WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Aktris Aurelie Moeremans mengumumkan bahwa kisah masa lalunya yang dituangkan dalam novel 'Broken Strings' akan diadaptasi menjadi film.
Menurut Aurelie Moeremans, keputusan ini diambil untuk menghadirkan edukasi bagi masyarakat.
Di pesan yang dibagikan di Broadcast Channel Instagram, 'Broken Strings Circle', Aurelie Moeremans berharap film ini kelak jadi medium penyadaran tentang bahaya manipulasi terhadap anak di bawah umur atau child grooming.
"Setelah banyak pertimbangan, dan meeting sama berbagai production house serta sutradara, aku memutuskan membawa 'Broken Strings' ke layar film," tulis Aurelie Moeremans dikutip Jumat (20/3/2026).
Baca juga: Aurelie Moeremans Melahirkan Anak Pertama di California AS, Unggah Foto Bayi di Akun Media Sosial
"Aku berharap, semakin banyak orang yang sadar akan bahaya child grooming," lanjutnya.
Aurelie Moeremans ingin pengalamannya tersebut menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang.
"Mungkin bisa membantu seseorang merasa tidak sendirian," ucap Aurelie Moeremans.
Ibu satu anak ini antusias menyambut perjalanan baru memfilmkan kisah 'Broken Strings'.
Baca juga: Butuh Waktu Lama, Aurelie Moeremans Berani Ungkap Trauma Masa Remaja sebagai Korban Child Grooming
Film ini akan digarap dengan penuh integritas dan kejujuran, bukan sekadar mengikuti tren semata.
Sejauh ini Aurelie Moeremans belum memberi bocoran mengenai rumah produksi maupun sutradara yang telah ia percayakan untuk menggarap film ini.
"Aku benar-benar excited untuk perjalanan ini, thank you for being part of this journey," tulis Aurelie Moeremans.
'Broken Strings' merupakan buku digital karya Aurelie yang mengungkap pengalaman pahitnya jadi korban grooming di masa remaja.
Baca juga: Aurelie Moeremans Kampanyekan Gerakan PutusTali setelah Tulis Pengalamannya sebagai Korban Grooming
Kisahnya berfokus pada proses manipulasi yang ia alami hingga tahap belajar menyelamatkan diri sendiri.
Sebelumnya, Aurelie Moeremans menyatakan keberaniannya mempublikasikan kisah tersebut murni untuk membantu para korban lain.
Ia ingin mematahkan stigma negatif dan rasa bersalah yang sering kali menyiksa batin para penyintas.
Sumber: Kompas.com