Air dan Gender 
Sudirman March 21, 2026 07:22 PM

Oleh: Muhammad Arsyad 

Guru Besar Fisika Ekosistem Karst FMIPA  UNM Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Sampai minggu ketiga Maret 2026 ini, curah hujan di Makassar masih setia mengunjungi warga dengan intensitas variatif, kadang sekedar say hello, atau  langsung ngegas.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, curah hujan ini cendrung berada pada klasifikasi deras melemah dan “genangan” air di Jalan Petta Rani juga hanya sekali-kali saja.

Walaupun Makassar atau Sulawesi Selatan versi BMKG pada bulan April 2026 sudah memasuki musim kemarau.

Malahan cendrung lebih panas dari pada tahun-tahun sebelumnya dan lebih panjang.

Tulisan ini sebagai bentuk peringatan hari air se Dunia 22 Maret. Setiap tanggal 22  Maret diperingati dan awalnya dideklarasikan pada Sidang Umum ke-47 PBB, tepatnya tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil.

World day for water adalah perayaan yang ditujukan sebagai usaha untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.

Tema tahun 2026 berfokus pada hubungan antara air dan kesetaraan gender, dengan kampanye utama "Where Water Flows, Equality Grows" (Di Mana Air Mengalir, Kesetaraan Tumbuh).

Tema ini oleh penulis angkat sebagai judul Air dan Gender. Kampanye ini menekankan peran krusial perempuan dan anak perempuan dalam solusi, kepemimpinan, dan pengelolaan krisis air global.

Isu ini menjadi fokus pada peran wanita dalam mencari solusi tentang air.

Tujuannya adalah mendorong pendekatan berbasis hak asasi manusia di mana peran dan kepemimpinan perempuan diakui dalam pengambilan keputusan terkait air.

Hal ini terus dikampanyekan yang diinisiasi oleh UN-Water, UNICEF, dan UN Women, kampanye ini menekankan bahwa partisipasi perempuan membuat layanan air lebih inklusif, berkelanjutan, dan efektif.

Sejatinya, hubungan antara air dan gender sangat mendalam karena peran sosial, kebutuhan biologis, dan ketimpangan akses yang ada di masyarakat aktor utamanya adalah perempuan.

Di banyak belahan dunia, perempuan dan anak perempuan memikul tanggung jawab utama untuk mengambil air yang dipergunakan oleh keluarga.

Artinya, secara kolektif, perempuan menghabiskan sekitar 200 hingga 250 juta jam setiap hari hanya untuk mengambil air.

Sehingga mereka kehilangan peluang untuk memperoleh hak yang lain, sehingga waktu yang habis di perjalanan merampas kesempatan mereka.

Angka 200 hingga 250 juta jam setiap hari bukanlah angka sembarangan, melainkan hasil estimasi global yang dirilis oleh lembaga PBB seperti UNICEF (Badan Dunia yang mengurusi Kebudayaan, Anak dan Pendidikan) dan  WHO (Badan Dunia yang mengurusi Kesehatan).  

Perhitungannya didasarkan pada akumulasi waktu yang dihabiskan oleh jutaan perempuan di seluruh dunia yang tidak memiliki akses air di dalam rumah mereka.

Sekitar 1,8 miliar orang secara global masih hidup dalam rumah tangga tanpa persediaan air di dalam tempat tinggal mereka.

Data menunjukkan bahwa dalam 7 dari 10 rumah tangga tersebut, perempuan dan anak perempuan berusia di atas 15 tahun memikul tanggung jawab utama untuk mengambil air.

Ketimpangan ini terlihat jelas dalam data perbandingan. Di negara-negara dengan data yang tersedia, perempuan menghabiskan waktu tiga kali lebih banyak daripada laki-laki untuk mengambil air.

Hal ini menciptakan kondisi yang disebut sebagai "kemiskinan waktu" (time poverty), di mana perempuan kehilangan kesempatan produktif karena beban domestik yang berat. 

Sejatinya, tema Air dan Gender bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya akses air bersih dan sanitasi yang memadai untuk meningkatkan kesetaraan gender dan memberdayakan wanita.

Istilah ini  muncul sebagai hasil dari kesadaran bahwa ada hubungan yang erat antara akses air bersih dan sanitasi dengan kesetaraan gender.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi munculnya istilah ini adalah:

(1) peran perempuan dalam pengelolaan air.

