Jual Bunga Tabur Rp100 Ribu Buat Peziarah, Anton Penjual di Jombang Malah Kebanjiran Pembeli
Alga W March 20, 2026 02:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Tradisi ziarah kubur menjelang Hari Raya Idulfitri membawa berkah tersendiri bagi pedagang bunga di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Dalam beberapa hari terakhir, permintaan bunga untuk nyekar meningkat drastis, seiring ramainya masyarakat yang berkunjung ke makam.

Baca juga: Ansor Jombang Siagakan Puluhan Posko Mudik di 13 Kecamatan, Siap Layani Pemudik 24 Jam

Aktivitas jual beli bunga terlihat padat di kawasan Jalan RE Martadinata, Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang.

Sejumlah lapak diserbu pembeli sejak pagi bahkan sampai sore hari.

Mencerminkan tingginya kebutuhan bunga menjelang Lebaran.

Salah satu pedagang, Anton (30) mengatakan, lonjakan pembeli mulai terasa sekitar lima hari terakhir.

Ia menyebut peningkatan permintaan mencapai setengah dari kondisi normal.

"Sekarang jauh lebih ramai dibanding hari biasa. Sudah hampir seminggu ini peningkatannya terasa," ucapnya saat dikonfirmasi TribunJatim.com pada Jumat (20/3/2026). 

Kenaikan permintaan turut berdampak pada harga jual.

Paket bunga tabur yang sebelumnya dijual sekitar Rp20 ribu per kantong kini melonjak hingga Rp100 ribu.

Lonjakan ini dipicu oleh naiknya harga pasokan dari distributor serta tingginya kebutuhan pasar.

Dalam satu paket, biasanya berisi campuran bunga seperti mawar, kenanga, dan bunga pacar yang umum digunakan untuk ziarah.

Meski harga naik tajam, pembeli tetap berdatangan.

Situasi tersebut justru malah membuat pedagang seperti Anton semringah, ia mengira dengan naiknya harga, pembeli akan berguguran dan sepi.

Namun, kenyataannya tak begitu. 

Anton mengaku pendapatannya meningkat, meskipun ia tidak dapat memastikan jumlah pasti kenaikan omzet harian.

"Yang jelas lebih banyak dari biasanya. Kalau pastinya berapa, wah saya jarang menghitung detail," katanya.

Peziarah tak permasalahkan

Di sisi lain, pembeli juga merasakan dampak kenaikan harga.

Elis (40), warga Kecamatan Megaluh, tetap membeli bunga meski harus mengeluarkan biaya lebih besar demi keperluan ziarah.

Ia mencontohkan harga bunga sedap malam yang mengalami perubahan signifikan.

Jika sebelumnya Rp10 ribu bisa mendapatkan tiga tangkai, kini hanya cukup untuk satu tangkai.

"Memang mahal, tapi tetap dibeli karena mau ziarah ke makam orang tua," ungkapnya.

Pelanggan lain, Ahmad (28) warga Kecamatan Peterongan, menyebut tidak masalah harga tinggi.

Asalkan ia bisa membawa bunga untuk ziarah ke makam orang tuanya. 

"Saya rasa tidak masalah, selagi mampu, toh juga barangnya ada dan jelas, untuk kebutuhan saya juga. Rezekinya pedagang," ungkapnya. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi nyekar menjelang Lebaran tetap menjadi bagian penting bagi masyarakat. 

Di tengah harga yang melonjak, kebutuhan spiritual tetap diutamakan, sementara para pedagang menikmati peningkatan penjualan musiman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.