Ledakan Dahsyat di Israel Utara, Rudal Iran Lolos Hantam Kilang Minyak Haifa
asto s March 20, 2026 02:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Ledakan dahsyat terjadi di Israel Utara, rudal Iran lolos.

Fasilitas energi Israel mengalami kerusakan besar.

Serangan rudal Iran menghantam kilang minyak di Haifa, wilayah utara Israel, yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Yerusalem.

Ledakan akibat serangan tersebut sempat memicu gangguan listrik di wilayah sekitar.

Pemerintah Israel menyatakan tidak ada kerusakan signifikan pada infrastruktur utama.

Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang terus meningkat.

Israel mengonfirmasi bahwa kilang minyak di Haifa terkena serangan rudal Iran.

Fasilitas ini berada di kawasan industri Teluk Haifa yang merupakan pusat energi strategis Israel.

Reuters melaporkan serangan tersebut menyebabkan kerusakan terbatas pada fasilitas.

Menteri Energi Israel, Eli Cohen, menegaskan kondisi masih terkendali.

“Kerusakan pada jaringan listrik di wilayah utara bersifat lokal dan tidak signifikan,” ujar Eli Cohen.

Ia juga menambahkan, “Tidak ada kerusakan signifikan pada situs infrastruktur Israel.”

Listrik Sempat Padam di Wilayah Utara
Serangan tersebut sempat menyebabkan gangguan listrik di wilayah utara Israel.

Pasokan listrik dilaporkan terputus sementara sebelum akhirnya berangsur pulih.

Al Jazeera pada Kamis (19/3/2026) melaporkan gangguan terjadi setelah fasilitas energi terdampak serangan.

Sebagian besar pelanggan kini telah kembali mendapatkan aliran listrik normal.

Baca juga:  Jet Siluman F-35 AS Mendarat Darurat usai Misi Iran, Diduga Dihantam Serangan Musuh

Serpihan Rudal Picu Kerusakan dan Korban Luka
Haaretz melaporkan serpihan rudal Iran yang dicegat menghantam area kilang minyak di Haifa.

Tidak ada laporan korban jiwa di lokasi kilang tersebut.

Namun di wilayah lain, dampak serangan cukup terasa.

Sebuah bangunan di Kiryat Shmona dilaporkan terkena serangan langsung.

Empat orang dilaporkan terluka, termasuk satu korban dalam kondisi serius.

Seorang saksi mata mengatakan, “Ledakan besar mengguncang seluruh jalan.”

Iran Ancam Serangan Tanpa Pengekangan
Serangan ini merupakan bagian dari balasan Iran atas serangan terhadap infrastruktur energinya.

Salah satunya adalah serangan terhadap ladang gas South Pars.

Al Jazeera melaporkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan ancaman keras.

“Iran akan menunjukkan nol pengekangan jika infrastrukturnya diserang lagi,” ujarnya.

Iran juga disebut telah melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone di kawasan Timur Tengah.

Lokasi Strategis Dekat Pusat Israel

Kota Haifa berada di pesisir utara Israel dan menjadi salah satu pusat industri utama.

Jaraknya sekitar 150 kilometer dari Yerusalem sebagai pusat pemerintahan Israel.

Sementara dari Tel Aviv, kota ini hanya berjarak sekitar 90 kilometer.

Letak strategis ini menjadikan kilang Haifa sebagai salah satu objek vital dalam sistem energi nasional Israel.

Konflik Kian Memanas
Eskalasi serangan antara Iran dan Israel menunjukkan konflik semakin meluas.

Kedua pihak kini saling menargetkan infrastruktur strategis.

Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Terutama terkait potensi gangguan pasokan energi dunia.

Israel Serang Fasilitas Gas Iran

Serangan Israel terhadap fasilitas gas Iran menandai pergeseran konflik dari konfrontasi militer menuju perang ekonomi yang berpusat pada sektor energi, menurut Umud Shokri, penasihat kebijakan luar negeri dan geopolitik energi yang berbasis di Washington.

Dilansir Iran International, pada 18 Maret, serangan Israel menargetkan fasilitas yang terkait South Pars serta pusat darat (onshore hub) di Asaluyeh, Provinsi Bushehr.

Qatar, yang berbagi cadangan tersebut, secara langsung menyalahkan Israel.

Sementara itu, Uni Emirat Arab menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan energi global.

Iran dengan cepat merespons dengan menyerukan evakuasi infrastruktur energi di seluruh Teluk Persia, termasuk di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

South Pars bukan sekadar aset hidrokarbon biasa.

