Oleh: Khoirul Anwar
Pengasuh Ponpes Al-Insaniyyah Salatiga, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah
TRIBUNJATENG.COM - Jamaah Salat Idul Fitri yang Berbahagia
Pada pagi hari yang kita semua dilarang menjalankan puasa sebagai tanda telah berakhir bulan Ramadan, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segenap perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Puasa pada bulan Ramadan sendiri diwajibkan dengan tujuan supaya kita umat Islam senantiasa bertakwa kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah 183:
Karena itu, dengan berakhirnya ibadah puasa yang dikerjakan selama satu bulan penuh diharapkan berdampak pada tingkat ketakwaan.
Hadirin Hadirat yang Dimuliakan Allah
Ibadah puasa telah memberikan pelajaran kepada kita, bahwa lapar dan dahaga bukanlah kondisi yang mengenakkan. Keduanya adalah keadaan yang tidak disenangi oleh hawa nafsu yang ada di dalam setiap diri manusia, tapi karena puasa menjadi kewajiban yang diperintahkan oleh Allah maka kita pun menjalankannya meski kita memiliki harta yang cukup untuk membeli makan dan minum.
Kita bisa membayangkan bagaimana saudara-saudara kita yang setiap saat selalu dihadapkan dengan kondisi lapar dan dahaga karena terpaksa tidak ada sesuatu yang bisa dimakan, tidak memiliki uang untuk sekedar membeli makanan dan minuman, tentu mereka merasa berat sekali di dalam menjalani kehidupan ini.
Karena itu, salah satu pelajaran dari puasa yang perlu kita tanamkan di hati terdalam yaitu puasa mengajarkan kepada kita untuk berempati kepada mereka yang selalu lapar dan dahaga karena kemiskinan, empati kepada mereka yang belum beruntung secara ekonomi di dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Jamaah Idul Fitri yang Berbahagia
Empati kepada fakir miskin dan orang-orang yang terlemahkan secara ekonomi salah satunya diwujudkan dengan kewajiban membayar zakat fitrah.
Zakat fitrah diwajibkan bagi semua orang Islam dan diberikan kepada orang-orang yang secara ekonomi belum beruntung atau dalam bahasa Al-Quran disebut dengan 1) fakir, 2) miskin, 3) amil, 4) mualaf, 5) riqab atau para budak supaya merdeka, 6) gharim atau orang yang terlilit hutang dan tidak mampu membayar, 7) orang-orang yang berjuang di jalan Allah (fi sabilillah) seperti sedang jihad dan berdakwah, dan 8) ibnu as-sabil atau orang-orang yang sedang menempuh perjalanan dan kehabisan biaya seperti sedang mencari ilmu.
Delapan golongan (ashnaf) penerima zakat ini semuanya masuk dalam kategori orang-orang yang membutuhkan biaya hidup.
Kewajiban zakat salah satunya bertujuan untuk meringankan beban hidup mereka supaya tercipta kesejahteraan sosial.
Dalam fikih dijelaskan, zakat fitrah wajib ditunaikan maksimal sebelum salat Idul Fitri.
Hal ini bisa kita pahami supaya semua umat Islam memasuki pagi yang mulia ini dapat merasakan kebahagiaan.
Orang-orang miskin, fakir, musafir, dan orang-orang yang selama ini berada di dalam kesulitan ekonomi dapat ikut serta merasakan kebahagiaan di hari raya Idul Fitri ini.
Hadirin Hadirat Rahimakumullah
Diceritakan oleh Anas bin Malik RA, suatu ketika Nabi Muhammad SAW keluar rumah untuk mengimami salat Idul Fitri, semua anak kecil asik bermain kecuali ada satu bocah dengan pakaian lusuh duduk termenung dan menangis menyaksikan teman-temannya yang sedang asik bermain.
Nabi SAW bertanya: “Wahai anak kecil, apa yang menjadikanmu menangis? Kenapa kamu tidak ikut bermain bersama mereka?”
Anak kecil yang ditanya tidak tahu kalau seorang lelaki yang bertanya adalah seorang utusan Allah (Rasulullah SAW).
