WARTAKOTALIVE.COM, KARAWANG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang kembali menghidupkan tradisi bedug yang telah lama hilang dengan menggelar Festival Ngadulag atau Bedug dan Takbir Keliling di Jalan Ahmad Yani depan kantor Bupati Karawang pada Jumat (20/3/2026) malam.
Berdasarkan pantauan, antusiasme masyarakat begitu terasa dalam gelaran Festival Ngadulag dan Takbir Keliling tingkat Kabupaten Karawang dalam momen malam takbiran Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.
Total ada 14 peserta di titik depan kantor bupati karawang. Terlihat ribuan warga memadati lokasi.
Suasana malam takbiran berlangsung meriah namun tetap kondusif. Masyarakat dari berbagai kalangan tampak menikmati penampilan arak dulag atau bedug yang ditampilkan masing-masing kecamatan.
Salah satu peserta, Udin Puyuh, perwakilan Kecamatan Telukjambe Barat dari Desa Margakaya, grup Limas Kencleng, mengaku bangga bisa ambil bagian dalam festival tersebut. Ia menyebut keikutsertaannya berawal dari penunjukan pihak kecamatan.
“Saya perwakilan dari Kecamatan Telukjambe Barat, Desa Margakaya. Awalnya saya juga tidak tahu apa-apa, tapi karena diminta perwakilan dari kecamatan, ya saya ikuti saja,” ujarnya saat diwawancarai di Jalan Ahmad Yani depan Gedung Pemkab Karawang pada Jum'at, (21/3/2026).
Ia menegaskan, kelompoknya mengusung konsep sederhana dengan tetap mempertahankan keaslian alat musik tradisional.
Tidak ada sentuhan modern, seluruh instrumen dibuat dari bahan alami seperti dulag dari pohon gebang, kohkol, hingga peralatan sederhana seperti panci dan kecrek.
“Saya tidak pakai yang mewah-mewah. Ini asli dulag, alami. Sesuai arahan juga, jangan pakai yang modern seperti organ. Yang penting takbir dan tetap tradisional,” katanya.
Meski tampil sederhana, semangat untuk menjadi yang terbaik tetap ada. Namun baginya, yang terpenting adalah bisa berpartisipasi dan memeriahkan malam takbiran.
“Harapannya ya menang, walaupun kita tampil alami,” ucapnya singkat.
Baca juga: 760 Personel Gabungan Amankan Malam Takbiran di Jakarta Barat
Menurutnya, festival ini menjadi angin segar bagi masyarakat, terutama dalam menghidupkan kembali tradisi arak bedug yang sempat vakum. Ia mengungkapkan, kegiatan serupa sebenarnya pernah ada sejak puluhan tahun lalu, namun perlahan menghilang.
“Dulu saya pernah ikut sekitar tahun 90-an. Sempat hampir hilang, sekarang dibangkitkan lagi. Alhamdulillah, ini bagus sekali,” ungkapnya.
Ia juga menilai, kehadiran festival ini membawa dampak positif, terutama dalam menjaga ketertiban masyarakat saat malam takbiran. Jika sebelumnya aktivitas warga cenderung tidak terarah, kini lebih terorganisir dan penuh makna.
“Kalau dulu paling keliling saja, kadang malah bisa ke arah yang kurang baik. Sekarang alhamdulillah lebih tertib, ada bimbingan, ada kegiatan yang jelas,” tuturnya.
Hidupkan Kembali Tradisi Bedug
Diketahui, Pemerintah Kabupaten Karawang menggelar Festival Ngadulag dan Takbir Keliling tingkat kabupaten dalam rangka menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 hijriah.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 kecamatan yang tersebar di tiga titik pelaksanaan, yakni di kawasan Pemda Karawang, Cikampek, dan Tirtajaya.
Festival Ngadulag dan Takbir Keliling memberikan hadiah juara 1 Rp 5 juta, juara 2 Rp 3 juta, dan juara 3 Rp 2 juta.
Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang menjadi tradisi masyarakat tersebut.
Ia mengatakan, Festival Ngadulag tahun ini dikemas berbeda dengan membagi lokasi kegiatan agar masyarakat tidak perlu terpusat di satu titik.
“Alhamdulillah, tak terasa 30 hari bulan suci Ramadan telah kita jalankan. Hari ini adalah hari kemenangan kita. Insyaallah besok kita melaksanakan salat Id bersama,” ujar Aep dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, pembagian tiga titik kegiatan bertujuan untuk memudahkan partisipasi masyarakat di setiap wilayah kecamatan.
Menurutnya, konsep ini juga memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta untuk menampilkan kreativitas terbaiknya.
“Tahun ini ada tiga titik kegiatan, di Pemda, Cikampek, dan Tirtajaya. Kita ingin setiap kecamatan tidak harus datang ke pusat kabupaten Karawang,” katanya.
Lebih lanjut, Aep menegaskan bahwa Festival Ngadulag bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat identitas Karawang sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, sumber daya manusia, serta nilai religius.
“Dengan dulag atau bedug ini kita kembalikan tradisi. Karawang dikenal sebagai lumbung padi, kota industri, dan juga memiliki lebih dari 500 pesantren di bawah Kementerian Agama,” ungkapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut memeriahkan malam takbiran dengan tetap menjaga ketertiban. Pemerintah daerah, kata dia, telah memberikan ruang bagi masyarakat untuk menggelar takbir keliling, dengan mekanisme pendaftaran di masing-masing kecamatan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat, malam takbiran ini boleh melaksanakan bedug keliling. Setiap kecamatan sudah kami fasilitasi untuk mendaftarkan diri,” tambahnya.
Dalam festival ini, setiap kecamatan mengirimkan perwakilan terbaiknya untuk dinilai oleh dewan juri. Penilaian dilakukan secara objektif guna menentukan peserta terbaik dari masing-masing titik.
“Harapannya, melalui kegiatan ini kita semua kembali fitri, dan semoga tahun depan kita masih dipertemukan dengan Ramadan dan Idulfitri,” kata Aep. (MAZ)