Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bagi sebagian mahasiswa, masa menjelang Lebaran identik dengan libur dan pulang kampung.
Namun, tidak bagi sejumlah mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Baca juga: 34 Jam Tertahan Penutupan Pelabuhan Ketapang, Sopir Truk Eko Terpaksa Harus Lebaran di Jalan
Mereka justru memilih tetap tinggal dan terjun langsung membantu masyarakat dalam pelayanan arus mudik 2026.
Sejak 16 hingga 27 Maret 2026, sebanyak 17 mahasiswa diterjunkan sebagai relawan di tiga titik transportasi utama di Surabaya, yakni Terminal Purabaya, Stasiun Gubeng, dan Pos Pengamanan Pasar Turi.
Kehadiran mereka menjadi bagian kecil namun berarti di tengah padatnya arus pergerakan pemudik.
Di Stasiun Gubeng Baru, Alicia Aprilia Paulina tampak sibuk mengarahkan penumpang menuju peron keberangkatan.
Mahasiswi Ilmu Komunikasi semester enam tersebut dengan sabar membantu pemudik yang kebingungan, bahkan hingga menangani kasus kehilangan barang.
"Tugas saya memastikan penumpang tidak salah jalur atau tertinggal kereta. Kadang juga bantu yang panik karena barangnya hilang," ujarnya pada Jumat (20/3/2026).
Tak jauh berbeda, di Stasiun Gubeng Lama, Reza Rofi'ur Romadani mengambil peran di bagian ticketing dan informasi rute.
Penjelasan yang jelas dan sikap komunikatifnya membantu memangkas antrean serta memberikan kepastian bagi para pemudik.
Sementara Fadli Bilal, pengalaman menjadi relawan justru memberikan pelajaran berharga.
Ia mengaku banyak belajar menghadapi beragam karakter masyarakat secara langsung.
"Kami belajar berkomunikasi dengan banyak tipe orang," katanya.
"Ini pengalaman yang tidak didapatkan di kelas," imbuh Fadli.
Di tengah kesibukan tersebut, respons positif datang dari para pemudik.
Lailatul Zahra, salah satu penumpang, mengaku merasa terbantu dengan kehadiran para mahasiswa.
"Mahasiswa di sini ramah dan sigap, jadi perjalanan terasa lebih nyaman," tuturnya.
Hal serupa disampaikan Santoso, pemudik tujuan Nganjuk yang baru pertama kali menggunakan kereta api.
Ia mengaku kehadiran relawan sangat membantunya memahami alur perjalanan.
"Mereka cepat tanggap saat melihat saya kebingungan. Sangat membantu," ungkapnya.
Lebih dari sekadar kegiatan sukarela, program ini menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa.
Mereka dilatih untuk tanggap, bertanggung jawab, serta mampu beradaptasi di tengah situasi lapangan yang dinamis.
Menariknya, Untag Surabaya tengah merancang program relawan ini agar dapat dikonversi setara dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN).