Salat Idulfitri di Sukoharjo Batal, Panitia Diintimidasi dan Diancam Oknum Aparat
Darwin Sijabat March 21, 2026 12:11 PM

 

 

TRIBUNJAMBI.COM - Dinamika perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah kembali menyisakan cerita kelam di tingkat akar rumput. 

Di tengah seruan kedewasaan beragama, rencana pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 H pada Jumat (20/3/2026) di Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, terpaksa dibatalkan.

Pembatalan itu akibat dugaan intimidasi dan tekanan dari oknum aparat serta pihak desa.

Ketua PRM Muhammadiyah Desa Kedungwinong, Muhamad Zuhri, mengungkapkan keputusan pahit ini diambil demi menjaga keselamatan jemaah dan menghindari gesekan fisik.

Keputusan itu tetap diambil meski hak konstitusional warga untuk beribadah sesuai keyakinan akhirnya harus terkorbankan.

Namun, alih-alih perlindungan, mereka justru mendapat peringatan keras yang bernada ancaman.

Ketegangan memuncak saat malam sebelum pelaksanaan. 

Baca juga: Makna Idulfitri 1447 H Bagi Jokowi: Kesabaran dan Memaafkan

Baca juga: Trump Amuk NATO, Sebut Macan Kertas Pengecut Hadapi Blokade Iran 

Ketika warga sedang bekerja bakti menyiapkan lokasi salat, oknum aparat mendatangi masjid dengan nada bicara yang tegas dan intimidatif. 

Berdasarkan pengakuan Zuhri, aparat tersebut mengklaim bahwa kepala desa secara konsisten menolak memberikan izin.

"Saya mendapat informasi dari Pak Lurah dan warga, katanya Kedungwinong mau mengadakan salat id. Apa sudah izin pak Lurah? Kalau izin tidak diizinkan. Pak lurah mengatakan kepada saya beberapa kali, kalau minta izin tidak saya izinkan," kata Zuhri menirukan ucapan oknum tersebut.

Membatalkan Demi Keselamatan Jemaah

Meskipun pengurus takmir masjid sempat memberikan penguatan moral untuk terus melanjutkan persiapan, panitia akhirnya memilih mundur. 

Zuhri menegaskan bahwa tidak ada pembubaran secara fisik karena pihak panitia memutuskan membatalkan acara beberapa jam sebelum pelaksanaan dimulai.

"Tidak dihentikan, tapi saya membatalkan karena tidak bisa menjamin keselamatan jamaah dan kekhusyukan ibadah," pungkasnya sedih.

Zuhri merasa terenyuh melihat kenyataan bahwa di negara yang sudah merdeka, masih ada warga yang harus menumpang ke desa lain hanya untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

"Berhubung ada semacam intimidasi, walaupun belum terjadi secara fisik, tetapi kata-kata itu sangat mencederai sebagian umat muslim yang ingin menjalankan ibadah. Saya bukan hanya memfasilitasi umat Muhammadiyah saja, tetapi semua umat muslim yang memiliki perbedaan agar bisa beribadah tanpa harus pindah ke desa lain," tutupnya.

 

Baca juga: Pesan Idulfitri 1447 H dari Istiqlal: Rawat Kerukunan dan Berantas Korupsi

Baca juga: Makna Idulfitri 1447 H Bagi Jokowi: Kesabaran dan Memaafkan

Baca juga: Salat Id di Kantor Wali Kota Jambi, Jemaah Meluber hingga Luar Area

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.