Foto oleh Purwanto
Teks oleh Edgar
SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Warga Muhammadiyah melaksanakan Salat Ied di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jumat (20/3/2026).
Jemaah dari berbagai penjuru Malang Raya berdatangan, menciptakan suasana khidmat sekaligus penuh kebersamaan. Pelaksanaan ibadah berlangsung tertib dan lancar.
Cuaca yang cerah dengan udara yang relatif sejuk turut menambah kenyamanan jemaah yang mengikuti salat di ruang terbuka tersebut.
Dalam khutbahnya, khatib Imam Syawaludin Usman mengajak jemaah menjadikan Idulfitri sebagai momentum muhasabah atau introspeksi diri.
Ia menekankan pentingnya memahami hakikat kehidupan manusia, mulai dari asal, kondisi saat ini, hingga tujuan akhir.
"Yang paling penting adalah muhasabah, introspeksi diri. Kita ini dari mana, sekarang di mana, dan akan menuju ke mana," ujarnya saat ditemui SURYAMALANG.COM seusai pelaksanaan Salat Ied.
Ia juga menyinggung perbedaan penentuan Hari Raya Idulfitri antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar karena dilandasi metode yang berbeda.
"Tidak masalah, karena masing-masing punya metode."
"Muhammadiyah menggunakan hisab, sedangkan NU menggunakan rukyatul hilal. Yang terpenting adalah saling menghargai," jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar umat Muslim tetap menjaga kerukunan di tengah perbedaan tersebut, sekaligus meningkatkan keimanan setelah menjalani Ramadan.
Di sisi lain, suasana kebersamaan juga dirasakan oleh para jamaah.
Mereka cukup antusias dan menjalankan salat Ied dengan penuh khidmat.
Salah satunya Balqis Saroh, warga Kepanjen, Kabupaten Malang, yang datang bersama keluarganya untuk melaksanakan salat Ied di Stadion Gajayana.
Jauh-jauh dari Kepanjen Balqis data bersama dengan keluarganya.
Ia mengaku baru pertama kali ini mengikuti salat Ied di Stadion Gajayana.
Karena ingin merasakan suasana yang lebih ramai dibandingkan di lingkungan rumahnya.
"Alhamdulillah, saya bersama keluarga bisa Salat Ied di sini."
"Suasananya nyaman, cuacanya juga mendukung, tidak terlalu panas dan tidak hujan," ujarnya.
Balqis juga menilai perbedaan penentuan Hari Raya tidak menjadi persoalan.
Baginya, hal itu merupakan bagian dari keberagaman dalam umat Islam.
"Menurut saya tidak apa-apa, karena memang ada perbedaan mazhab dan cara penentuan."
"Yang penting kita semua tetap saling menghargai," tandasnya.
Selain di Stadion Gajayana, umat muslim Muhammadiyah juga menggelar salat Ied di berbagai daerah di wilayah Kota Malang.
Meski pemerintah menerapkan 1 Syawal 1447 H pada 21 Maret 2026 besok, namun pelaksanaan salat Ied di Malang oleh umat Muslim Muhammadiyah ini berlangsung khidmat dan berjalan lancar.
Baca juga: Sosok Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah, Khatib Salat Ied yang Bikin Heboh dan Viral di Nganjuk