Pengerupukan Festival Buleleng Masuk Kalender Event, Tahun Depan Akan Digelar di Titik Nol Kota
Ida Ayu Suryantini Putri March 20, 2026 07:35 AM

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG – Pengerupukan Festival di Kabupaten Buleleng kian menunjukkan eksistensinya sebagai agenda budaya unggulan.

Setelah sukses digelar untuk kedua kalinya, event parade ogoh-ogoh ini resmi masuk dalam Kalender Event Buleleng (KEB) dan direncanakan akan naik level pada tahun mendatang.

Ribuan masyarakat memadati Catuspata Desa Adat Buleleng sejak Rabu (18/3/2026) sore, untuk menyaksikan gelaran Pengerupukan Fest #2.

Baca juga: 15 Ogoh-ogoh Akan Ikut Ngerupuk Di Yangbatu Denpasar Bali, Kedepankan Esensi Pengerupukan

Acara ini menjadi bagian dari rangkaian malam pengerupukan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948.

Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra hadir langsung membuka parade dengan tradisi khas Buleleng, yakni ngoncang.

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa kehadiran pemerintah tidak hanya sebagai penyelenggara, tetapi juga sebagai penggerak utama agar tradisi tetap hidup, adaptif, dan memiliki daya tarik ke depan.

Baca juga: Jelang Pengerupukan, Safari Ogoh-Ogoh Dilakukan di Enam Banjar Serangan 

"Kegiatan ini bukan hanya menyambut Hari Raya Nyepi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pelestarian nilai budaya bagi generasi muda."

"Kita ingin mereka tidak hanya berkarya, tetapi juga memahami makna di balik ogoh-ogoh itu sendiri," tegasnya.

Sutjidra menekankan bahwa festival ini merupakan wujud nyata implementasi nilai Tri Hita Karana yang mengharmoniskan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.

Menurutnya, ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni, melainkan simbol pengendalian diri dan upaya menekan sifat-sifat negatif dalam kehidupan.

Baca juga: 373 Ogoh-ogoh Akan Diarak di Denpasar Saat Malam Pengerupukan, Batas Waktu Pukul 24.00 Wita

"Melalui kegiatan ini, kita ingin memperkuat jati diri budaya Buleleng sekaligus membangun karakter generasi muda yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal," tambahnya.

Di tengah arus modernisasi, Pemerintah Kabupaten Buleleng juga mengambil langkah progresif dengan menjadikan Pangrupukan Festival sebagai bagian dari Kalender Event Buleleng (KEB). Bahkan, ke depan kegiatan ini direncanakan akan digelar di titik nol Kota Singaraja sebagai ikon baru event budaya daerah.

"Tahun depan kita rencanakan bisa digelar di titik nol Kota Singaraja. Ini sudah masuk Kalender Event Buleleng, sehingga harus kita kemas lebih baik lagi sebagai agenda unggulan daerah," ungkapnya.

Bupati Sutjidra juga mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang menjadi kekuatan utama terselenggaranya festival.

Ia menilai, sinergi antara pemerintah, panitia, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga eksistensi budaya di tengah perkembangan zaman. 

Melalui Pangrupukan Festival II ini, Pemerintah Kabupaten Buleleng tidak hanya menghadirkan tontonan budaya, tetapi juga menegaskan perannya sebagai motor penggerak pelestarian tradisi, pembinaan generasi muda, serta pengembangan event daerah yang berdaya saing.

Dalam gelaran tahun ini, sebanyak 27 ogoh-ogoh dari 14 banjar adat di wilayah Desa Adat Buleleng turut ambil bagian.

Masing-masing banjar menampilkan karya dengan kreativitas tinggi serta pesan simbolik yang sarat makna spiritual.

Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, menjelaskan bahwa parade dimulai dari depan Kantor DPRD Buleleng, melintasi Jalan Veteran, hingga mencapai Catuspata sebagai titik utama atraksi sebelum berakhir di Setra Desa Adat Buleleng.

Di kawasan Catuspata, setiap ogoh-ogoh diberikan waktu tampil antara 10 hingga 20 menit, yang dimanfaatkan untuk menunjukkan atraksi terbaik mereka di hadapan ribuan penonton.

Selain menjadi tontonan budaya, pelaksanaan Pengerupukan Fest juga mendapat perhatian dari sisi pengamanan dan kelancaran lalu lintas.

Satlantas Polres Buleleng menerapkan rekayasa lalu lintas selama kegiatan berlangsung, termasuk pengalihan arus kendaraan dan penempatan titik parkir untuk kendaraan besar.

"Truk besar dari arah Denpasar diarahkan untuk parkir di Terminal Sangket mulai pukul 18.00 hingga 24.00 Wita. Sementara itu, kendaraan roda empat dan roda dua dialihkan melalui jalur Sambangan," ucap Kasatlantas Polres Buleleng, AKP Bachtiar Arifin. 

Pengamanan turut diperkuat dengan keterlibatan pecalang Desa Adat Buleleng yang berjumlah 45 orang, bersinergi dengan aparat kepolisian untuk menjaga ketertiban selama acara berlangsung.

Dengan antusiasme masyarakat yang terus meningkat serta dukungan penuh dari pemerintah daerah, Pengerupukan Fest diharapkan tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik wisata budaya unggulan di Kabupaten Buleleng. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.