TRIBUNJAMBI.COM - Serangan brutal penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026) malam lalu, membuka kembali kotak pandora mengenai risiko maut para aktivis HAM di Indonesia.
Mantan Koordinator KontraS periode 2020-2023, Fatia Maulidiyanti, menyebut rentetan teror ini bukanlah hal baru, melainkan pola lama yang terus berulang.
Dalam sebuah dialog mendalam, Fatia mengungkapkan setiap sosok yang memegang tongkat estafet kepemimpinan di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) hampir dipastikan akan berhadapan dengan berbagai bentuk intimidasi.
Fatia menarik garis lurus antara insiden yang menimpa Andrie Yunus dengan tragedi pembunuhan pendiri KontraS, Munir Said Thalib.
Munir, sang peraih Right Livelihood Award, tewas diracun arsenik dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Amsterdam pada 7 September 2004 silam.
Sejak titik hitam tersebut, ancaman seolah menjadi "menu harian" bagi para aktivis di lembaga ini.
“Ini tricky-nya bekerja di KontraS, dari dulu [sejak] Munir dibunuh dengan arsenik di udara, lalu seiring berjalannya waktu, dari berbagai koordinator KontraS itu terus-menerus seringkali mengalami ancaman,” tutur Fatia dalam program Dialog Prime Nusantara TV, Rabu (18/3/2026).
Baca juga: Politisi PDIP Tantang Polri Ungkap Otak Penyiram Air Keras Aktivis KontraS
Baca juga: Pakar Hukum Sindir Rismon Sianipar di Kasus Ijazah Jokowi: Singa Dijinakkan Jadi Kelinci
Meski tekanan fisik maupun psikis datang silih berganti, Fatia mengakui adanya budaya organisasi yang cenderung abai terhadap ancaman demi menjaga fokus perjuangan.
Hal ini dilakukan agar kerja-kerja kemanusiaan tidak lumpuh oleh rasa takut, meskipun risiko yang dihadapi kini telah berwujud serangan fisik yang nyata.
“Memang ketika kita mengalami ancaman itu, kita biasanya tidak menghiraukan sama sekali,” imbuhnya, menggambarkan betapa tipisnya batas antara dedikasi dan bahaya di dunia aktivisme.
Kasus Andrie Yunus kini menjadi pengingat pahit bahwa setelah lebih dari dua dekade kematian Munir, ruang aman bagi para pengkritik kekuasaan dan pembela hak asasi manusia masih menjadi barang mewah di negeri ini.
Penuntasan kasus Salemba ini pun dinilai menjadi ujian krusial bagi komitmen penegakan hukum Polri.
Lantas, Fatia menyebut, Andrie Yunus juga mengalami serangkaian ancaman dan teror sebelum disiram air keras, terutama setelah aktif menyuarakan kritik terhadap pembahasan Revisi Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI (UU TNI).
Dikutip dari Amnesty International Indonesia, Revisi UU TNI dianggap berbahaya karena dapat membangkitkan kembali Dwifungsi TNI/ABRI, salah satunya karena usulan perluasan jabatan sipil yang dapat diduduki oleh prajurit TNI, sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu profesionalisme TNI.
Salah satu aksi Andrie yang menjadi sorotan adalah saat dirinya menerobos Hotel Fairmont, Jakarta Pusat pada 15 Maret 2025, saat anggota Komisi Pertahanan DPR RI menggelar rapat diam-diam membahas Revisi UU TNI.
"Ketika Andri mulai aktif menyuarakan atau vokal dalam membantu masyarakat, terutama mengadvokasi kebijakan terkait dengan reformasi sektor keamanan di bidang kepolisian dan militer. Khususnya setelah insiden Fairmont tahun lalu, ketika Andrie mencoba untuk menghentikan rapat tertutup RUU TNI itu, Andrie mengalami berbagai macam teror," ucap Fatia.
Baca juga: Polisi Sebut Foto Viral Terduga Penyiram Air Keras Aktivits KontraS Hasil AI
Baca juga: Kisah Pilu Libatkan Pelajar Terulang: Siswa SMP Akhiri Hidup, Sempat Rindu Ayah
"Nomornya ditelepon oleh orang tidak dikenal dan lain sebagainya."
Fatia lantas mengungkap, kantor KontraS juga mendapat pengawasan atau dimata-matai oleh militer selama beberapa bulan terakhir.
Namun, Fatia juga menyebut, aksi dari tentara itu tidak pernah ditanggapi.
Meski begitu, Fatia menegaskan, para pegawai KontraS pernah mencoba mengkonfrontir tentara yang diduga sedang mengawasi kantor mereka.
"Kantor KontraS juga sempat mengalami surveillance atau pengawasan dari kendaraan-kendaraan militer, dan juga ada beberapa anggota militer yang hilir mudik, memata-matai kantor KontraS dan itu terjadi selama cukup lama sebenarnya, berbulan-bulan," papar Fatia.
"Tapi, memang karena kita seringkali mengalami hal-hal seperti itu, jadi ya udah kita biasa. Kayak, 'ya udah, kita hadapi,' gitu."
"Ketika ada tentara yang tiba-tiba lewat atau nongkrong depan kantor, itu biasanya kita confront 'Ada apa di sini?', 'Ada keperluan apa?', dan lain sebagainya."
"Nah, setelah itu biasanya mereka berangsur hilang."
Satu minggu setelah insiden penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, atau pada Rabu (18/2/206), terungkap ada empat orang pelaku yang terlibat.
Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) telah menangkap dan memeriksa empat oknum anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) yang diduga terlibat dan menjadi terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Keempat oknum tersebut telah diperiksa oleh Polisi Militer TNI (POM TNI).
Mengacu keterangan Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) Mayjen TNI Yusri Nuryanto, empat oknum tersebut berinisial Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW dan Serda ES (tiga perwira pertama dan satu bintara).
Sebagai informasi, BAIS TNI merupakan lembaga intelijen militer yang tugas utamanya mendeteksi dini ancaman atau gangguan terhadap pertahanan Indonesia.
Baca juga: Jadwal Bus Rute Jambi-Bandung 21 Maret 2026, Termurah Rp500 Ribu
Baca juga: Pakar Hukum Sindir Rismon Sianipar di Kasus Ijazah Jokowi: Singa Dijinakkan Jadi Kelinci
Baca juga: Jadwal Bioskop Jambi Hari Ini, Ada Danur The Last Chapter