WARTAKOTALIVE.COM – Amerika Serikat resmi mengintensifkan kampanye militernya untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur urat nadi minyak dunia yang kini menjadi medan tempur membara.
Jet tempur A-10 Thunderbolt II, yang dikenal dengan julukan "Warthog", serta helikopter serbu AH-64 Apache telah dikerahkan Trump untuk memburu dan menghancurkan kapal-kapal cepat Iran di sepanjang sayap selatan Selat Hormuz.
Jenderal tinggi AS, Dan Caine, mengonfirmasi pada Jumat (20/3/2026) bahwa pesawat-pesawat tersebut kini tengah menjalankan misi 'hunt and kill' terhadap aset angkatan laut Iran yang terus mengganggu pelayaran komersial internasional, seperti dilansir dari laman jpost.com.
Baca juga: AS Mulai Panik Hadapi Iran, Minta Tambahan Dana Perang Sebesar Rp 3.397 Triliun
Strategi Gempuran Udara Rendah
Keterlibatan Jet Tempur A-10 dan Apache menandai fase baru yang lebih agresif.
Pesawat-pesawat ini terbang rendah untuk mencegat drone serbu dan menghancurkan kapal serbu cepat milik Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pentagon menyatakan bahwa penggunaan amunisi penetrator dalam 5.000 pon juga telah dilakukan untuk meratakan situs rudal Iran di pesisir selat.
"Satu atau lain cara, Amerika Serikat akan membuka kembali Selat Hormuz," tegas Presiden Donald Trump menyusul laporan hancurnya target militer di wilayah tersebut.
Harga Minyak Dunia dan Krisis Pulau Kharg
Blokade yang dilakukan Iran telah mencekik pasokan energi global, mendorong harga minyak mentah melesat melampaui angka $100 per barel.
Situasi ini memicu ancaman ekonomi serius bagi banyak negara.
Sebagai langkah penekan, pemerintahan Trump dilaporkan tengah menimbang rencana besar untuk menyita atau memblokade total Pulau Kharg.
Baca juga: Alasan Inggris Ogah Ikut-ikutan Perang Iran di Selat Hormuz
Pulau strategis ini merupakan jantung ekonomi Teheran yang memproses sekitar 90 persen ekspor minyak mentah negara tersebut.
Pekan lalu, serangan udara AS diklaim telah meluluhlantakkan target militer di pulau itu.
Dampak Kemanusiaan di Pesisir
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan dampak destruktif dari serangan udara gabungan AS-Israel.
Di Pelabuhan Bandar Lengeh, sedikitnya 16 kapal kargo dan tongkang milik warga sipil dilaporkan hangus terbakar.
Gubernur Bandar Lengeh, Fawad Moradzadeh, menyebut insiden ini sebagai serangan langsung terhadap mata pencaharian warga setempat.
Rekaman video yang dirilis oleh CENTCOM menunjukkan aset-aset angkatan laut Iran meledak di tengah laut setelah dihantam rudal presisi.
Dengan kehadiran kapal induk USS Gerald R. Ford yang telah bersiaga di kawasan, AS tampaknya tidak akan mundur hingga kontrol atas jalur pelayaran komersial tersebut kembali pulih sepenuhnya.