TRIBUN-MEDAN.COM – Pilu Fendi bocah 10 tahun yang terpaksa putus sekolah demi rawat kedua orangtuanya yang sakit.
Adapun kisah pilu Fendi bocah 10 tahun di Gunungkidul yang putus sekolah tengah menjadi sorotan belakangan ini.
Fendi terpaksa menghentikan pendidikannya demi merawat kedua orang tuanya yang sakit di rumah sederhana mereka di Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul provinsi DI Yogyakarta.
Kisahnya yang menyentuh hati kini mengetuk kepedulian banyak pihak, termasuk Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) Prabowo wilayah Gunungkidul yang datang langsung memberikan bantuan dan dukungan.
Kunjungan Pasbata ke rumah Fendi bukan sekadar seremonial. Mereka membawa bantuan nyata berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak, dan berbagai keperluan harian lainnya untuk meringankan beban keluarga tersebut.
Dalam kesempatan itu, rombongan juga bertemu dengan Slamet, ayah Fendi, untuk memberikan semangat di tengah kondisi kesehatan yang terbatas.
Mereka berharap, di tengah situasi sulit yang dihadapi, Fendi tetap memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikannya.
Baca juga: Alasan Pendukung Jokowi Baru Laporkan Rismon Sianipar Terkait Ijazah Palsu Universitas Yamaguchi
Fendi diketahui merawat ibunya yang mengalami lumpuh akibat stroke dan gangguan saraf.
Sementara sang ayah juga menderita gangguan saraf yang membatasi aktivitasnya.
Dalam kondisi tersebut, Fendi menjadi sosok paling aktif di rumah, mulai dari memberi minum, membantu merawat ibunya, hingga setia menemani hingga larut malam.
Ketua DPC Pasbata Prabowo Gunungkidul, Martin, menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa tinggal diam melihat kondisi tersebut.
“Kami hadir untuk Efendi. Jangan sampai ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena kondisi keluarga. Ini panggilan kemanusiaan,” ujarnya, Jumat(20/3/2026).
Ia menambahkan, pihaknya siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait agar Fendi dapat kembali bersekolah, sekaligus memastikan kedua orang tuanya mendapatkan penanganan kesehatan yang layak.
“Kami siap membantu mencarikan solusi terbaik, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan keluarganya,” lanjut Martin.
Baca juga: JURNALIS Jadi Sasaran Rudal Israel Usai Tembaki Pasukan PBB di Lebanon
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga telah menyatakan komitmen untuk membantu Fendi kembali mengenyam pendidikan melalui pendekatan khusus, serta memberikan perhatian terhadap kondisi kesehatan kedua orang tuanya.
Ketua RT setempat, Wahono, mengungkapkan bahwa Fendi sebenarnya sempat bersekolah. Namun, saat naik dari kelas satu ke kelas dua, kondisi sang ibu memburuk—mulai dari kehilangan penglihatan hingga mengalami gangguan saraf yang berujung lumpuh.
“Karena ibunya sakit, Fendi berhenti sekolah. Tidak ada support dari orang tua karena keduanya sakit,” jelas Wahono.
Kondisi sang ayah yang juga mengalami gangguan saraf semakin memperburuk situasi. Dalam keseharian, Fendi menjadi satu-satunya yang aktif merawat ibunya.
“Fendi itu selalu merawat ibunya, memegangi, memberi minum. Kehadirannya bisa membuat ibunya tersenyum,” tambahnya.
Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan agar Fendi bisa kembali bersekolah. Mulai dari dukungan keluarga, pihak sekolah, hingga warga sekitar. Bahkan, sempat ada tawaran untuk bersekolah gratis di panti asuhan di Bantul.
Namun, Fendi menolak tawaran tersebut karena tidak ingin jauh dari ibunya.
“Kalau di panti pulangnya beberapa bulan sekali. Fendi tidak mau jauh dari ibunya,” kata Wahono.