Bersama North Dome milik Qatar, ladang ini membentuk ladang gas alam terbesar di dunia, yang diperkirakan menyimpan 1.800 triliun kaki kubik gas dan 50 miliar barel kondensat.

Bagian Iran mencakup sekitar 36 persen cadangan gas terbukti dan sekitar 5,6 persen cadangan global, sehingga menjadikannya pilar utama ekonomi negara tersebut yang kini berada dalam risiko.

Asaluyeh berfungsi sebagai inti operasional sistem ini, dengan memusatkan infrastruktur hulu, tengah, dan hilir dalam satu kawasan pesisir.

Produksi lepas pantai memasok kilang, kompleks petrokimia, dan terminal ekspor yang mendukung pembangkit listrik, basis industri, serta ekspor energi Iran.

Serangan terhadap Asaluyeh tidak hanya mengganggu produksi, tetapi juga mengancam seluruh rantai nilai energi.

Terletak di sepanjang Teluk Persia dan terhubung ke jalur ekspor melalui Selat Hormuz, Asaluyeh berada di persimpangan antara produksi dan jalur transit.

Gangguan berkelanjutan apa pun dapat memperburuk guncangan pasokan di pasar global.

Israel kini melangkah lebih jauh dari sekadar menargetkan aset militer dan nuklir, dengan menyerang inti ekonomi kekuatan Iran.

Hal ini menandakan pergeseran strategi menuju pelemahan ekonomi, di mana sistem energi menjadi target utama.

Respons Iran menunjukkan bahwa eskalasi tidak akan tetap terkendali.

Media yang terkait Korps Garda Revolusi Islam telah menerbitkan daftar target potensial, seperti Ras Laffan dan Mesaieed di Qatar, kilang SAMREF dan kompleks petrokimia Jubail di Arab Saudi, serta ladang gas Al Hosn di Uni Emirat Arab.

Dampaknya mulai terlihat. Irak melaporkan penghentian pasokan gas Iran setelah serangan di South Pars, sementara instalasi Ras Laffan di Qatar sedang dievakuasi.

Sifat reservoir yang digunakan bersama juga menimbulkan risiko tambahan.

North Dome milik Qatar menopang sebagian besar pasokan LNG global ke Eropa dan Asia.

Ketidakstabilan di sisi Iran menimbulkan kekhawatiran terkait pengelolaan reservoir, keselamatan operasional, serta efek limpahan.

Kecaman cepat Qatar mencerminkan perhitungan yang jelas, eskalasi di sekitar ladang gas terbesar di dunia mengancam pasar global sekaligus stabilitas regional.

Risiko bahkan meluas melampaui kawasan Teluk.

Ladang gas lepas pantai Israel, yakni Leviathan, Tamar, dan Karish, sangat penting bagi pasokan domestik dan ekspor regional, serta tetap rentan terhadap potensi pembalasan.

Israel memiliki infrastruktur energi domestik yang relatif terbatas dan rentan terhadap pembalasan langsung, sementara Iran beroperasi di wilayah dengan konsentrasi aset energi yang padat.

Iran mungkin tidak dapat dengan mudah meniru serangan tersebut, tetapi dapat menimbulkan gangguan luas dengan menargetkan produsen Teluk, jalur pelayaran, atau infrastruktur lepas pantai.

Netanyahu Sebut Israel Bertindak Sendiri

Dilansir The Guardian, saat menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers di Yerusalem, Benjamin Netanyahu ditanya apakah ia telah memberi tahu Donald Trump terkait serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran.

Ia hanya menyatakan:

"Israel bertindak sendiri melawan kompleks gas tersebut."

"Presiden Trump meminta kami untuk menunda serangan di masa mendatang, dan kami tetap berpegang pada hal itu."

Trump sebelumnya menjauhkan diri dari serangan tersebut.

Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak tahu apa-apa mengenai serangan itu, dan kemudian mengonfirmasi bahwa dirinya telah meminta Netanyahu untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Iran.

Israel sebelumnya mengklaim bahwa serangan tersebut dikoordinasikan dengan AS.

Namun, laporan yang mengutip pejabat Israel dan beredar hari ini bertentangan dengan pernyataan Trump, termasuk klaim bahwa AS sebenarnya telah mengetahui rencana serangan tersebut.

Saat berbicara di Ruang Oval, Trump tidak menjelaskan secara spesifik kapan ia berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel. (Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani/Tiara Shelavie)

Sumber: Tribunnews

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.