Toleransi di Lampung, Pecalang hingga Pemuda Katolik Jaga Salat Id di Masjid Al-Bakrie
Kiki Novilia March 21, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Matahari Sabtu pagi, 21 Maret 2026, baru saja menyembul di ufuk timur saat gema takbir bersahut-sahutan menembus sela-sela menara Masjid Raya Al-Bakrie, Enggal, Bandar Lampung.

Di tengah ribuan umat Muslim yang berbondong-bondong membawa sajadah menuju saf-saf salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah, ada pemandangan yang menyejukkan sanubari.

Di pelataran masjid, sejumlah pria berpakaian adat khas Bali dengan kain poleng melingkar di pinggang dengan rompi bertuliskan Pecalang di punggung. 

Beberapa meter di dekatnya, berdiri sejumlah umat buda yang dipimpin seorang Romo tengah berbincang santai dengan pemuda Katolik, polisi serta Satpol PP sembari memantau situasi keamanan di area masjid.

Di momen itu, mereka tidak sedang merayakan hari besar agamanya masing-masing, melainkan menjaga agar ibadah saudara muslim mereka agar berlangsung khusyuk dan damai.

Baca juga: Salat Id di Masjid Raya Al-Bakrie, Ini Pesan Gubernur Mirza untuk Warga Lampung

I Made Suama, anggota FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Provinsi Lampung dari umat Hindu, menyebut kehadiran mereka bukan sekadar tugas organisasi, melainkan sebuah bentuk toleransi yang harus di rawat.

Terlebih, beberapa hari lalu, tepat 18 Maret 2026, umat Hindu baru saja merayakan Nyepi yang tahun ini jatuhnya hampir berbarengan dengan momentum Idul Fitri. 

Made mengenang bagaimana suasana di pemukiman umat Hindu di Labuhan Dalam saat itu.

"Kemarin pas Nyepi, kami dijaga oleh saudara kami umat Muslim dan Kristen di Labuhan Dalam. Kami merasa aman dan nyaman melaksanakan Nyepi karena mereka. Hari ini, giliran kami yang merawat keragaman itu," ujar Made.

Sebanyak 24 Pecalang ia kerahkan di Masjid Al-Bakrie, sementara ratusan lainnya tersebar di titik-titik lain seperti Masjid Al-Furqon dan sejumlah titik lain di Provinsi Lampung. 

Bagi Made, kerukunan adalah barang mewah yang harus dijaga harganya. 

"Kalau tidak damai, ekonomi terganggu, pemerintahan pun terganggu. Indonesia ini milik bersama," tambahnya.

Di sisi lain, Viria Parama, seorang Rohaniwan atau Romo umat Buddha, memandang kedekatan tanggal perayaan Nyepi dan Idul Fitri seolah menjadi cara semesta mengingatkan manusia tentang esensi keberagaman.

"Di Buddha, momen ini adalah simbol kebangkitan dari Adharma menjadi Dharma. Dari yang tidak baik menjadi baik," kata Viria.

Ia menekankan bahwa semua agama, baik Hindu, Islam, maupun Buddha, memiliki muatan kearifan yang sama, yakni membentuk manusia yang unggul secara moral.

"Kami bersatu, dari Bali, Buddha, Tionghoa, hingga Kristen, kami panggil semua untuk membersamai. Niatnya satu, Bhinneka Tunggal Ika," tegasnya.

Hal senada diungkapkan Krisna, perwakilan dari Pemuda Katolik, yang hadir bersama sembilan rekannya. 

Kehadiran mereka seolah menjadi jembatan bagi masa depan toleransi di Lampung.

"Harapan kami sederhana, semoga di momen suci ini, hubungan kita sesama umat beragama bisa terus terjaga. Toleransi bukan hanya kata-kata, tapi aksi nyata di lapangan," ungkap Krisna.

Pagi itu di Enggal, Masjid Raya Al-Bakrie tidak hanya menjadi saksi bisu kemenangan umat Muslim setelah sebulan berpuasa. Ia juga menjadi panggung besar bagi potret mini Indonesia yang sesungguhnya. 

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.