Meamuk-amukan Padang Bulia Buleleng, Tradisi Perang Api Penuh Makna Sambut Nyepi
Ida Ayu Suryantini Putri March 20, 2026 07:35 AM

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Desa Adat Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng menggelar tradisi meamuk-amukan, Rabu (18/3/2026).

Tradisi yang juga dikenal sebagai perang api ini, menghadirkan atraksi unik sekaligus sarat makna. 

Meamuk-amukan merupakan tradisi yang rutin digelar jelang hari raya Nyepi, atau malam Pengerupukan.

Warga menggunakan sarana berupa daun kelapa kering (danyuh) yang diikat, kemudian dibakar dan saling diadu, sehingga menimbulkan percikan api. 

Baca juga: Lebur Bhuta Kala Dalam Tradisi Perang Api di Desa Adat Nagi saat Pengerupakan

Kelian Desa Adat Padang Bulia, I Gusti Ketut Semara, menyebut tradisi yang juga dikenal dengan istilah mapuput ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol spiritual.

Api yang diadu melambangkan amarah dan hawa nafsu yang harus dipadamkan sebelum memasuki Catur Brata Penyepian.

"Ini adalah simbol bagaimana kita memadamkan api dalam diri, yakni amarah dan nafsu, agar bisa menjalani Nyepi dengan khusyuk," ujarnya, Rabu (18/3/2026).

Baca juga: Tradisi Leluhur, Ngodakin Desa Adat Lepang Bali, Tapel Kayu Kepah Dari Pura Dalem Sila Pegat

Tak hanya sarat makna, meamuk-amukan juga menjadi ruang kebersamaan bagi warga.

Di tengah percikan api dan suasana riuh, terselip rasa persaudaraan yang kuat.

Tradisi ini justru menjadi momen suka cita masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Caka.

Baca juga: Ramai Wacana Waktu Pelaksanaan Nyepi, PHDI Pusat Berpegang Teguh Pada Sastra dan Tradisi

"Walaupun terlihat seperti ngamuk, sebenarnya ini adalah kegembiraan dan kebersamaan masyarakat," tambahnya.

Eksistensi meamuk-amukan semakin diakui secara luas pasca ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Pengakuan tersebut diberikan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster pada 2025 lalu.

Bagi masyarakat setempat, pengakuan ini menjadi dorongan untuk terus menjaga tradisi leluhur.

Semara mengaku bangga sekaligus bersyukur, karena tradisi yang diwariskan turun-temurun kini mendapat perhatian lebih luas.

Sementara itu, bagi generasi muda, meamuk-amukan bukan hanya ritual tetapi juga pengalaman yang membekas.

Tradisi ini merupakan momen yang paling ditunggu setiap menjelang Nyepi.

"Selain seru, kebersamaannya sangat terasa. Kami bangga bisa terus melestarikan tradisi ini," ujar salah satu pemuda bernama Putu Gede Susila Mahendra. 

Dengan perpaduan atraksi api yang memikat, nilai filosofis yang kuat, serta semangat kebersamaan, tradisi meamuk-amukan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Buleleng. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.