Langit Ramadan: Trauma Siffin dan Karbala
AS Kambie March 20, 2026 02:22 PM

 Oleh: M Qasim Mathar
Cendekiawan Muslim

TRIBUN-TIMUR.COM - Di negeri kita, Indonesia, Amerika Serikat (AS) dikenal sebagai negara yang biasa memakai standar ganda (tidak jujur). Standar ganda itu seringkali tampak ketika AS terus membela Israel dan tidak bersikap adil terhadap Palestina.

Ketidakjujuran itu dilakukan AS dari banyak presidennya, terlebih pada presidennya yang sekarang. 

Wajah AS sebagai "polisi dunia", apalagi "Amerika First", semakin menunjukkan kesombongan negara dan bangsa ini. Peradaban modern saat ini yang terus dibangun AS, sesungguhnya adalah peradaban yang sedang rusak dan lapuk. Peradaban yang mengidap sakit parah.

Kondisi rusak dan lapuk itu menjadi kentara pada saat AS dan Israel pada 28 Pebruari 2026 menyerang Iran dengan perangkat modernnya.

Sementara perang ini belum menunjukkan tanda-tanda akan reda, presiden Donald Trump menunjukkan kelelahan dan kegagalannya pada saat ajakannya kepada sekutu-sekutu Eropa dan Asianya menolak untuk membantu menangani blokade selat Hormuz oleh Iran.

Trump dan ASnya dan Netanyahu dan Israelnya, dalam pandangan saya, sedang melawan dan menyerang manusia dan kemanusiaan.

Kini, dunia dan bangsa Eropa, Asia, tak terkecuali Afrika, menyadari apa yang sedang dirobek dan dirusak oleh Trump dan Netanyahu.

Saya berpendapat, Iran tidak akan berhenti perang karena 4 alasan:

(1) Diserang, maka wajib melawan. "Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil" (Alquran, s. Al-Mumtahanah: 8). "Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai teman setia, yaitu orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama, mengusirmu dari kampung halamanmu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai teman setia, maka mereka itulah orang-orang yang zalim" (s. Al-Mumtahanah: 9).

(2) Trauma perang Siffin. Bagaimana Ali bin Abi Thalib, Khalifah terpilih pada awal Islam, tokoh utama Syiah dan menurunkan gen. Ahlul Bait, itu kehilangan legitimasi sebagai Khalifah terpilih dan akhirnya terbunuh. (Sejarah tipu daya arbitrace)

(3) Tragedi Karbala, tempat putra Ali dan cucu Nabi Muhammad, dibantai dan tewas bersama keluarganya oleh Yazid penguasa zalim Bani Umayyah (Sejarah berdarah).

(4) Perintah aturan-aturan Iran tentang penghapusan Israel, bukan Yahudi, dari peta dunia.

Bagi saya, perang perlawanan Iran saat ini adalah pintu masuk bagi terjadinya pergantian peradaban rusak dan lapuk saat ini ke peradaban yang manusiawi di bawah naungan kasih Tuhan!(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.