Anak kecil itu menjawab: “Wahai lelaki, ayahku sudah wafat, sedangkan ibuku menikah lagi. Ibuku menguasai harta benda peninggalan ayahku, dan suaminya mengusirku dari rumah. Aku tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Pada hari ini ketika aku melihat anak-anak yang masih memiliki orang tua bermain dengan riang gembira, aku jadi teringat musibah yang menimpa ayahku dan menjadikan aku begini (merasa kesusahan). Karena alasan inilah, aku menangis.”
Lalu Rasulullah SAW merangkulnya sembari bersabda: “Wahai anak kecil, apakah engkau berkenan jika aku menjadi ayahmu, ‘Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudara lelakimu, dan Fathimah menjadi saudara perempuanmu?”
Mendengar tawaran tersebut, anak kecil yang sebelumnya sangat terluka hatinya itu menjadi tahu bahwa sosok lelaki di depannya itu adalah Rasulullah SAW.
Bocah itu memberikan jawaban: Kalau begitu bagaimana aku tidak setuju ya Rasulallah?
Lalu Nabi Muhammad SAW membawa anak kecil itu ke rumahnya. Nabi SAW memberinya pakaian bagus, memberi makan, dan mendandaninya hingga terlihat bersih dan gagah.
Anak kecil itu keluar dari rumah Rasulullah SAW dalam keadaan tertawa bahagia.
Melihat anak yang sebelumnya sendirian dan menangis berubah menjadi bahagia, teman-temannya bertanya: “Kenapa sekarang kamu menjadi bahagia padahal sebelumnya menangis dan bersedih?”
Anak itu menjawab: “Sebelumnya saya lapar, sekarang saya kenyang. Sebelumnya saya tidak punya pakaian, sekarang saya berpakaian. Sebelumnya saya tidak punya ayah dan ibu, sekarang saya punya ayah Rasulullah SAW, memiliki ibu Aisyah, punya saudara laki-laki Hasan dan Husain, punya paman Ali, dan punya saudara perempuan Fathimah. Bagaimana saya tidak bahagia?”
Anak-anak kecil yang sebelumnya bermain dengan riang gembira itu menjadi berbalik sedih dan iri. Mereka berkata: “Andai saja ayah kami juga sahid meninggal dunia di jalan Allah, pasti kami pun kini akan bernasib seperti engkau, yakni diangkat menjadi anak Rasulullah SAW.”
Ketika Rasulullah SAW wafat bocah yang diangkat menjadi anak Rasulullah SAW itu sangat terpukul hatinya.
Ia berkata: “Kini aku kembali menjadi orang asing yang tidak memiliki kedua orang tua.”
Lalu anak itu diadopsi oleh Abu Bakar Ash-Shidiq Radliyallahu Anhu.
Jamaah Idul Fitri yang Dimuliakan Allah
Dua hal di atas, yakni kewajiban membayar zakat fitrah yang diberikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan primernya dan kisah Nabi Muhammad SAW di dalam membahagiakan anak yatim miskin pada hari raya Idul Fitri memiliki makna bahwa hari raya Idul Fitri sebagai “hari kebahagiaan” (yaum al-farah) artinya tidak hanya meliputi “kebahagiaan karena kita semua telah berbuka” atau “menyelesaikan ibadah puasa” dan “kebahagiaan karena kelak di akhirat kita akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah”, tapi juga karena pada hari ini orang-orang yang berzakat sama dengan telah berbagi kebahagiaan kepada sesama, terutama kepada mereka yang selama ini kelaparan dan berada di dalam kesengsaraan.
Semoga semangat Idul Fitri yang mendorong setiap orang untuk berbagi melalui kewajiban zakat fitrah terus melekat kepada semua orang di dalam menjalani hari-hari berikutnya untuk terus melakukan kebaikan, berbagi kasih sayang dan kebahagiaan kepada sesama dalam berbagai bentuknya; materi, tenaga, pikiran, tegur sapa, dan ketenangan, serta memberi rasa aman kepada semua. (*)