Iran dan Hari Kemenangan
Sudirman March 21, 2026 07:22 PM

Oleh: Muammar Bakry

Rektor UIM 

TRIBUN-TIMUR.COM - Sejak koalisi AS-Israel menyerang Iran, sejak itu pula perang berlangsung, dimulai pada 28 Februari 2026 dan terus berlanjut hingga hari raya kemenangan Ied Fitri 1447.

Bulan Ramadan, saat umat Islam tengah berpuasa, bagi Amerika dan sekutunya bukan sesuatu yang mesti dihormati.

Muslim Iran yang kebetulan mayoritas berpaham Syiah, juga berpuasa selama sebulan Ramadhan, sebagaimana mereka salat menghadap kiblat dan amaliyah lainnya.

Namun demikianlah Islam mengajarkan etika perang, tidak boleh menyerang siapapun, tapi jika diserang wajib membela diri.

Dalam sejarah perang dalam Islam, beberapa perang yang pernah terjadi di bulan Ramadhan termasuk perang yang amat dahsyat adalah perang Badar dan juga perang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Namun dari sekian perang yang pernah terjadi, khususnya di Bulan Ramadhan, perang Amerika-Iran saat ini, adalah perang yang terbesar karena melibatkan alat perang yang besar, mutakhir dan tercanggih, selain eskalasi yang semakin membesar di Kawasan Timur Tengah dan juga jatuhnya jumlah korban yang terus bertambah hingga ribuan.

Upaya Amerika dan sekutu terbesarnya mulai dari embargo yang sudah berlangsung puluhan tahun, memancing instabilitas dengan propaganda anti pemerintahan Iran, hingga konspirasi membenturkan Sunni-Syiah di Kawasan Timur Tengah, semua dinilai tidak berhasil menggulinkan rezim kepemimpinan teokrasi Republik Islam Iran.

Di tengah keputusasaan itulah, Amerika melakukan serangan militer bersenjata dengan mengerahkan pesawat tempur yang membom tempat-tempat vital termasuk kantor dan kediaman pemimpin tertinggi Iran.

Serangan Amerika berhasil menargetkan kediaman pemimpin tertinggi dan mengakibatkan wafatnya Ali Khamenei di usia 86 tahun dan beberapa keluarga serta pejabat teras yang bersamanya.

Boleh jadi, Amerika dan Israel mengira kondisinya sama dengan menggulingkan pemerintahan Saddam Husain di Irak, mengekseskusinya lalu dengan mudah mengambil alih negaranya.

Atau mungkin Amerika mengira sama dengan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro yang ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat dalam operasi militer di Caracas lalu politik pemerintahan dikuasai.

Praduga itu meleset jauh, perang yang mereka targetkan hanya tiga hari, lalu kematian Ali Khamenei sebagai entry point mengantar garakan rakyat untuk mengganti sistem pemerintahan itu terjadi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Apalagi Reza Pahlavi sebagai putra mahkota terakhir Iran yang diasingkan, tinggal di Amerika Serikat vokal menyerukan perubahan rezim, dan menanti untuk kembali berkuasa di Iran.

Ali Khemenei boleh tiada, tapi semangat perjuangannya sudah menjadi nafas rakyat Iran untuk membela agama dan negaranya.

Mati bagi mereka adalah kemuliaan dan bukan momok yang mengerikan dan menakutkan. Kematian bagi mereka sebagai syahid yang mengantar dirinya secara pintas menuju damainya alam keabadian.
 
Di saat hari kemenagan 1 Syawal dirayakan oleh umat Islam yang berpuasa, mereka berhasil melawan godaan setan yang tidak berhenti menggodanya, ternayata apa yang dirasakan oleh pejuang muslim Iran, demikian dahsyat dengan kesiapan mereka mempertaruhkan nyawanya di medan perang.

Tapi sayang seribu sayang, jika propaganda Syiah-Sunni terus dicuatkan lalu melemahkan semangat doa dalam melawan Israel yang sudah menjajah beberapa negara sekitarnya terutama Palestina dan Gaza yang mengalami penindasan dan genosida. 
 
Ketika umat Islam termasuk di Indonesia, dengan syahdu bertakbir Allohu Akbar, Allohu Akbar dengan microphone, pejuang Iran bertakbir dengan roket-roketnya.

Ketika umat Islam di Indonesia bertakbir dengan lanjutan “Shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wahazamal ahzaba wahdah” (benar janji Allah, menolong hambanya, menguatkan pasukannya, dan mengalahkan lawan-lawannya).

Ternyata kalimat ini dirasakan sekarang oleh pasukan dan rakyat Iran, sekalipun di Indonesia hanya sekedar dibaca. 

Hari kemenengan tidak akan ada nilai sama sekali, jika tidak ada rasa empati seperti yang akan dilakukan oleh Ketua PMI Jusuf kalla yang akan mengirim bantuan obat-obatan bagi Iran, atau minimal dengan doa dari pelantun-pelantun takbir kemenangan di hari kemenangan 1 Syawal 1447 H.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.