BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Aroma khas anyaman daun kelapa yang direbus perlahan menyatu dengan hiruk pikuk jelang Hari Raya.
Di sudut persimpangan Pasar Ratu Tunggal, Kota Pangkalpinang, deretan ketupat, lontong, hingga lepet tersusun rapi dalam wadah baskom besar, menjadi penanda bahwa Lebaran tinggal menghitung waktu.
Di antara para pedagang, sosok Sunari tampak sibuk melayani pembeli, Jumat (20/3/2026). Tangannya cekatan membungkus pesanan, sementara sesekali ia melempar senyum kepada pelanggan yang silih berganti datang.
Sunari, mampu menghabiskan hingga 400 kilogram beras hanya dalam sehari untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Angka tersebut mencerminkan tingginya antusiasme warga terhadap hidangan khas Lebaran yang tak tergantikan.
"Kalau sudah mendekati Lebaran, sehari bisa sampai 400 kilo beras habis," ujar Sunari saat ditemui di lapaknya, Jumat (20/3/2026).
Beras-beras itu diolah menjadi berbagai sajian, mulai dari ketupat, lontong daun, lontong putih, hingga lepet dengan ketan. Semua diproduksi dalam jumlah besar sejak pagi hingga malam hari.
Di lapaknya yang berada di persimpangan Pasar Ratu Tunggal atau kawasan Pasar Atrium, aktivitas jual beli berlangsung nyaris tanpa jeda. Pembeli datang silih berganti, bahkan hingga selepas salat Isya.
Sunari menjual ketupat dengan harga Rp20 ribu per lima buah, lontong daun tiga buah Rp10 ribu, lepet tiga buah Rp10 ribu, dan lontong putih Rp1.500 per biji. Harga yang terjangkau membuat dagangannya cepat terserap pasar.
Ia mengaku, momen jelang Lebaran menjadi puncak penjualan. Sementara saat hari H hingga H+2, permintaan mulai berangsur menurun.
"Biasanya paling ramai sebelum Lebaran. Setelah itu sudah mulai turun," katanya.
Menariknya, pembeli ketupat jadi ini datang dari berbagai kalangan. Tidak hanya masyarakat Melayu, tetapi juga warga Tionghoa yang turut membeli untuk merasakan hidangan khas Lebaran tersebut.
Pantauan di lokasi, deretan pedagang ketupat tampak memenuhi kawasan pasar. Baskom berisi ketupat dan lontong berjajar panjang, menciptakan suasana khas yang hanya muncul menjelang hari raya.
Banyak warga memilih membeli ketupat jadi dibanding memasak sendiri. Selain lebih praktis, proses pembuatan ketupat yang memakan waktu lama menjadi alasan utama.
Lina (35), warga Pangkalpinang, mengaku membeli ketupat untuk kebutuhan keluarga.
"Lebih simpel beli, tidak perlu masak lama. Yang penting Lebaran ada ketupat," ujarnya.
Menurut Lina, harga yang ditawarkan juga masih sangat terjangkau. Ia pun tak ragu membeli dalam jumlah cukup untuk kebutuhan keluarga.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)