TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Udara pagi di area selasar atau serambi Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta, Jumat (6/3/26), terasa dingin dan cukup menusuk.
Namun, hangatnya kebersamaan mulai menjalar di bawah pilar-pilar kokoh bangunan bersejarah tersebut, sesaat setelah salat Subuh ditunaikan.
Bukan suara kajian atau lantunan kitab suci AlQuran yang menggema seperti biasa, melainkan denting sendok yang beradu dengan mangkuk plastik.
Ya, di atas ubin porselen yang legendaris, sebuah tradisi unik bertajuk "Oblok-oblok 1 Syawal" kembali bergulir, menandai ujung bulan suci Ramadan tahun ini.
Dalam kerumunan jamaah yang memadati serambi, tampak petugas takmir dengan sigap menuangkan kuah santan putih dari baskom berukuran besar.
Di dalam mangkuk-mangkuk itu, dua lembar roti tawar telah menunggu untuk dihidupkan rasanya, menjadi kuliner khas Kauman yang sarat akan makna.
Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman, Azman Latif, mengisahkan, bahwa tradisi santap Oblok-oblok ini telah mengakar sejak medio 1980-an.
Menurutnya, tradisi dilangsungkan rutin pada Subuh sebelum salat Idulfitri, sebagai kompas bagi umat, untuk menegaskan penentuan hari raya.
"Tradisi santap Oblok-oblok menegaskan bahwa masa berpuasa Ramadan sudah selesai, dan hari Lebaran atau 1 Syawal telah tiba. Ini adalah wujud rasa syukur kami," ungkapnya.
Tak butuh waktu lama bagi ratusan porsi yang disediakan takmir untuk ludes, mengingat jemaah yang datang tak melulu warga Kauman saja.
Banyak di antaranya pendatang dari wilayah lain di penjuru Yogyakarta dan sekitarnya, yang sengaja mengejar momen sakral penuh kehangatan tersebut.
Cita rasa hidangan Oblok-oblok pun terbilang unik, dengan tekstur roti lembut yang seketika lumer saat bersentuhan dengan kuah santan nan kental.
Meski harus mengantre panjang, jemaah sangat menikmati sajian sembari bercengkerama, ditemani segelas teh hangat yang mengepulkan asap tipis.
Selaras tradisi, usai menyantap Oblok-oblok, para jemaah membentuk barisan panjang yang mengular di sepanjang serambi untuk prosesi halal bi halal.
Tak ada sekat antara tua dan muda, semuanya melebur dalam maaf yang tulus, di bawah naungan atap masjid peninggalan Sultan Hamengku Buwono I tersebut.
Dari ritual kecil dan hidangan sederhana, "Oblok-oblok 1 Syawal" menjadi perekat sosial untuk menyambut hari kemenangan di depan mata.