BANJARMASINPOST.CO.ID - Masih dalam suasana Idulfitri 2026, haul salah satu ulama dan juga pejuang H Datu Abdullah di Amuntai Hulu Sungai Utara (HSU) akan dilaksanakan pada hari Senin (23/3/2026).
Haul tokoh pemberotak Belanda ini akan dilakukan di makam Datu Abdullah bertempat Desa Jumba, Amuntai Selatan.
Datu Abdullah merupakan tokoh pahlawan di HSU yang gugur dalam perlawanan penjajah Belanda.
Tokoh ini tak mau bersekutu dengan Belanda hingga akhirnya tewas ditembak pasukan Belanda.
Baca juga: Terlanjur Disewa Rp35 Juta Buat Takbiran Lebaran, 2 Truk Sound Horeg Ditahan Polisi, Dulu Tawuran
Baca juga: Harga Emas Perhiasan 999 di Martapura, Jumat 20 Maret 2026, Turun Rp 40 Ribu di Lebaran Muhammadiyah
Salah seorang zuriat Datu Abdullah, Abdul Latief Hanafiah mengatakan, Datu Abdullah gugur dalam perang Banjar 15 September 1860 di Sungai Malang,Amuntai Tengah.
Ulama Datu Abdullah memimpin pertempuran puputan bersama Panglima Hampang melawan penjajah Belanda.
Sejarah ini disalin Saleh yang juga salah zuriat Datu Abdullah dari Buku Banjarmasinsche Krijg oleh Van Rees.
Dipaparkan setelah proklamasi 11 Juni 1860 tentang penghapusan Kesultanan Banjar diumumkan oleh pemerintah Hindia Belanda, maka wilayah-wilayah Kesultanan Banjar mulai dikuasai penjajah termasuk di Amuntai, Hulu Sungai Utara.
Kala itu rakyat Amuntai masih setia kepada Kesultanan Banjar maka sering terjadi gangguan, cegatan, dan penghancuran kepada konvoi Belanda yang berani berpatroli di sekitar Amuntai.
Salah satu pimpinan perlawanan yang terkenal adalah Datu Haji Abdullah. Seorang alim ulama dan ahli menggerakkan aksi massa.
Beliau sering menggelorakan semangat perang sabil untuk jangan menyerah dari masjid ke masjid sekeliling Amuntai.
Baca juga: Wali Kota Sukabumi Disoraki Jemaah Muhammadiyah di Momen Idulfitri 2026, Terkait Izin Lahan
Saat itu Belanda sudah sangat kewalahan mengalami aksi pencegatan oleh pasukan Haji Abdullah.
Pada suatu sergapan di Sungai Banar, Haji Abdullah tertembak peluru Belanda di bagian paha dan terpaksa seluruh pasukannya mundur ke Kampung Sungai Malang.
Asisten Residen van Oijen mengetahui informasi ini dan mengirimkan 3 peleton tentara bersenjata lengkap ke Sungai Malang.
Ketiga peleton ini dipimpin oleh perwira Belanda yang berpengalaman yaitu Letnan van Emde, Letnan Verspyck dan Letnan van Der Wijck.
Tiga peleton berangkat dari Amuntai menuju Sungai Malang tidak dengan rombongan tambur dan terompet tetapi mengendap diam-diam.
Tiga orang Letnan Belanda hanya didampingi beberapa tentara sedangkan sisanya berpencar dengan formasi sembunyi.
Pada tanggal 15 September 1860 mereka sampai di rumah Haji Abdullah di Sungai Malang, Amuntai.
Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Lebaran Ramai, Pedagang Kembang di TPU Guntung Lua Banjarbaru Ini Raih Cuan
Rombongan Belanda ditemui anak Haji Abdullah, Haji Yusip dan Sungit.
Saat itu Letnan van Emde mengatakan hanya ingin melihat keadaan tokoh ulama Haji Abdullah dan menawarkan bantuan untuk dibawa ke Amuntai dirawat dokter.
Tetapi Haji Abdullah tidak percaya karena Belanda sudah sangat sering melakukan tipu daya.
Sementara itu tiga peleton Belanda sudah diam-diam mengepung rumah Haji Abdullah.
Haji Abdullah berfirasat kurang enak mengenai niat Belanda ini dan segera menyiagakan 19 orang pasukannya berjaga di seluruh rumah.
Letnan van Emde memaksa untuk membawa tandu Haji Abdullah keluar rumah, dijawab oleh Haji Abdullah, "baik, bulih cuba bawa, kalau kawa!"
Van Emde dengan pedang di tangan dikelilingi 15 orang tentara Belanda memaksa masuk rumah.
Tidak berapa lama terdengar teriakan Haji Abdullah, "fi sabilillah ! Subhanallah ! Allahu Akbar !"
Mendengar seruan itu ke 19 anak buah Haji Abdullah merapatkan barisan dengan parang bungkul terhunus dan langsung menyerang pasukan Belanda.
Seketika terjadi pertempuran jarak dekat dan dari luar rumah keluar tiga peleton Belanda yang telah mengepung ikut dalam pertempuran. Letnan van Emde tewas beserta 5 orang tentara lainnya.
Baca juga: Warga Muhammadiyah Gelar Salat Idulfitri di Halaman Kantor Gubenur Kalsel, Khatib Ajak Bersyukur
Karena pasukan Haji Abdullah harus menghadapi jumlah musuh yang lebih besar maka mereka semua akhirnya harus gugur dalam pertempuran termasuk 4 orang pejuang wanita yaitu Aisyah, Hadijah, Kalimah, Bulan.
Seluruh pasukan Haji Abdullah gugur dalam medan perang pada peristiwa pembantaian di Sungai Malang Amuntai. Haji Abdullah dan para syuhada dimakamkan di Desa Jumba, Telaga Silaba, Amuntai, Hulu Sungai Utara.
Ditambahkan Latief Hanafiah, Datu Abdullah gugur bersama 24 pasukan da keluarga termask istri dan anak-anaknya yang dikubur dikubur bersama dalam satu lubang di Jumba.
"Satu-satunya anak yang selamat adalah Matarip saat itu berusia 9 tahun. Saat itu Matarip bersembunyi dan mengintip di atas pohon," ucap Latief.
Matarip mempunyai keturunan bernama Sanang. Hingga kini keturunan dari Matarip anak Datu Abdullah tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Latief mengatakan kalau dalam sejarah terungkap kalau Datu Abdullah gugur dalam peperangan pada tanggal 15 September 1860 M bertepatan 27 Safar 1277 Hijriah.
"Namun untuk haulnya biasanya dilakukan setiap 3 Syawal mengingat masih dalam suasana lebaran biasanya keturunan banyak berada di Amuntai," ucap Latief Hanafiah.
Latief membenarkan kalau beberapa keturunan H Datu Abdullah adalah mantan Menteri Agraria di era Soekarno, H Mohammad Hanafiah, termasuk pula mantan Wali Kota Banjarbaru, Rudy Resnawan, mantan Bupati Batola Eddy Sukarma hingga mantan Gubernur Kaltim A Wahab Syahrani. (banjarmasinpost/m risman noor)