TRIBUN-BALI.COM, NEGARA – Di balik hilangnya antrean panjang yang sempat mengular di jalur utama menuju Pelabuhan Gilimanuk pada Rabu 18 Maret 2026 sore, ada raga-raga yang dipaksa melampaui batas normal manusia.
Salah satunya adalah Iptu I Wayan Darmayuda, mengenakan seragam dinas yang mulai terpapar debu jalanan dan peluh yang mengering di bawah terik matahari Jembrana, Panit 1 Sat PJR Dit Lantas Polda Bali ini tetap berdiri tegak.
Meski guratan lelah yang mendalam tidak bisa disembunyikan dari wajahnya, sorot matanya tetap waspada memantau setiap pergerakan kendaraan yang hendak menuju Pulau Jawa.
Usai sesi wawancara mengenai situasi lalu lintas terkini, Iptu Yuda sapaan akrabnya sempat berbincang ringan dengan Tribun Bali, pada Selasa 17 Maret 2026 sore.
Baca juga: 71 Ribu Pergerakan Penumpang Diprediksi Jadi Puncak Arus Mudik di Bandara Ngurah Rai Bali
Di saat itulah, terungkap sebuah fakta yang menggetarkan hati tentang betapa mahalnya harga sebuah kelancaran mudik bagi seorang petugas.
"Saya sudah 4 sampai 5 hari ini hanya bisa istirahat tidur satu jam saja setiap harinya," ungkap Iptu Yuda dengan suara yang tetap tenang namun menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
Selama hampir sepekan terakhir, Iptu Yuda mendapatkan tugas BKO (Bawah Kendali Operasi) di kawasan Gilimanuk.
Tugasnya bukan sekadar berdiri diam, ia adalah mata dan garda terdepan yang menyusuri sisa-sisa ekor antrean kendaraan yang panjangnya sempat berkilo-kilometer.
"Sehari-hari selama arus mudik ini saya di sini, patroli, melaporkan situasi, hingga menghalau pengemudi yang mencoba menyerobot atau ngeblong," ucapnya.
"Kami bergabung dengan rekan PJR Unit 1 Dit Lantas Polda Bali dan berkolaborasi erat dengan rekan-rekan dari Polres Jembrana," imbuh Iptu Yuda.
Tugas menyisir ekor antrean adalah pekerjaan yang krusial, tanpa pengawasan ketat, aksi serobot jalur oleh pengendara yang tidak sabar bisa menjadi sumbu kemacetan total yang sulit diurai.
Iptu Yuda dan anggota lainnya memastikan bahwa sistem kanalisasi yang telah dirancang pimpinan berjalan tanpa celah.
Strategi Buffer Zone di Terminal Cargo yang belakangan dipuji karena berhasil membersihkan jalur utama dari tumpukan kendaraan pribadi, nyatanya membutuhkan otot dan napas panjang dari petugas seperti Iptu Yuda untuk menjaganya tetap tertib.
Ia mengakui, adrenalin dan tanggung jawablah yang membuatnya tetap berdiri meski tubuhnya sudah memberikan sinyal untuk tumbang.
Baginya, kenyamanan para pemudik dan keberhasilan kebijakan pimpinan adalah prioritas di atas jam tidurnya sendiri.
"Ini semua demi kelancaran pengaturan lalu lintas dan menjalankan kebijakan-kebijakan pimpinan. Mungkin setelah semua ini selesai, baru rasa lelahnya benar-benar terasa menghantam badan," ucapnya sembari tersenyum tipis.
Kisah Iptu Yuda adalah potret nyata di balik data dan angka kesuksesan pengamanan mudik tahun 2026 yang bertepatan dengan persiapan Hari Raya Nyepi.
Di saat ribuan orang bergegas untuk bertemu keluarga di kampung halaman, ada sosok-sosok seperti Iptu Yuda yang merelakan waktu tidurnya, berteman panas dan debu, agar perjalanan orang lain tanpa hambatan.
Kini, saat sore menjelang dan jalur utama Gilimanuk mulai tampak lengang berkat sistem Buffer Zone, Iptu Yuda dan rekan anggota lainnya belum beranjak.
Ia tetap di sana, menjaga ritme agar setiap kendaraan masuk ke kapal dengan tertib, memastikan setiap pemudik bisa menyeberang dengan aman sebelum Selat Bali resmi ditutup untuk menghormati kesucian Nyepi. (*)