Pertahanan Teluk Jebol, AS Kebut Kirim Sistem Anti-Drone dan Radar Canggih Hadapi Serangan Iran
Amirullah March 21, 2026 01:41 PM

SERAMBINEWS.COM – Situasi keamanan di kawasan Teluk memanas. 

Pemerintah Amerika Serikat terlihat berpacu dengan waktu, mempercepat pengiriman berbagai sistem pertahanan ke negara-negara Arab serta pasukannya yang berada di kawasan tersebut.

Langkah ini bukan tanpa alasan. 

Serangan rudal dan drone dari Iran dinilai semakin presisi, konsisten, dan sulit diprediksi.

Kondisi ini membuat celah pertahanan yang sebelumnya dianggap aman, kini mulai terlihat rapuh.

Penguatan militer yang dilakukan mencakup pengiriman sistem pertahanan udara, radar modern, hingga teknologi anti-drone.

Baca juga: Idul Fitri dan 116 Hari “Normal Baru” Bencana Aceh: Kehadiran Negara vs Kasih Sayang Negara

Selain itu, percepatan penjualan senjata bernilai fantastis juga ikut didorong.

Pengerahan peralatan militer ini mencakup percepatan penjualan senjata senilai 23 miliar dollar AS atau sekitar Rp 389 triliun, sebagaimana dilansir The Wall Street Journal, Jumat (20/3/2026).

Kekhawatiran datang dari Pentagon yang menilai ancaman belum mereda.

Iran disebut masih memiliki kemampuan melancarkan serangan yang melumpuhkan, bahkan ketika stok rudal pencegat milik sekutu mulai menipis.

Di sisi lain, drone yang digunakan pihak lawan terus menunjukkan kemampuan menembus sistem pertahanan yang ada.

Menariknya, meski Amerika Serikat bersama Israel telah menggempur lebih dari 16.000 target di Iran—mulai dari peluncur rudal hingga gudang drone—Teheran tetap mampu menjaga intensitas serangannya.

Baca juga: Hegemoni AS Rontok, Iran Berhasil Targetkan Jet Tempur Siluman AS F-35 Paling Canggih di Dunia

Pekan ini saja, laporan menyebut serangan Iran menghantam fasilitas vital energi di kawasan Teluk.

Kilang minyak di Kuwait dan Arab Saudi ikut terdampak.

Tak hanya itu, fasilitas gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar juga mengalami kerusakan serius. Dampaknya tidak main-main.

Menurut Menteri Energi Qatar, kerusakan tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Situasi makin rumit ketika Iran disebut berhasil melumpuhkan sejumlah radar pertahanan udara dan sistem peringatan dini milik AS dan sekutunya.

Akibatnya, deteksi terhadap serangan yang datang menjadi jauh lebih sulit.

Dalam laporan yang beredar, Iran juga diduga mendapat dukungan dari Rusia.

Moskwa disebut memperluas kerja sama dengan berbagi citra satelit serta teknologi drone mutakhir.

Baca juga: "Rudal Iran" Jadi Tontonan Warga Aceh, Saat Pawai Takbiran Idul Fitri 2026

Aturan darurat

Kementerian Luar Negeri AS menggunakan aturan darurat guna melewati peninjauan Kongres yang biasanya diberlakukan untuk kesepakatan senjata besar.  

Paket senjata ini mencakup 11 kesepakatan terpisah untuk Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Yordania. Rinciannya adalah 1,2 miliar dollar AS untuk ratusan rudal udara-ke-udara tingkat lanjut (AMRAAM) yang dapat digunakan menembak jatuh drone, 5,6 miliar dollar AS untuk rudal pertahanan udara PAC-3, 4,5 miliar dollar AS untuk peralatan radar THAAD, dan 2 miliar dollar AS untuk sistem anti-drone yang mengintegrasikan radar, perang elektronik, dan meriam.

Selain itu, Kuwait juga akan menerima peralatan pertahanan udara senilai 8 miliar dollar AS.

Meski demikian, Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa saat ini mereka telah memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang canggih untuk melindungi negaranya.

Di sisi lain, konflik berkepanjangan di Ukraina dan Timur Tengah telah menguras pasokan rudal pencegat global.  

Banyak senjata yang dijanjikan dalam kesepakatan ini diperkirakan baru bisa dikirimkan dalam beberapa tahun ke depan karena kendala manufaktur.

Mark Cancian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyoroti urgensi situasi ini.

"Dalam perang ini, satu-satunya hal yang berarti adalah apa yang tersedia hari ini. Negara-negara Teluk telah menggunakan banyak stok mereka," ujar Cancian.

Iran tampaknya sedang memainkan strategi jangka panjang dengan mengandalkan drone Shahed yang murah, hanya berbiaya puluhan ribu dollar AS, namun dapat diproduksi massal dengan cepat.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengakui kekuatan persenjataan Iran dalam konferensi pers di Pentagon pada Kamis (19/3/2026).

"Seperti yang kami katakan dan selalu kami sampaikan, jelas mereka memasuki pertempuran ini dengan membawa senjata yang sangat banyak," tegas Caine.

Kini, AS dan Israel berfokus untuk menyerang kru drone dan rudal Iran sebelum mereka sempat meluncurkan senjatanya, meski waktu yang tersedia bagi jet tempur untuk beraksi sering kali hanya dalam hitungan menit.


Sumber: KOMPAS.COM

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.