Sejarah dan Filosofi Ketupat, Makanan yang Selalu Hadir Saat Lebaran
GH News March 20, 2026 05:09 PM
Jakarta -

Tahukah detikers, di balik bentuknya yang sederhana, ketupat ternyata menyimpan makna filosofis yang dalam. Bukan sekadar hidangan khas saat Lebaran di Indonesia, tetapi juga simbol spiritual yang telah mengakar dalam tradisi masyarakat Nusantara.

Ketupat dikenal sebagai olahan beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda berbentuk anyaman khas. Tradisi menyantap ketupat saat Lebaran pun sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dari budaya masyarakat.

Sebuah studi di pada Maret 2018 berjudul 'Ketupat as traditional food of Indonesian culture' menunjukkan ketupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di Jawa.

la memanfaatkan ketupat sebagai media dakwah dengan menyisipkan nilai-nilai keagamaan dan filosofi kehidupan. Lantas, bagaimana sejarah ketupat hingga identik dengan Lebaran seperti sekarang? Yuk, simak selengkapnya!

Sejarah Ketupat

Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga ke-16 di wilayah Demak, Jawa Tengah. la merupakan salah satu dari Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Seiring berkembangnya Islam, tradisi menyajikan ketupat saat Lebaran turut menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei. Hingga kini, ketupat menjadi salah satu simbol kuliner yang identik dengan perayaan Idul Fitri.

Dalam budaya Jawa, ketupat memiliki makna filosofis yang kuat dan dikenal sebagai "jarwa dhosok" yakni "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan.

Makna tersebut mencerminkan pentingnya saling memaafkan di momen Idul Fitri. Oleh karena itu, ketupat tidak hanya menjadi hidangan khas, tetapi juga simbol kebersamaan, permohonan maaf, dan harapan akan keberkahan di hari kemenangan.

Pulau Jawa menjadi wilayah awal berkembangnya tradisi ketupat di Indonesia. Sebagai pulau dengan jumlah penduduk terbesar, berbagai kuliner dari Jawa pun mudah menyebar ke daerah lain dengan beragam penyesuaian.

Hal ini membuat ketupat hadir dalam berbagai variasi di setiap daerah, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, dengan sajian dan lauk pendamping yang berbeda-beda.

Variasi Ketupat di Berbagai Daerah

Seiring perkembangan tradisinya, ketupat hadir dalam berbagai variasi di tiap daerah di Indonesia dengan ciri khas masing-masing. Simak selengkapnya berikut ini.

Jawa Tengah

Ketupat sumpil merupakan salah satu kuliner khas Jawa Tengah. Nama "sumpil" berasal dari sejenis hewan kecil mirip siput yang banyak ditemukan di sungai. Bentuknya yang menyerupai ketupat membuat hidangan ini dikenal sebagai ketupat sumpil.

Di daerah Kaliwungu, ketupat sumpil kerap disajikan saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bentuknya melambangkan hubungan antara manusia dengan Tuhan serta sesama manusia. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga.

Sementara itu, di Purworejo dan Kebumen, ketupat sumpil lebih sering disajikan saat Idul Fitri. Di Temanggung, hidangan ini juga kerap hadir dalam acara pernikahan dan dipercaya memiliki makna simbolis bagi masyarakat setempat.

Jawa Barat

Di Jawa Barat, ketupat dikenal dengan sebutan "kupat". Salah satu olahan yang populer adalah kupat tahu, yaitu ketupat yang disajikan dengan tahu goreng, sayuran, tauge, dan saus kacang.

Kupat tahu tidak hanya disajikan saat Lebaran, tetapi juga menjadi menu sarapan sehari-hari. Hidangan ini biasanya dilengkapi dengan kerupuk, kecap manis, serta sambal untuk menambah cita rasa.

Jawa Timur

Di Jawa Timur, salah satu olahan ketupat yang terkenal adalah orem-orem dari Malang. Hidangan ini berupa ketupat berukuran besar yang disajikan dengan kuah santan, tauge, serta potongan tempe.

Penggunaan tempe dalam jumlah banyak mencerminkan Malang sebagai salah satu daerah penghasil tempe di Indonesia. Orem-orem menjadi salah satu contoh variasi ketupat yang berkembang sesuai dengan karakter daerahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.