Agam (ANTARA) - Warga di sejumlah nagari (desa) di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) tetap menjalin tradisi silaturahim Idul Fitri secara sederhana, meski masih dibayangi dampak bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada November lalu.

Masyarakat Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang telah melaksanakan shalat Idul Fitri pada Jumat. Setelah shalat, warga saling bermaaf-maafan dan kembali ke rumah masing-masing.

Di salah satu sudut kampung, tampak warga yang rumahnya berada tepat di tepi sungai yang kering dan dipenuhi bebatuan, merayakan hari raya tanpa kemeriahan seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau sekarang kita maklumi, ada pindah dari kampung di sini. Jadi, terasa berbeda dari suasana tahun dulu, kemeriahan dalam keadaan seperti ini aja, ke rumah sanak saudara yang masih terjangkau di sekitar sini aja,” kata Alimin yang membiarkan pintu rumahnya terbuka, pertanda siap menerima tamu.

Di ruang tamu rumahnya, hanya tersaji kue-kue Lebaran bantuan yang ditata seadanya. Tidak tampak hidangan khas, seperti ketupat, daging rendang yang tersedia pun berasal dari bantuan.

Kondisi rumah di lokasi tersebut masih menunjukkan bekas bencana. Bagian samping kanan dan depan rumah tertutup bebatuan besar yang terbawa arus saat banjir bandang dan longsor menerjang kawasan itu. Suasana di sekitar kampung juga terlihat lengang, berbeda dari perayaan Idul Fitri yang biasanya ramai.

Sementara itu, suasana berbeda terlihat di jalan-jalan utama Jorong Bancah, Nagari Maninjau, tetangga Nagari Sungai Batang.

Sejumlah warga tampak berjalan kaki, aktivitas saling mengunjungi antarwarga masih berlangsung, menciptakan nuansa Idul Fitri yang lebih terasa.

Salah satunya Rina, yang tampak sibuk bermaaf-maafan dengan tetangga yang masih merupakan sanak saudaranya. Di ruang tamunya terlihat biskuit dan kue seadanya untuk menyambut tamu yang datang berkunjung.​

Rumah yang ditempati oleh orang tuanya itu, sempat terendam air cukup tinggi saat banjir bandang melanda. Bekas lumpur yang dibersihkan kini ditumpuk di sisi rumah hingga menutup kolam empang milik mereka.

“Paling hanya silaturahim ke sanak saudara, ke keluarga, ke rumah amak, tidak ada yang spesial, tetapi silaturahim tetap dilakukan ke rumah yang dekat-dekat saja,” ujarnya.

Kendati berada di tengah pemulihan pascabencana, tradisi khas anak-anak di Ranah Minang tetap berlangsung. Sejumlah anak terlihat melakukan “manambang”, yakni berkeliling dari rumah ke rumah untuk menerima uang tunai atau tunjangan hari raya (THR) dari saudara dan tetangga.

Tradisi ini umumnya dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitrri.

Berdasarkan data Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, sebanyak 272 unit bangunan di Nagari Sungai Batang mengalami kerusakan dengan tingkat ringan, sedang, hingga berat. Total kerugian ditaksir mencapai Rp98,7 miliar.

Sedangkan di Nagari Maninjau, bangunan yang terdampak lebih sedikit, yakni 2 unit rumah hanyut dan hilang, serta 115 unit terdampak kerusakan. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp44,8 miliar.