(2)  ketimpangan akses air,

(3) dampak perubahan iklim.

Perubahan iklim dapat memperburuk ketersediaan air bersih karena dapat mempengaruhi perempuan dan anak perempuan lebih parah karena peran mereka dalam pengelolaan air.

Perubahan iklim telah nyata memberikan dampak signifikan bagi kehidupan warga di seluruh dunia.

Artinya, istilah "Air dan Gender" bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya akses air bersih dan sanitasi yang memadai untuk meningkatkan kesetaraan gender dan memberdayakan wanita. 

Dalam konteks lokal di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar, hubungan antara air dan gender termanifestasi dalam krisis air bersih yang telah berlangsung selama puluhan tahun di beberapa wilayah.  

Masalah nyata air dan gender di Makassar dapat dikemukakan, diantaranya:

1. Beban Ganda Perempuan di Wilayah Utara (Kecamatan Tallo)

Wilayah utara Makassar, seperti Kecamatan Tallo, merupakan salah satu titik terparah krisis air bersih yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.

Perjuangan perempuan memunculkan gerakan komunitas seperti "Perempuan Pejuang Air Bersih Tallo" yang melakukan audiensi dengan pemerintah kota untuk menuntut hak atas air.

Mereka melakukan aktivitas fisik: Perempuan di wilayah pesisir Makassar terpaksa mencari air bersih menggunakan gerobak, memikul jeriken, atau harus bolak-balik ke sumber air yang jauh setiap hari. 

2. Dampak Ekonomi yang Tidak Proporsional

Krisis air di Makassar menciptakan ketimpangan ekonomi bagi ibu rumah tangga, terutama dengan berkenaan dengan biaya tinggi.

Atas kebijakan pemerintah kota, PDAM memberikan pemasangan gratis bagi warga, namun biaya setiap bulan masih dibebankan kepada warga: Warga di wilayah krisis harus membeli air dari pedagang keliling dengan harga yang jauh lebih mahal daripada tarif resmi PDAM.

Warga miskin memperoleh harga air sejatinya lebih besar daripada warga yang berkecukupan secara ekonomi.

Hal ini akan memberikan waktu lebih besar untuk mengurus air, sehingga melahirkan apa yang dikenal dengan kemiskinan waktu.

Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk usaha produktif atau mengurus diri sendiri habis untuk mengantre air, terutama saat debit air di Bendungan Lekopaccing menyusut selama musim kemarau.

Jika prediksi BMKG untuk tahun 2026 menjadi kenyataan, maka kaum wanita menjadi aktor pertama yang merasakan dampaknya.

3. Penurunan Kualitas Hidup dan Kesehatan

Sebelah utara kota, adalah kawasan yang berbatasan langsung dengan laut. Perempuan menghadapi dampak pengiring dari krisis air yang terjadi terutama masalah sanitasi.

Di wilayah dengan intrusi air laut dan penurunan muka tanah (land subsidence), perempuan menghadapi kesulitan dalam menjaga kebersihan reproduksi dan manajemen menstruasi (MKM) karena air yang tersedia seringkali payau atau keruh.

Akibatnya risiko penyakit menjadi kendala utama. Ini dirasakan dengan beban mengurus anggota keluarga yang sakit akibat sanitasi buruk (seperti diare atau penyakit kulit) secara sosial lebih banyak dibebankan kepada perempuan di Makassar. 

4. Partisipasi dalam Pengambilan Keputusan

Meskipun perempuan adalah pihak yang paling merasakan dampak buruk krisis air, suara mereka sering kali terpinggirkan dalam perencanaan infrastruktur perkotaan di Makassar.

Walhi Sulawesi Selatan dalam riset yang dilakukan, dengan laporan risetnya tentang Fakta Ekologi: Krisis Air, Perempuan, dan Kota menyoroti bahwa kebijakan pengelolaan air di Makassar masih kurang sensitif gender dan belum memberikan solusi jangka panjang bagi perempuan di wilayah pesisir.

Penyelesaian yang diberikan bersifat kuratif dan tidak berkelanjutan. Meskipun, Pemerintah Kota Makassar, melalui PDAM, telah meluncurkan berbagai inisiatif strategis untuk mengatasi krisis air yang telah berlangsung puluhan tahun, terutama di wilayah utara dan timur kota.

