Keterbatasan Ekonomi, Korban Bencana di Kapalo Koto Padang Tak Mampu Buat Kue di Momen Lebaran
Rezi Azwar March 21, 2026 05:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Korban banjir bandang di Hunian Sementara dan Layak (Huntara/Hunsela) Kampung Talang, Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mengaku tidak sanggup membuat kue Lebaran Idul Fitri 2026 secara mandiri.

Hal ini dikarenakan kondisi ekonomi yang terbatas pascabanjir bandang menghantam rumah, lahan pertanian, dan harta benda mereka pada akhir November 2025 lalu.

Saat ini mereka masih menetap di hunsela, menghabiskan Lebaran di bawah bayang-bayang trauma bencana bersama keluarga.

Seorang penyintas banjir, Jonmic, mengaku Lebaran tahun ini terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Kunjungan Pemudik Naik 12 Persen, Gubernur Mahyeldi Pastikan Lebaran di Sumbar Aman dan Nyaman

korban bencana di pauh padang 2 21/3/2026
LEBARAN 2026- Korban banjir bandang di Hunian Sementara dan Layak (Huntara/Hunsela) Kampung Talang, Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sabtu (21/3/2026).

Mulai dari harus merayakan momen tersebut di hunsela, tidak sanggup mengolah kue sendiri, hingga suasana hati yang masih berduka.

"Bagaimana mau membuat kue Lebaran, uang tidak ada, usaha juga tidak ada, rumah habis," ucapnya saat ditemui TribunPadang.com, Sabtu (21/3/2026).

Padahal pada tahun lalu, ia dan keluarga terbiasa memproduksi kue sendiri. Namun tahun ini, ia hanya bisa membeli kue yang sudah jadi dalam jumlah terbatas, demi tetap bisa merasakan suasana kemenangan.

Beberapa penganan yang ia beli di antaranya adalah kue inai, kue bawang, keripik pisang, hingga kacang telur.

Baca juga: Lebaran di Hunsela Kampung Talang Padang, Eva Susanti: Uang Tidak Ada dan Fasilitas Terbatas

"Alhamdulillah ada sedikit rezeki dari orang lain, dibelikan ke kue agar bisa merayakan Lebaran meski di Hunsela," jelasnya.

Senada dengan Jonmic, korban bencana lainnya, Eva Susanti, juga mengatakan bahwa ia tak mampu memproduksi kue Lebaran tahun 2026 ini.

Keuangan yang menipis serta trauma bencana yang masih membekas di hati melunturkan semangatnya untuk beraktivitas di dapur.

Padahal, sebelum bencana melanda, ia selalu rutin membuat kue bainai khas Pauh setiap tahunnya.

"Melihat kondisi begini, keinginan membuat kue menjadi hilang. Tidak ada uang, belum lagi harus membeli alat-alatnya yang sudah hilang diterjang banjir. Jadi terpaksa beli jadi saja, meski rasanya tentu lebih enak jika dibuat sendiri," terang Eva.

Meski demikian, momen Lebaran tahun ini tetap ia jalani dengan ikhlas. Eva mengaku bahwa bencana yang terjadi merupakan kehendak Sang Pencipta yang harus diterima dengan lapang dada.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.