Rangkaian dan Makna Hari Raya Nyepi di Kota Kendari Sultra, Momentum Introspeksi Jaga Kerukunan Umat
Amelda Devi Indriyani March 20, 2026 02:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Umat Hindu di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), memperingati Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1448.

Ketua Kerukunan Masyarakat Bali Kota Kendari, I Nengah Setiawan, menjelaskan, peringatan Nyepi diawali dengan ritual Matur Piuning.

Ritual ini merupakan bentuk permohonan restu, keselamatan, serta izin kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebelum pelaksanaan rangkaian upacara besar.

“Matur Piuning dilaksanakan pada 3 Maret 2026, bertepatan dengan Purnama,” katanya kepada TribunnewsSultra.com, Jumat (20/3/2026).

Selanjutnya, umat Hindu melaksanakan upacara Melasti yang digelar pada 16 Maret 2026 atau tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi.

Upacara penyucian diri dan benda-benda sakral tersebut dilaksanakan di Pantai Nambo Kendari.

Rangkaian berikutnya adalah Tawur Agung Kesanga yang dilaksanakan pada 18 Maret 2026.

Baca juga: Pawai Ogoh-Ogoh Meriahkan Nyepi 2026 di Ladongi Kolaka Timur, Warga Antusias Saksikan Tradisi

Upacara ini bertujuan untuk menetralisir energi negatif serta menjaga keseimbangan alam semesta.

Tawur Agung Kesanga digelar di Pura Penataran Agung Jagadhita yang berlokasi di Jalan Mekar Indah, Kecamatan Kadia.

Setelah itu, umat Hindu memasuki puncak perayaan Nyepi pada 19 Maret 2026 dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian selama 24 jam.

Dalam pelaksanaannya, umat menjalankan empat pantangan utama, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja).

Lalu Amati Lelungan (tidak bepergian), serta Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

Sehari setelah Nyepi, umat Hindu melaksanakan Ngembak Geni sebagai penutup rangkaian perayaan.

Momentum ini dimaknai sebagai waktu untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan antarsesama.

Baca juga: Potret Toleransi di Tawamelewe Konawe Sulawesi Tenggara, Warga Antusias Saksikan Pawai Ogoh-ogoh

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Sultra, Prof I Nyoman Sudiana menyebutkan, Hari Raya Nyepi merupakan momen introspeksi diri sebelum memasuki Tahun Baru Saka 1448.

“Nyepi adalah waktu untuk merenung, mengevaluasi apa yang telah kita lakukan selama setahun terakhir,” ujarnya.

Dia berharap, perayaan Nyepi yang berdekatan dengan Idulfitri ini dapat semakin mempererat kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Tenggara.

“Momen ini diharapkan menjadi ajang untuk saling mengunjungi dan memaafkan, sehingga keharmonisan antarumat beragama semakin terjaga,” ucapnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.