Kegiatan seperti Stabilitasi Distribusi Utara dengan menyelesaikan koneksi jaringan pipa distribusi utama di Taman Segitiga Pa’baeng-Baeng pada Agustus 2025 untuk menstabilkan tekanan air ke arah utara kota.

Solusi Wilayah Pesisir (ARSINUM dengan peresmian sistem SPAM-ARSINUM (Air Siap Minum) pada Desember 2025 sebagai solusi khusus bagi masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan yang sulit dijangkau pipa konvensional.

Kegiatan lain berupa Proyek Strategis dan Rencana Masa Depan (2026 dan seterusnya), masih ditunggu keberlanjutannya. 

Penyelesaian masalah air dan keterkaitannya dengan gender memang disadari tidak semudah membalikkan tangan.

Kegiatan yang diberikan hendaknya disertai dengan sosialisasi berupa edukasi kepada warga yang terdampak.

Kegiatan yang sifatnya simultan dan tanpa terencana dengan baik, hendaknya dihindari.

Partisipasi warga adalah syarat utama sebagai jaminan keberlangsungan tersedianya air untuk warga.

Kebutuhan air setiap tahun terus meningkat, sehingga kerja sama antar lini sangat diperlukan.

Masalah air memang menjadi masalah utama bagi kota besar, bukan hanya di Makassar. 

Namun, kewajiban Pemerintah Kota sebagai pemegang amanah untuk mensejahterakan warganya adalah janji pada setiap kampanye Pilkada. 

Untuk mengoptimalkan peran gender dalam mengatasi krisis air, pemerintah bisa melakukan beberapa hal, seperti:

(1) meningkatkan akses air bersih, memastikan akses air bersih yang memadai bagi semua masyarakat, terutama bagi perempuan dan anak perempuan yang seringkali bertanggung jawab untuk mengumpulkan air;

(2) memberikan pendidikan dan pelatihan tentang pengelolaan air bersih dan sanitasi kepada perempuan dan anak Perempuan;

(3) melibatkan perempuan dalam partisipasi dalam pengambilan keputusan tentang pengelolaan air dan sanitasi; (4) meningkatkan kesadaran tentang pentingnya peran perempuan dalam pengelolaan air dan sanitasi; dan tentunya (4) dukungan infrastruktur air bersih dan sanitasi yang memadai, terutama di daerah yang sulit dijangkau. 

Pelatihan dan Pendidikan yang dapat diberikan kepada perempau, diantaranya:

(1)  pelatihan pengelolaan air bersih  tentang cara mengolah air bersih, pemeliharaan sumber air, dan distribusi air.

(2) pendidikan sanitasi yakni cara menjaga kebersihan, dan penggunaan fasilitas sanitasi yang benar.

(3) pelatihan pengelolaan limbah, bagaimana  cara mengelola limbah cair dan padat, serta cara mengurangi limbah.

(4) pendidikan kesehatan, artinya perlu terus digaungkan tentang hubungan antara air bersih, sanitasi, dan kesehatan.

(5) pelatihan kewirausahaan, yakni  pelatihan tentang cara memulai usaha pengelolaan air bersih dan sanitasi, serta cara meningkatkan pendapatan.

Hal-hal ini dapat dilakukan baik dalam lingkungan Pendidikan formal, non formal, dan pendidikan berbasis warga masyarakat.

Dengan memberikan pendidikan dan pelatihan yang tepat, perempuan dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola air bersih dan sanitasi, serta meningkatkan kualitas hidup mereka.

Mudah-mudahan dalam memperingati hari Air se Dunia tahun 2026 ini memberikan insight bagi kita semua untuk senantiasa bergerak dan memberikan akses yang lebih luas kepada perempuan untuk dapat memenuhi kebutuhan air bagi keluarganya dan memotong kemiskinan waktu yang ternyata sangat besar bagi kehidupan sehari-hari.

Peringatan Air se Dunia tahun 2026 serangkaian dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 H, perkenankan juga penulis untuk mengucapkan Minal Aidin wal Faidzin kepada tribunner yang budiman,  Takabalallahi Minna wa Minkum.- 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.