TRIBUNJAMBI.COM - Steve Sweeney, jurnalis asal Ingrris, nyaris meledak kena rudal Israel.
Jurnalis itu menjadi sasaran rudal Israel, menyusul pengakuan resmi pasukan tempur negara tersebut, atas serangan terhadap pasukan perdamaian PBB (UNIFIL).
Baru-baru ini, Steve Sweeney, Kepala Biro RT (Russian Today) asal Inggris yang bertugas di Lebanon, dilaporkan terluka setelah sebuah rudal Israel mendarat hanya beberapa meter dari posisinya meliput.
Rekaman video yang telah diverifikasi menunjukkan detik-detik mencekam saat rudal menghantam tanah dan Sweeney segera merunduk di tengah hujan serpihan material ledakan.
Steve dan juru kameranya lolos dari maut, disebut pihak media sebagai sebuah "keajaiban".
Pemimpin Redaksi RT, Margarita Simonyan, melalui pernyataan resminya mengungkapkan bahwa sebuah pesawat Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menembaki mobil yang membawa Steve saat mereka tengah menyeberangi sebuah jembatan di wilayah selatan Lebanon.
"Koresponden kami Steve Sweeney terluka oleh serangan Israel di Lebanon. Sebuah pesawat IDF menembaki kendaraan yang membawa Steve dan juru kameranya. Keduanya saat ini dalam keadaan sadar di rumah sakit, dan dokter sedang mendiagnosis sejauh mana kerusakan akibat serpihan misil," tulis Simonyan dikutip Deadline.
Insiden yang menimpa jurnalis RT ini menambah daftar panjang kekeliruan target oleh militer Israel.
IDF akhirnya mengakui bahwa tembakan tank mereka secara keliru menghantam posisi pasukan perdamaian PBB di selatan Lebanon pada 6 Maret lalu.
Dalam pernyataan resminya kepada Reuters, IDF berdalih bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap tembakan rudal anti-tank dari kelompok Hizbullah yang melukai dua tentara Israel.
Alih-alih mengenai musuh, tiga peluru tank 120-mm M339 justru menghantam pangkalan Al-Qawzah.
"Investigasi komprehensif menentukan bahwa tembakan yang mengenai personel UNIFIL dilakukan secara keliru oleh pasukan IDF yang salah mengidentifikasi pasukan UNIFIL sebagai sumber tembakan anti-tank," bunyi pernyataan resmi IDF, dikutip Times of Israel.
Akibat insiden tersebut, tiga tentara asal Ghana yang tergabung dalam misi perdamaian mengalami luka-luka.
Pihak IDF menyatakan penyesalan mendalam dan telah menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah Ghana serta PBB.
Serangan terhadap posisi PBB dan awak media ini menggarisbawahi risiko besar yang dihadapi pihak non-kombatan di tengah memanasnya konflik antara Israel dan Hizbullah.
Sumber militer Barat mencatat bahwa tembakan tank ke pangkalan PBB terjadi dalam rentang waktu lima menit, yang menunjukkan adanya tembakan berulang, bukan sekadar peluru nyasar tunggal.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menegaskan bahwa keselamatan penjaga perdamaian adalah kewajiban semua pihak sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan rudal Iran menghantam fasilitas gas alam cair (LNG) terbesar Qatar di Ras Laffan.
Al Jazeera melaporkan, serangan tersebut memicu kebakaran hebat dan menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur vital negara eksportir energi itu.
Pemerintah Qatar mengonfirmasi adanya kerusakan pada fasilitas produksi, meski tidak ada laporan korban jiwa.
BBC menulis, serangan ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan energi global, mengingat Qatar adalah salah satu pemasok LNG terbesar dunia.
CNBC juga menyoroti dampak langsung pada pasar energi internasional.
Harga gas melonjak tajam setelah kabar serangan menyebar, mencerminkan ketakutan investor terhadap potensi gangguan pasokan jangka panjang.
Qatar selama ini menjadi pemasok utama bagi Eropa dan Asia, sehingga setiap gangguan di Ras Laffan berpotensi mengguncang rantai pasokan energi global.
Channel News Asia melaporkan, serangan rudal Iran menimbulkan kerusakan luas di hub gas Ras Laffan, yang menjadi pusat ekspor LNG Qatar.
Pemerintah Qatar menyebut pihaknya sedang melakukan penilaian teknis untuk memastikan tingkat kerusakan dan langkah pemulihan.
Namun, proses perbaikan diperkirakan tidak akan mudah mengingat kompleksitas fasilitas tersebut.
Serangan ini memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Iran sebelumnya telah meningkatkan retorika konfrontatif terhadap negara-negara Teluk yang dianggap dekat dengan Barat.
Qatar, meski berusaha menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai pihak, kini menghadapi ancaman langsung terhadap aset strategisnya.
Dampak serangan tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga secara global.
Pasar energi internasional bereaksi cepat dengan kenaikan harga LNG dan minyak.
Analis memperingatkan bahwa jika kerusakan berlangsung lama, dunia bisa menghadapi krisis energi baru yang memperparah ketidakpastian global.
Selain itu, serangan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keamanan infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Fasilitas LNG Qatar selama ini dianggap sebagai salah satu yang paling aman dan modern di dunia.
Namun, serangan rudal menunjukkan bahwa bahkan sistem pertahanan canggih sekalipun tidak sepenuhnya kebal terhadap ancaman militer.
BBC melaporkan, negara-negara G7 mendesak agar ketegangan segera diredakan dan menyerukan perlindungan terhadap infrastruktur energi global.
Mereka menilai, serangan terhadap fasilitas energi bukan hanya ancaman bagi satu negara, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi dunia.
Al Jazeera menambahkan, pemerintah Qatar kini tengah berkoordinasi dengan mitra internasional untuk memastikan pasokan energi tetap berjalan.
Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi karena belum jelas seberapa parah kerusakan yang terjadi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan penuh.
Serangan rudal Iran ke fasilitas LNG Qatar menjadi peringatan keras bagi dunia bahwa energi dan geopolitik tidak bisa dipisahkan.
Dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ancaman terhadap pasokan energi global semakin nyata.
Dunia kini menunggu langkah diplomatik berikutnya untuk meredakan krisis yang berpotensi mengguncang ekonomi internasional. (Tribunnews.com/William/Andari Wulan Nugrahani)
Sumber: Tribunnews
Baca juga: Iran vs Israel, Jet F-35 AS Mendarat Darurat Tapi Amerika Tidak Mengaku
Baca juga: Jambi Dikepung Cuaca Buruk, Peringatan Dini Sumsel Riau Sumbar dan Bengkulu