BANGKAPOS.COM, BANGKA — Suasana di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Pangkalpinang berubah drastis saat memasuki masa padat menjelang Idul Fitri.
Aktivitas yang biasanya berjalan normal, kini terlihat lebih ramai. Para pekerja pun dituntut harus bekerja lebih cepat.
Di dalam ruang pemotongan yang tidak terlalu luas, berbagai suara berpadu menjadi satu. Lenguhan sapi bersahutan, percikan air dari selang menyapu lantai.
Sementara belasan pekerja hilir mudik di antara beberapa sapi yang telah dipotong. Bunyi logam dari peralatan yang saling beradu menambah riuh suasana di dalam ruang tersebut.
Aktivitas berlangsung hampir tanpa henti hingga menjelang fajar. Para pekerja, khususnya penyembelih, harus berjaga sejak sore hingga subuh demi memastikan kebutuhan daging masyarakat terpenuhi menjelang hari raya.
Di tengah kesibukan itu, para penyembelih yang tergabung dalam Organisasi Syiar Sembelih Halal Bangka Belitung (Sybilal Babel) memegang peran penting dalam memastikan proses penyembelihan berjalan sesuai syariat Islam.
Ketua Sybilal Babel, Anggi Galingga Soufyan, menjelaskan terdapat perbedaan teknik penyembelihan antara di RPH dan penyembelihan saat Idul Adha di masjid atau lingkungan masyarakat tetapi menekankan syariat islam.
“Kalau di RPH ini kita memakai metode stunning. Jadi hewannya dipingsankan dulu sekitar 20 detik, baru si eksekutor menyembelih. Waktunya harus cepat, tidak boleh lewat dari itu, karena kalau terlalu lama sapi bisa sadar lagi dan berontak,” ujarnya kepada Bangkayarpos, Kamis (20/3/2026).
“Kami menekan Syariat untuk keberkahan menjamin halal hingga memperhatikan hal-hal kecil serta sesuai aturan pemerintah,”ucapnya.
Ia menggambarkan, setelah terkena alat stunning di bagian kepala, sapi akan langsung kehilangan keseimbangan.
“Biasanya setelah kena alat, sapi langsung oleng, tubuhnya goyah, lalu roboh. Nah di momen itu penyembelih harus cepat, kami dalam waktu 5 sampai 10 detik setelah sapi jatuh langsung dilakukan penyembelihan,” katanya.
Anggi menyebutkan, pada masa puncak menjelang Idul Fitri, jumlah sapi yang disembelih bisa mencapai ratusan ekor dalam satu hari.
“Pada hari Selasa kami menyembelih sekitar 154 ekor untuk dua RPH dengan 16 orang. Lalu hari Rabu meningkat menjadi 170 ekor dengan 18 orang,” ujarnya.
Proses penyembelihan sendiri dimulai sejak sore hari dan berlangsung hingga pagi.
“Biasanya kami mulai setelah Asar sekitar pukul 15.30 WIB, dan selesai menjelang subuh, sekitar pukul 05.00 atau 05.30 WIB. Jadi lebih dari 12 jam kami bekerja di sini,” katanya.
Menurutnya, durasi kerja yang panjang menuntut kondisi fisik yang prima dari para penyembelih.
“Kalau sudah masa puncak, waktunya panjang sekali. Hampir tidak ada jeda. Kami harus tetap fokus karena proses ini tidak boleh salah,” ujarnya.
Untuk menangani jumlah sapi yang besar, Sybilal Babel biasanya menurunkan sekitar 15 hingga 20 anggota.
“Kalau jumlahnya sudah ratusan, kami turunkan sekitar 15 sampai 20 orang. Tidak hanya menyembelih, tapi juga membantu proses lainnya di dalam ruang potong,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, sebagian besar sapi yang dipotong merupakan jenis Brahman Cross (BX) impor dari Australia dengan bobot berkisar antara 480 hingga 800 kilogram.
“Sapi ini cukup kuat dan cenderung mudah berontak karena tidak terbiasa diikat. Jadi penanganannya memang butuh tenaga dan teknik khusus,” katanya.
Dengan bobot besar dan karakter yang kuat, proses penyembelihan menjadi tantangan tersendiri, terlebih dilakukan di ruang yang terbatas.
“Setelah disembelih, sapi langsung ditarik dan dikuliti. Semua harus cepat dan terkoordinasi,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, setiap anggota tim memiliki peran masing-masing.
“Ada yang menggiring sapi, ada yang mendampingi penyembelih, dan ada yang khusus membersihkan lantai supaya tidak terlalu licin,” jelasnya.
Meski terlihat terorganisir, kondisi di dalam ruang pemotongan cukup berisiko. Lantai sering kali dipenuhi campuran air, darah, dan lemak dari sapi yang baru disembelih.
“Darah sapi itu ada lapisan lemaknya. Kalau bercampur air, lantai jadi sangat licin. Kalau tidak hati-hati bisa terpeleset,” kata Anggi.
Karena itu, para pekerja harus sigap menjaga kondisi lantai agar tetap aman.
“Kami terus membersihkan lantai. Kalau tidak, bisa seperti dilapisi minyak dan itu berbahaya,” ujarnya.
Selain itu, risiko juga datang dari gerakan refleks sapi setelah disembelih.
“Kadang sapi meskipun sudah dipingsankan masih bisa menendang atau bergerak. Itu refleks, tapi tetap berbahaya kalau tidak waspada,” katanya.
(Bangkapos.com/Erlangga)