan self-interest (kepentingan diri), Keynesianisme mengandalkan stabilisasi kebijakan, dan Marxisme menggantungkan keadilan pada distribusi struktural—namun ketiganya bertumpu pada rasionalitas duniawi, seolah keteraturan cukup lahir dari insentif yang tepat.

Islam tidak menolak rasionalitas, tetapi mempertanyakan kecukupannya. “Dalam hati mereka ada penyakit” (QS. Al-Baqarah: 10) mengingatkan bahwa problem manusia bukan sekadar informasi atau insentif, melainkan kondisi batin.

Bahkan koruptor sangat rasional—beroperasi dengan cost-benefit calculation (perhitungan untung-rugi) dalam kerangka homo economicus (manusia rasional ekonomi)—namun yang rusak adalah hatinya. 

Baca juga: Korupsi Makin Merajalela, Bagaimana Hukum dan Sanksinya dalam Islam bagi Koruptor?

Di sinilah kegagalan mendasar teori modern: manusia diasumsikan cukup rasional, padahal juga digerakkan nafsu.

“Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu…” (QS. Shad: 26). Tanpa pengendalian, self-interest berubah menjadi kerakusan, distribusi menjadi penindasan, dan kebijakan menjadi populisme fiskal.

Karena itu Islam tidak hanya mengatur mekanisme, tetapi membentuk jiwa—sebab ekonomi bukan hanya tentang bagaimana manusia memilih, melainkan siapa manusia itu sendiri.

Struktur Tidak Menyelesaikan Nafsu

Karl Marx meyakini bahwa perubahan means of production (alat produksi) akan mengakhiri eksploitasi.

Namun sejarah menunjukkan: perubahan struktur tidak otomatis mengubah keserakahan. Sistem bisa berganti, tetapi self-interest (kepentingan diri) yang tak terkendali tetap melahirkan penindasan—hanya dengan wajah yang berbeda.

Islam melihat lebih dalam dari sekadar struktur. Persoalannya bukan hanya siapa yang memiliki, tetapi siapa yang memiliki qalb (hati) yang bersih.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh.” (HR. Bukhari-Muslim).

Mazhab Barat membenahi sistem luar. Islam membenahi pusat batin. Selama qalb tidak disucikan, teori apa pun hanya akan menjadi alat baru bagi nafsu yang lama.

Puasa: Kritik yang Hidup

Di sinilah Ramadhan berdiri sebagai kritik paling nyata terhadap mazhab-mazhab ekonomi modern. Puasa bukan teori—ia latihan.

Dalam neoklasik, manusia memaksimalkan utility (kepuasan). Dalam puasa, manusia justru menahannya.

Dalam kapitalisme, konsumsi menjadi mesin pertumbuhan. Dalam puasa, konsumsi dibatasi. “Diwajibkan atas kamu berpuasa… agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Takwa adalah mekanisme pengawasan internal—lebih dalam dari regulasi negara, lebih kuat dari insentif pasar.

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari-Muslim). Ia menundukkan nafsu yang membuat manusia tak pernah cukup.

Bahkan yang halal pun ditahan—apalagi yang haram. Di sinilah ekonomi Islam berbeda secara mendasar: ia tidak hanya mengatur transaksi, tetapi membentuk karakter economic agent (pelaku ekonomi).

Mazhab ekonomi Barat bertanya: bagaimana sistem bekerja. Islam bertanya: siapa yang menjalankan sistem itu.

Mazhab Barat berbicara tentang pertumbuhan dan efisiensi. Islam berbicara tentang keadilan, keberkahan, dan hisab.

Ramadhan tidak datang untuk mengganti kurva supply–demand (penawaran–permintaan), tetapi untuk membersihkan hati yang menggerakkan kebijakan dan modal.

Krisis terbesar kita bukan kekurangan teori, tetapi kekurangan hati yang dijaga. Selama nafsu menjadi penggerak utama, self-interest (kepentingan diri) mudah berubah menjadi kerakusan—apa pun sistemnya.

Namun ketika qalb dibersihkan, bahkan sistem yang sederhana dapat melahirkan keadilan.

Allah telah mengingatkan: “Dan sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi…” (QS. Al-Mu’minun: 71). Jika kebenaran tunduk pada nafsu, bukan hanya pasar yang rusak—tatanan pun runtuh.

Karena itu Ramadhan hadir sebagai korektor sunyi: menahan keinginan sebelum ia merusak sistem.

Kini Ramadhan berada di penghujung—datang dalam sunyi dan pergi tanpa gaduh, namun meninggalkan jejak yang seharusnya tetap hidup: kesadaran bahwa manusia tidak diciptakan untuk diperintah oleh nafsunya.

Saat ia berlalu, kita kembali pada fitrah—kejernihan hati yang menempatkan wahyu di atas keinginan.

Selamat tinggal Ramadhan, selamat datang fitri—semoga yang kita jaga bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga hati yang tetap tunduk, nafsu yang terarah, dan langkah yang seimbang antara kepentingan dan ketaatan.

*) PENULIS adalah Profesor di bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK). E-mail: mshabri@usk.ac.id

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.