Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung- Pelaksanaan salat Idul Fitri di kawasan pesisir selalu menghadirkan cerita tersendiri.
Tahun ini, suasana berbeda terasa di Pulau Pasaran, Kecamatan Teluk Betung Timur, Bandar Lampung.
Warga menggelar salat Id di area jembatan yang kerap disebut sebagai masjid terapung oleh masyarakat. Karena posisinya di atas laut dan menjadi akses utama keluar masuk pulau.
Ketua pelaksana, Toto Hariyanto mengatakan, pelaksanaan salat Id di lokasi tersebut merupakan hasil kesepakatan panitia bersama pengurus masjid dan PHBI setempat.
Ide ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun sebelumnya, seiring meningkatnya jumlah jemaah yang tidak lagi tertampung di lapangan biasa.
Baca juga: Jalanan Kota Bandar Lampung Sepi di Hari Pertama Lebaran 2026
"Setiap tahun jemaah terus bertambah. Lapangan yang ada sudah tidak cukup, sehingga kami mencari alternatif tempat yang lebih luas dan representatif," ujarnya.
Jembatan Pulau Pasaran yang membentang di atas perairan pun dipilih. Selain memiliki kapasitas lebih besar, lokasi ini dinilai strategis karena menjadi titik utama aktivitas warga.
Sejak pagi hari, ratusan hingga ribuan jemaah tampak memadati area tersebut, bahkan sebagian datang dari wilayah sekitar seperti Cungkok.
Pemandangan laut yang mengelilingi lokasi salat menghadirkan suasana yang khusyuk sekaligus berbeda dari biasanya.
Angin laut yang berhembus pelan menambah kenyamanan jemaah saat menjalankan ibadah di hari kemenangan.
Bagi warga, pelaksanaan salat Id di atas jembatan bukan sekadar solusi keterbatasan tempat, tetapi juga memiliki makna tersendiri.
Lokasi ini menjadi simbol keterbukaan dan kebersamaan, sekaligus bentuk syiar Islam di ruang publik.
"Ini bukan hanya soal tempat, tapi bagaimana kita bisa bersama-sama merayakan Idul Fitri dengan penuh kebersamaan dan kekhusyukan," kata salah satu panitia.
Momentum Idul Fitri sendiri dimaknai warga Pulau Pasaran sebagai puncak dari perjalanan spiritual selama bulan Ramadan.
Setelah sebulan penuh menahan diri dan meningkatkan ibadah, hari raya menjadi waktu untuk kembali kepada fitrah, mempererat silaturahmi, dan saling memaafkan.
Pelaksanaan salat Id di masjid terapung ini pun diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat luas, bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk beribadah dengan nyaman dan penuh makna.
Di tengah hamparan laut dan langit pagi yang cerah, warga Pulau Pasaran menunjukkan bahwa kebersamaan adalah inti dari perayaan Idul Fitri.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )