Prosesi Garebeg Syawal Keraton Yogyakarta 2026, 5 Gunungan Dibagikan di Masjid Gedhe Kauman
Joko Widiyarso March 20, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, ​YOGYA - Kawasan plataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta, berubah menjadi lautan manusia pada Jumat (20/3/26) pagi. 

Ribuan masyarakat, baik warga lokal maupun wisatawan, tampak menyemut demi menyaksikan Hajad Dalem Garebeg Sawal Dal 1959 yang digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

​Teriknya matahari tak menyurutkan semangat untuk ngalap berkah atau sekadar mengabadikan momen iring-iringan gunungan yang menjadi simbol sedekah Raja kepada rakyatnya. 

​Tepat pukul 09.00 WIB, suasana semakin riuh saat iring-iringan bregada prajurit dan gunungan mulai menuruni Siti Hinggil di Pagelaran Keraton menuju Masjid Gedhe. 

Penghageng II Kawadanan Widyabudaya Keraton Yogyakart, KRT Rinta Iswara, menjelaskan, terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan pada prosesi ini.

Kelima jenis tersebut adalah Gunungan Kakung, Gunungan Estri atau Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan.

Ada dua Gunungan Kakung, yang peruntukannya masing-masing untuk Masjid Gedhe dan Pura Pakualaman, lalu Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen diberi bagian gunungan berupa pareden wajik. 

Selain itu, terdapat satu buah gunungan lainnya, yaitu Gunungan Pawuhan, yang secara khusus dibagikan kepada abdi dalem Kawedanan Pengulon.

"Garebeg merupakan sebuah upacara budaya yang diselenggarakan oleh Keraton dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi," katanya.

Makna garebek atau grebeg

Garebeg atau yang umumnya disebut "Grebeg" berasal dari kata "gumrebeg", mengacu deru angin atau keramaian yang ditimbulkan ketika berlangsung upacara tersebut.

Sementara, gunungan merupakan perwujudan kemakmuran Kraton atau pemberian dari raja kepada rakyat, sebagai perwujudan rasa syukur atas datangnya Idulfitri, yang diwujudkan dengan memberikan rezeki melalui ubarampe.

Bak gayung bersambut, ribuan masyarakat yang datang dari berbagai daerah pun seakan tak mau melewatkan momentum nan sakral tersebut.

Metode rayahan yang sudah ditinggalkan sejak beberapa tahun terakhir, dan diganti pembagian melalui abdi dalem, membuat distribusi ubarampe menjadi lebih tertib.

Memasuki pukul 11.00 WIB, gunungan yang tuntas didoakan langsung dibagikan untuk warga atau wisatawan yang sudah menunggu sejak pagi hari.

Namun, karena antusiasme yang begitu besar, sebagian pengunjung yang tidak sabar pun akhirnya mendekat dan ikut merayah gunungan berisi hasil bumi persembahan Ngarsa Dalem tersebut. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.