TRIBUN-TIMUR.COM - Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Sementara itu, Muhammadiyah lebih dahulu merayakannya pada Jumat, 20 Maret 2026.
Perbedaan ini bukan hal baru, namun tetap menjadi perhatian masyarakat setiap tahunnya.
Satu hal yang tetap menjadi fokus utama adalah pelaksanaan Sholat Idul Fitri.
Ibadah ini menjadi simbol kemenangan spiritual sekaligus momentum mempererat kebersamaan umat.
Suasana pagi hari yang khusyuk dan penuh kehangatan selalu menjadi ciri khas pelaksanaan sholat Ied.
Baca juga: 2.000 Warga Muhammadiyah di Luwu Laksanakan Salat Idul Fitri
Sholat Idul Fitri sendiri merupakan ibadah sunnah muakkad, yaitu sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap Muslim.
Biasanya dilakukan secara berjamaah di lapangan terbuka atau masjid pada pagi hari tanggal 1 Syawal, dengan rangkaian takbir yang menggema sejak fajar hingga pelaksanaan sholat.
Agar ibadah dapat berjalan dengan khusyuk dan sesuai tuntunan, penting bagi setiap Muslim untuk memahami tata cara Sholat Idul Fitri dengan benar.
Mulai dari niat, jumlah takbir, hingga khutbah, semua memiliki aturan yang perlu diperhatikan sebelum melaksanakannya.
Tata Cara Sholat Idul Fitri
1. Pertama, berniat sholat Idul Fitri di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram (mengucapkan Allâhu akbar).
Disunnahkan juga melafalkan niat sebelumnya. Berikut lafal niatnya:
أُصَلِّي سُنَّةَ لِعِيدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا/إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan li ‘îdil fithri rak‘ataini ma’mûman (atau imâman) lillâhi ta‘âlâ
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah Idul Fitri dua rakaat (sebagai makmum/imam) karena Allah ta‘ala.”
2. Membaca doa iftitah, kemudian disunnahkan bertakbir sebanyak tujuh kali. Di sela-sela setiap takbir dianjurkan membaca:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Allâhu akbar kabîran, wal hamdulillâhi katsîran, wa subhânallâhi bukratan wa ashîla
Artinya: “Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang.”
Atau bisa juga membaca:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Subhânallâhi wal hamdulillâhi wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.”
3. Membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu disunnahkan membaca surat Al-A‘la, lalu dilanjutkan dengan ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri untuk rakaat kedua seperti sholat biasa.
4. Setelah takbir berdiri pada rakaat kedua, disunnahkan bertakbir sebanyak lima kali seperti pada rakaat pertama.
Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan dianjurkan membaca surat Al-Ghasiyah. Setelah itu dilanjutkan ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.
5. Setelah salam, jamaah dianjurkan tetap duduk untuk mendengarkan khutbah yang disampaikan khatib, dan tidak langsung beranjak dari tempat.