Fadiah Mahmud
Warga Perumahan Taman Dataran Indah
Melaporkan dari Antang, Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Sabtu pagi, 21 Maret 2026 (1 Syawal 1447 H), langit seolah memberikan restu terbaiknya. Cahaya mentari yang hangat menyambut langkah warga Perumahan Taman Dataran Indah yang berbondong-bondong memadati halaman kompleks. Dengan beralaskan sajadah dan hati yang bersih, warga menunaikan shalat Idul Fitri dalam suasana yang khidmat dan penuh kemenangan.
Gema takbir, "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilham,"bersahutan memecah keheningan pagi, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan.
Sebelum pelaksanaan shalat dimulai, suasana hangat dan penuh apresiasi mewarnai lapangan saat Ketua Dewan Kehormatan Masjid Amirah Al Aksa, Prof. Nukhrawi Nawir, memberikan sambutannya.
Prof Nukhrawi Nawir menyampaikan bahwa hari yang fitri ini dimaknai sebagai hari kemenangan bagi umat Muslim.
Namun, Prof Nukhrawi menekankan bahwa esensi kemenangan yang sejati adalah ketika kita mampu mempertahankan dan mengimplementasikan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya kejujuran, kesabaran, serta kepedulian yang mendalam terhadap sesama.
Pada momen ini juga, Prof Nukhrawi Nawir menyampaikan ajakan kepada seluruh jamaah untuk terus menjaga tali ukhuwah Islamiyah dan memelihara semangat gotong royong serta kerja sama untuk memakmurkan masjid yang telah menjadi ciri khas warga Taman Dataran Indah.
Selain itu, beliau menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada warga yang telah memercayakan penyaluran zakat fitrah mereka melalui Masjid Amirah Al-aksa.
Dalam laporannya menyampaikan bahwa seluruh zakat telah didistribusikan secara tepat sasaran kepada mereka yang berwenang menerima (asnaf). Secara khusus, beliau memberikan apresiasi tinggi atas kepedulian warga sehingga tahun ini masjid dapat menyantuni 11 orang mualaf di sekitar lingkungan tersebut.
"Zakat yang Bapak dan Ibu berikan bukan sekadar kewajiban, tapi adalah jembatan kasih bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan," ujar Prof Nukhrawi Nawir.
Memasuki inti acara, Khatib Ustaz Salahuddin Rahman Al Ayyubi, S.Pdi, menyampaikan pesan yang mendalam mengenai alasan mendasar mengapa seorang anak wajib berbakti kepada orang tuanya.
Beliau mengaitkan rukun shalat yang berjumlah 13 dengan hakikat penciptaan batang tubuh manusia. "Ketahuilah bahwa tubuh yang kita bawa bersujud hari ini adalah pinjaman yang tersusun dari rukun 13," ujar Ustaz Salahuddin di hadapan jamaah.
Beliau membedah bahwa eksistensi fisik manusia merupakan perpaduan harmonis antara pemberian langsung dari Allah SWT dan unsur-unsur yang diwariskan oleh kedua orang tua.
Allah SWT menitipkan lima unsur ilahiah yang menjadi inti kehidupan, yakni panca indera yang meliputi pendengaran, penglihatan, penciuman, dan perasa, serta puncaknya adalah hembusan nyawa atau ruh yang menghidupkan raga.
Seiring dengan anugerah ruhani tersebut, dari sosok Bapak, manusia menerima pembentuk struktur tubuh, yakni tulang, sumsum, urat, dan kuku. Sementara dari Ibu, mengalir unsur yang membentuk kelembutan dan sistem saraf, yakni darah, daging, kulit, dan otak.
"Setiap kali kita melakukan rukun shalat yang berjumlah 13, sebenarnya kita sedang mengembalikan seluruh unsur pemberian Allah dan orang tua itu untuk menyembah Sang Pencipata," tambahnya.
Dalam suasana yang kian hening, Ustaz Salahuddin melontarkan pertanyaan reflektif yang menggetarkan jiwa: "Kenapa Allah belum mengampuni dosa-dosa kita, padahal Ramadan ini adalah bulan ampunan?" mungkin karena kita lupa dengan orang tua kita-mengabaikannya.
Beliau menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bersimpuh di hadapan Allah SWT. Di penghujung momen suci ini, beliau mengajak jamaah untuk mengakui segala kesalahan dengan tulus, karena setiap tetes air mata tobat akan menjadi saksi yang meringankan di hari kemudian.
Beliau juga mengingatkan bahwa selepas Ramadan meninggalkan kita, ujian sesungguhnya adalah bagaimana kita memperlakukan orang tua yang paling berjasa dalam hidup.
"Beruntunglah bagi kalian yang masih memiliki orang tua yang hidup. Sapa mereka, muliakan mereka. Karena keridaan Allah terletak pada keridaan mereka," pesan Ustaz dengan suara bergetar. Kalimat tersebut seketika memecah kesunyian; tampak banyak jamaah ibu-ibu yang terisak dan mengusap air mata mereka dengan ujung mukena, terhanyut dalam haru yang mendalam.
Momen IdulFitri 1447 H tahun ini terasa jauh lebih bermakna bagi warga. Banyak jamaah yang tertunduk haru saat menyadari bahwa setiap sujud mereka melibatkan partisipasi biologis dari ayah dan ibu.
Bagi mereka yang telah mengkhatamkan Al-Qur'an dan menjaga shalat tarawih sepanjang Ramadan, pesan ini menjadi penguat tekad untuk mempersembahkan pahala ibadah tersebut sebagai hadiah bagi orang tua. Idul Fitri di Taman Dataran Indah akhirnya ditutup dengan untaian doa yang menggetarkan Arsy.
Dalam doanya, Ustaz membimbing jamaah untuk memohon ampunan secara menyeluruh, menyebutkan satu per satu organ tubuh yang dipinjamkan Allah, mulai dari mata, telinga, lisan, kemaluan hingga kaki dan tangan, agar disucikan dari segala khilaf dan dosa yang pernah diperbuat, serta berharap agar nilai-nilai bakti ini terus terjaga.
Kebersamaan pagi itu kian lengkap dengan adanya jamuan hangat yang disediakan oleh keluarga Ibu Hj. Andi Chandra. Beliau menjamu khatib dan sebagian jamaah mampir membersamai ustadz. Ini sebagai bentuk rasa syukur sekaligus melengkapi indahnya jalinan silaturahmi antarwarga di kompleks Taman Dataran Indah. Kemenangan ini adalah sebuah kepulangan menuju hakikat diri: Bahwa kita ada karena cinta orang tua, dan kita hidup sepenuhnya karena nafas yang dipinjamkan oleh Allah SWT.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal ya Kariim. Mohon maaf lahir dan batin.(*)