Makna Bhinneka Tunggal Ika di Balik Nyepi dan Idul Fitri
Sri Juliati March 21, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman budaya, suku, dan agama. 

Dalam satu tahun, masyarakat Indonesia merayakan berbagai hari besar keagamaan dengan tradisi yang berbeda-beda. 

Perbedaan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang telah berlangsung lama dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Pada momen tertentu, dua perayaan keagamaan bahkan dapat hadir dalam waktu yang berdekatan. 

Hal ini juga terjadi pada tahun 2026, ketika Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri jatuh dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. 

Situasi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia hidup berdampingan di tengah keberagaman keyakinan dan tradisi.

Menariknya, kedua perayaan ini memiliki suasana yang sangat berbeda. 

Hari Raya Nyepi identik dengan suasana yang hening dan tenang, di mana umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian dengan membatasi aktivitas, perjalanan, hingga penggunaan suara. 

Sebaliknya, malam Idul Fitri justru identik dengan lantunan takbir yang dikumandangkan umat Muslim di masjid-masjid menggunakan pengeras suara sebagai ungkapan syukur menyambut hari kemenangan. 

Perbedaan suasana yang kontras inilah yang menjadikan momen ketika Nyepi dan Idul Fitri berdekatan sebagai gambaran nyata bagaimana toleransi dan saling pengertian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Agama bahkan telah merilis panduan khusus terkait pelaksanaan dua perayaan tersebut. 

Panduan ini disusun karena Hari Raya Nyepi pada 19 Maret 2026 bertepatan dengan malam takbiran menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. 

Penyusunan panduan tersebut dilakukan melalui koordinasi antara Kementerian Agama, pemerintah daerah, tokoh agama, serta tokoh masyarakat di Bali.

Baca juga: Ucapan Idul Fitri dari Menag Nasaruddin Umar: Kemenangan Idul Fitri, Momentum Meraih Keberkahan

Memahami Arti Bhinneka Tunggal Ika

Salah satu nilai penting yang diperkenalkan dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika. 

Semboyan tersebut memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Makna ini menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang suku, budaya, bahasa, dan agama, namun tetap bersatu sebagai satu bangsa.

Keberagaman tersebut merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang patut disyukuri. Cara mensyukurinya dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai. 

Justru seluruh perbedaan menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional yang dimiliki bersama oleh bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi slogan semata, tetapi juga menjadi filosofi yang melandasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Melalui sikap toleransi dan rasa saling menghargai, keberagaman yang dimiliki Indonesia dapat menjadi kekuatan yang menjaga persatuan bangsa.

Belajar Sikap Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari

Nilai Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya dipahami sebagai konsep dalam buku pelajaran, tetapi juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Secara umum, toleransi merupakan sikap menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di masyarakat, baik perbedaan agama, suku, budaya, maupun pandangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap toleransi dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana di lingkungan sekolah maupun masyarakat, seperti:

  • Menghormati teman yang sedang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.
  • Tidak mengejek atau merendahkan budaya, bahasa, maupun kebiasaan dari daerah lain.
  • Menghargai perbedaan pendapat saat berdiskusi di kelas atau di lingkungan pergaulan.
  • Berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan latar belakang agama, suku, atau budaya.
  • Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjalankan kegiatan keagamaannya dengan tenang.
  • Menjaga sikap sopan dan menghormati orang lain dalam pergaulan sehari-hari.

Pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini. Melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila, siswa diperkenalkan pada pentingnya sikap toleransi, nasionalisme, serta rasa saling menghargai di tengah keberagaman. 

Dengan pembiasaan sikap tersebut, nilai toleransi tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi juga menjadi perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menumbuhkan Sikap Saling Menghargai Sejak Dini

Perayaan hari raya yang berbeda, seperti Nyepi dan Idul Fitri, juga dapat menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia telah lama hidup dalam keberagaman. 

Meskipun memiliki tradisi dan cara beribadah yang berbeda, setiap umat beragama tetap dapat menjalankan keyakinannya dengan saling menghormati satu sama lain. 

Situasi ini menunjukkan bahwa perbedaan tidak menghalangi masyarakat Indonesia untuk tetap hidup rukun dan harmonis.

Menariknya, fenomena berdekatan atau bahkan bersamaan antara Nyepi dan Idul Fitri bukanlah hal yang sepenuhnya baru. 

Dalam catatan sebelumnya, kedua hari raya ini pernah jatuh pada tanggal yang sama, yaitu pada 3 Maret 1995. 

Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia telah memiliki pengalaman panjang dalam menjaga toleransi di tengah perbedaan. 

Sejak dulu, nilai saling menghormati sudah tumbuh dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga perbedaan perayaan tidak menjadi sumber konflik, melainkan justru memperkuat harmoni dalam keberagaman.

Dengan menanamkan sikap saling menghargai sejak dini, generasi muda Indonesia diharapkan dapat menjadi bagian dari masyarakat yang menjunjung tinggi nilai toleransi. 

Melalui sikap tersebut, semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi semboyan bangsa, tetapi juga menjadi nilai yang benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.