Tradisi THR dan Silaturahmi Warnai Lebaran di Mantung, Kebahagiaan Sederhana yang Penuh Makna
Asmadi Pandapotan Siregar March 21, 2026 06:30 PM

Laporan Wartawan Magang Rindu Venisa Valensia

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pagi Hari Raya Idulfitri di Kelurahan Mantung, Kecamatan Belinyu, tidak pernah benar-benar sepi. Usai gema takbir mereda dan salat Idulfitri dilaksanakan di Masjid Nurul Iman Mantung, Sabtu (21/3/2026), suasana berganti menjadi hangat dengan pertemuan keluarga.

Sebagian warga lebih dulu berziarah, menundukkan kepala di pusara keluarga. Setelah itu, mereka pulang, berganti pakaian terbaik, berfoto bersama keluarga kecil, sebelum akhirnya bergerak ke satu titik yang samaya, yaitu rumah orang tua, rumah nenek, tempat cerita-cerita lama kembali hidup.

Di sebuah rumah di kawasan Jalan Nelayan Batu Dinding, Kelurahan Mantung, Kecamatan Belinyu, suasana itu terasa penuh. Ruangan dipadati keluarga yang duduk berdekatan. Obrolan mengalir tanpa jeda, sesekali diselingi tawa yang pecah begitu saja. Di sudut lain, anak-anak mulai berkumpul, saling melirik, menunggu momen yang sudah mereka tahu akan datang.

Tak lama, amplop putih dan hijau mulai dibagikan satu per satu.

Ada yang menerimanya dengan senyum lebar, ada juga yang tak sabar, langsung membuka sedikit bagian atasnya, sekadar memastikan isi di dalamnya. Mata mereka berbinar, seolah menemukan kebahagiaan dalam hal yang sederhana.

Ririn Zafara Amelia (16) mengaku momen itu memang selalu ia tunggu setiap Lebaran.

“Kalau Lebaran, yang paling ditunggu ya ini… kumpul keluarga sama THR,” katanya sambil tersenyum kecil. Dari pagi, ia sudah menerima beberapa amplop dari kakak, sepupu hingga bibinya.

Namun, uang itu tak langsung ia habiskan.

“Ditabung dulu saja. Nanti kalau sudah kepikiran mau beli apa, baru dipakai,” ujarnya ringan.

Di sisi lain ruangan, M. Faza Arzeano (13) tak kalah antusias. Meski pagi itu ia tidak ikut salat Id, kebahagiaannya tetap terasa saat berkumpul di rumah nenek.

“Tadi langsung ke rumah nenek, di situlah dibagiin. Senang, soalnya dapat dari banyak orang,” katanya, sambil sesekali melirik amplop di tangannya.

Di balik keceriaan anak-anak, ada kebiasaan yang terus dijaga oleh orang tua. Rindy Clarita (27) mengatakan, tradisi memberi THR bukan sekadar rutinitas tahunan.

“Biasanya saya kasih ke adik, ponakan, sampai orang tua. Sederhana saja, ini soal berbagi. Kita nggak pernah tahu, mungkin di rezeki kita ada bagian untuk orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan ini juga menjadi bagian dari kesepakatan dalam keluarga kecilnya, agar nilai berbagi tetap terjaga dari tahun ke tahun.

Nominal yang diberikan pun tak selalu besar, berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp50 ribu, namun cukup untuk menghadirkan senyum yang tulus di wajah anak-anak.

Menjelang siang, suasana rumah belum juga lengang. Beberapa keluarga mulai bersiap melanjutkan kunjungan ke rumah kerabat lainnya. Anak-anak kembali bersemangat, membawa amplop mereka, sesekali dihitung ulang, seolah memastikan kebahagiaan itu benar-benar ada di genggaman.

Di tengah tawa, cerita, dan langkah kecil dari satu rumah ke rumah lainnya, Lebaran di Mantung terasa sederhana, namun penuh makna. Bahwa di balik amplop kecil itu, tersimpan sesuatu yang lebih besar kebersamaan yang selalu kembali, setiap tahunnya. (Mg2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.